Pemerintah Kota Palembang mulai mengirimkan sampah dari sejumlah wilayah ke fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Pengoperasian perdana sebagai tahapan dari commisioning untuk menjadi langkah baru Pemkot Palembang dalam mengelola sampah perkotaan dengan teknologi pengolahan menjadi energi.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa meninjau langsung proses pengiriman sampah ke fasilitas tersebut. Dia menyebut sekitar 960 ton sampah per hari akan diproyeksikan masuk ke PSEL.
"Hari ini merupakan hari perdana sampah dari beberapa lokasi masuk ke PSEL. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sekitar 960 ton sampah per hari yang akan masuk, tahapan commisioning untuk menjadi langkah baru Pemkot Palembang dalam mengelola sampah perkotaan dengan teknologi pengolahan menjadi energi," kata Ratu Dewa saat meninjau PSEL, Selasa (1/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, fasilitas tersebut memiliki posisi penting dalam upaya pemerintah mengatasi persoalan sampah di Palembang. PSEL juga disebut sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi salah satu proyek percontohan pengelolaan sampah di Indonesia.
"Ini merupakan proyek strategis nasional dan Palembang menjadi salah satu percontohan. Kita berharap pelaksanaannya berjalan baik dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," ujarnya.
Dewa mengungkapkan sampah yang tiba di fasilitas PSEL tidak langsung masuk ke proses pembakaran. Material terlebih dahulu menjalani proses persiapan, termasuk fermentasi selama kurang lebih lima hingga tujuh hari.
Setelah melalui tahapan tersebut, sampah diproses lebih lanjut hingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi listrik.
"Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mengubah sebagian persoalan sampah perkotaan menjadi sumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan konvensional," ungkapnya.
Pemkot Palembang juga menyiapkan agenda lanjutan terkait pengoperasian PSEL. Pada 10 September 2026 dijadwalkan ada kegiatan yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Sementara peresmian fasilitas PSEL ditargetkan pada Desember 2026. Agenda tersebut direncanakan dihadiri dan diresmikan langsung oleh Presiden RI.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain mengatakan pengangkutan sampah menuju PSEL mencakup wilayah yang luas. Sampah dikumpulkan dari lebih dari 400 tempat penampungan sementara (TPS).
Dalam sehari, timbulan sampah di Kota Palembang diperkirakan mencapai sekitar 1.260 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 960-1.000 ton diarahkan ke bunker PSEL.
"Pengangkutan mencakup seluruh wilayah. Kami terus mengatur ritase armada supaya distribusi sampah ke PSEL berjalan optimal," kata Mustain.
Untuk menunjang pengangkutan, Pemkot Palembang mengoperasikan 141 armada dari total 160 armada yang tersedia.
Pemkot juga berencana menambah armada melalui Anggaran Perubahan. Penambahan kendaraan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan pengangkutan sampah dan mengurangi beban armada yang sudah beroperasi.
Pemkot Palembang mengingatkan beroperasinya PSEL bukan berarti persoalan sampah dapat diselesaikan sepenuhnya melalui fasilitas tersebut. Masyarakat tetap diminta mengurangi sampah dari sumbernya dan melakukan pemilahan sejak dari rumah.
Sampah yang masih mempunyai nilai guna dapat digunakan kembali atau dimanfaatkan melalui sistem daur ulang. Sementara sampah yang memang harus diolah dapat disalurkan ke fasilitas pengelolaan yang tersedia.
Upaya tersebut dinilai penting untuk mendukung konsep ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, sampah tidak hanya dianggap sebagai limbah, tetapi juga dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat.
Dengan dimulainya pengiriman sampah ke PSEL, Pemkot Palembang berharap sistem pengelolaan sampah kota menjadi lebih terintegrasi dan modern, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.
