OMC Digelar, Hotspot Karhutla Lampung Mulai Menurun

Lampung

OMC Digelar, Hotspot Karhutla Lampung Mulai Menurun

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Minggu, 30 Agu 2026 10:00 WIB
Pemprov Lampung mulai menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.
Pemprov Lampung mulai menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan. (Foto: Tommy Saputra)
Lampung -

Jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Lampung mulai menurun saat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih berlangsung. Hingga Sabtu (29/8/2026) pagi, BMKG mencatat ada 49 hotspot yang tersebar di tujuh kabupaten.

Data BMKG menunjukkan hotspot terpantau pada periode pukul 00.00-10.11 WIB. Sebanyak 19 titik berada di Way Kanan, sedangkan Lampung Utara, Mesuji, dan Tulang Bawang masing-masing terpantau tujuh titik.

Kemudian empat titik terdeteksi di Lampung Selatan, tiga titik di Tulang Bawang Barat, dan dua titik di Lampung Tengah. Sementara Lampung Timur yang sebelumnya menjadi salah satu wilayah perhatian dalam penanganan karhutla tidak terdeteksi memiliki hotspot dalam pemantauan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh hotspot yang terpantau memiliki tingkat kepercayaan kategori sedang atau medium. Tidak ada hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah maupun tinggi.

Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, mengatakan OMC di Lampung berlangsung selama 26-30 Agustus 2026. Penyemaian awan difokuskan pada wilayah yang memiliki potensi karhutla, termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

ADVERTISEMENT

Hingga Sabtu, pesawat OMC telah melakukan lima kali penerbangan. Dalam salah satu penerbangan, pesawat membawa sekitar 800 kilogram bahan semai berupa garam.

"Pantauan menunjukkan jumlah hotspot di wilayah Lampung Timur mulai berkurang. Selain dari citra satelit, hujan juga terpantau turun di sejumlah wilayah yang menjadi area penyemaian awan," kata Rudi.

Menurut Rudi, penurunan hotspot tersebut menjadi salah satu perkembangan positif dalam pelaksanaan operasi. Namun, kondisi tersebut masih terus dipantau karena OMC bergantung pada pertumbuhan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

Rudi menjelaskan OMC dan water bombing merupakan dua metode berbeda yang dilakukan secara bersamaan dalam penanganan karhutla.

OMC bertujuan memicu hujan dengan menyemai awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Sementara water bombing dilakukan menggunakan helikopter dengan menjatuhkan air langsung ke lokasi kebakaran untuk membantu proses pemadaman dan pendinginan.

"Untuk hotspot dari citra satelit sudah mulai berkurang. Ini masih dalam proses. Kalau water bombing per hari ini masih berjalan, saat ada proses pemadaman dan juga pendinginan," ujarnya.

Meski OMC dijadwalkan berlangsung hingga 30 Agustus, penerbangan pesawat tidak dapat dilakukan setiap saat. Pesawat baru bisa diterbangkan ketika terdapat pertumbuhan awan yang memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.

Rudi mengatakan pertumbuhan awan di sekitar Lampung, termasuk wilayah perairan sekitar Lampung Timur, masih minim.

"Pertumbuhan awan di sekitar Provinsi Lampung ataupun di laut sekitar Lampung Timur sangat minim sekali, sehingga sampai sore hari ini pesawat belum terbang," jelasnya.

Karena itu, pelaksanaan OMC harus menyesuaikan dengan kondisi atmosfer. Pesawat akan kembali diterbangkan ketika terdapat awan yang dinilai potensial untuk disemai.

"Ya, jadi harus menunggu ada awan yang tumbuh," imbuh Rudi.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads