Beras premium kemasan lima kilogram (kg) langka di sejumlah pasar Palembang, Sumatera Selatan. Tak hanya di pasar tradisional, kondisi serupa juga terlihat di sejumlah ritel modern yang mulai membatasi pembelian konsumen.
Di pasar tradisional seperti pasar 10 Ulu, beras kemasan lima kg dari sejumlah merek premium sulit ditemukan. Pedagang lebih banyak menyediakan beras ukuran 20 Kg dan dalam ukuran kiloan untuk memenuhi permintaan pembeli.
"Sudah hampir sekitar dua bulanan ini beras lima kg langka. Penyebab langka ini karena harga tidak sesuai dan harga plastik kan naik sehingga produsen berhenti memproduksi beras lima kg,"kata Mansyur,salah satu pedangan manisan di pasar 10 Ulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di ritel modern, stok yang menipis membuat pembelian mulai dibatasi. Kondisi ini terlihat di salah satu gerai SuperIndo kawasan Sukarami Palembang.
Seorang pegawai mengatakan konsumen hanya diperbolehkan membeli maksimal satu kemasan beras per hari. Kebijakan tersebut diterapkan karena stok yang tersedia terbatas.
"Stoknya sedikit, makanya pembelian dibatasi," ujarnya, Selasa (1/9/2026).
Kondisi lebih kosong terlihat di salah satu gerai minimarket kawasan KM 7 Palembang. Beras lima Kg sudah lama tidak mendapat pasokan.
"Memang stok beras sudah lama kosong, sampai sekarang belum diisi lagi," kata pegawai gerai tersebut.
Keterbatasan pasokan juga dirasakan Diamond Palembang. Duty Manager Diamond Palembang, Suminto, mengatakan pasokan beras kemasan lima kg yang biasanya masuk dalam jumlah besar kini turun drastis.
Beras Raja yang biasanya bisa dipasok sekitar 500 karung kemasan lima kg, kini jumlahnya kurang dari 50 karung jika mendapat bagian dari pemasok.
"Biasanya stok beras kemasan lima kg sekitar 4 ton per bulan. Sekarang hanya sekitar 1 ton. Beberapa hari ini malah stop total, tidak ada pengiriman dari supplier," kata Suminto.
Beras lokal kemasan lima kg seperti Raja, Selancar dan Topi Koki juga disebut sudah tidak tersedia di gerai tersebut.
Untuk menyiasati kekosongan, Diamond mendatangkan beras kemasan lima kg dari Jakarta, yakni merek Tiga Putri dan Dua Burung. Harganya sekitar Rp 100 ribu per kemasan.
Harga beras kemasan lima kg yang sebelumnya sekitar Rp 76.800 juga ikut naik menjadi Rp 80 ribu lebih per kemasan.
Kondisi tersebut membuat sebagian konsumen mengubah cara membeli beras. Warga yang biasanya membeli satu kemasan 5 kg kini memilih membeli beras secara kiloan.
Salah seorang warga, Teddy, mengatakan membeli beras kiloan menjadi pilihan karena lebih mudah ditemukan.
"Kalau kondisi seperti ini mau tidak mau kita beli beras per kilogram saja dengan kualitas yang sama. Misalnya Selancar, sekarang beli yang kiloan," ujarnya.
Menurut Teddy, beras lima kg ini sudah hilang sejak dua bulan ini. Jadi untuk menyiasati membeli beras lima kg ini beli kiloan.
"Saya biasa beli beras merek patin, beras merek Patin ini juga langka jadi saya ganti raja ataupun topi koki," ungkapnya.
Sementara itu, Kabid Stabilisasi Perdagangan dan Sarana Distribusi Dinas Perdagangan Kota Palembang Elsa Noviani mengatakan keterbatasan beras premium kemasan lima kg memang terjadi di pasar tradisional maupun ritel modern.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh stok beras di Palembang mengalami kelangkaan. Beras SPHP masih tersedia di pasaran dan masyarakat juga dapat memilih beras kemasan lain.
"Untuk beras premium merek Raja dan Topi Koki kemasan lima kg dan 10 kg di pasar ritel dan pasar tradisional di Palembang memang sedang langka," kata Elsa.
Menurut Elsa, salah satu penyebabnya adalah meningkatnya harga gabah dan biaya kemasan plastik yang membuat biaya produksi beras premium ikut naik.
Di tengah kondisi tersebut, Disdag Palembang terus melakukan pemantauan harga dan ketersediaan beras di sejumlah pasar tradisional. Monitoring dilakukan antara lain di Pasar KM 5, Lemabang, Soak Bato, 10 Ulu dan 16 Ilir.
Elsa mengingatkan pedagang tidak memanfaatkan kondisi terbatasnya pasokan untuk menaikkan harga secara tidak wajar ataupun melakukan penimbunan.
Untuk beras SPHP sendiri, pasokan masih tersedia. Harga di ritel berada sekitar Rp 62.500 untuk kemasan lima kg.
Dengan kondisi tersebut, kelangkaan yang terjadi saat ini lebih spesifik pada beras premium kemasan tertentu, bukan seluruh jenis beras. Pemerintah daerah masih memantau pergerakan stok dan harga untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
