OMC di Lampung Terkendala Minim Awan, BMKG Sasar Area Hotspot

Lampung

OMC di Lampung Terkendala Minim Awan, BMKG Sasar Area Hotspot

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Sabtu, 29 Agu 2026 10:00 WIB
Pemprov Lampung mulai menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.
Pemprov Lampung mulai menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan. (Foto: Tommy Saputra)
Lampung -

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Lampung belum berjalan maksimal karena pertumbuhan awan hujan masih terbatas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengarahkan penyemaian ke awan potensial yang berada di sekitar titik panas atau hotspot.

Prakirawan BMKG Iqbal mengatakan kondisi atmosfer di Lampung saat ini membuat tim OMC harus selektif menentukan awan yang akan disemai.

"Memang dari kondisi sirkulasi saat ini, sangat sulit mencari awan yang berpotensi menghasilkan hujan," katanya, Jumat (28/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski awan hujan terbatas, penyemaian tetap dilakukan ketika ditemukan awan yang dinilai cukup potensial. Terlebih jika awan tersebut berada di wilayah yang terdeteksi hotspot.

"Selagi terdapat potensi awan yang cukup bagus dan daerah tersebut ada hotspot, semaksimal mungkin disemai agar membasahi daerah tersebut," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Pada sorti pertama, pesawat OMC menyasar wilayah Lampung Timur dan sebagian kawasan yang berbatasan dengan Lampung Selatan. Sasaran ditentukan berdasarkan hasil pemantauan citra satelit BMKG terhadap perkembangan awan dan keberadaan hotspot.

BMKG selanjutnya masih memantau pertumbuhan awan untuk menentukan lokasi penyemaian pada sorti berikutnya. Wilayah Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Tengah, dan Lampung Utara termasuk yang menjadi perhatian.

Iqbal menegaskan lokasi kekeringan tidak otomatis menjadi sasaran penyemaian. Faktor utama lainnya adalah keberadaan awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.

"Dengan kondisi ini, operasi tidak hanya mempertimbangkan lokasi yang mengalami kekeringan, tetapi juga peluang terbentuknya awan yang cukup potensial untuk menghasilkan hujan," jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan OMC akan dimaksimalkan hingga 30 Agustus 2026. Operasi tersebut ditujukan untuk membantu mengatasi dampak kekeringan sekaligus mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Rudy, hujan hasil OMC diharapkan dapat membantu menambah ketersediaan air di sejumlah wilayah Lampung. Salah satunya untuk mengisi waduk yang mulai mengalami penurunan debit air.

"Kita bisa memaksimalkan ikhtiar kita ini untuk meningkatkan tutupan air di wilayah Lampung, terutama di waduk-waduk yang memang ada beberapa laporan sudah mengalami kekeringan dan daerah-daerah pertanian yang menjadi lumbung pangan," kata Rudy.

Selain untuk sumber air, pelaksanaan OMC juga diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang rawan terbakar.

Penanganan hotspot tidak hanya dilakukan melalui OMC. Pemerintah Provinsi Lampung juga tetap menjalankan operasi water bombing untuk memadamkan titik api yang sudah muncul.

Dua pesawat disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla. Pesawat tersebut digunakan untuk misi pemadaman dari udara sekaligus patroli di wilayah yang rawan kebakaran.

Sebelumnya, operasi water bombing telah dilakukan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Penyiraman dari udara menyasar lokasi yang terdeteksi memiliki hotspot untuk membantu pemadaman dan mencegah api meluas.

Rudy mengatakan OMC dan water bombing dilakukan secara bersamaan sesuai kondisi di lapangan.

"Kebijakan ini diharapkan memberikan manfaat langsung berupa berkurangnya ancaman kebakaran, terjaganya sumber air, serta tersedianya pasokan air bagi lahan pertanian," ujarnya.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads