BPBD Sumsel Sebut Asap Karhutla OKI-Muba Mengarah ke Palembang dan Jambi

Sumatera Selatan

BPBD Sumsel Sebut Asap Karhutla OKI-Muba Mengarah ke Palembang dan Jambi

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Rabu, 26 Agu 2026 16:00 WIB
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti wilayah Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (11/8/2026). Kepulan asap terlihat menutupi sejumlah kawasan hingga membuat langit tampak memutih.
Foto: Ilustrasi asap karena karhutla di Sumsel (REUTERS/Abriansyah Liberto)
Palembang -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi salah satu penyumbang asap yang masuk ke wilayah Kota Palembang. Pergerakan angin membuat asap dari sejumlah titik kebakaran di OKI terbawa hingga ke kawasan perkotaan.

"Kalau berdasarkan arah angin, asap kita banyak berasal dari OKI. Dari Cengal, Tulung Selapan, Pangkalan Lampam. Asap akibat kebakaran di sana yang dibawa angin itulah yang sampai ke Palembang," ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana.

Menurutnya, wilayah-wilayah karhutla di OKI masih menjadi perhatian satgas karhutla. Upaya pemadaman di sejumlah titik daerah itu terus dilakukan, agar karhutla semakin tidak meluas hingga membuat asap semakin pekat dan membahayakan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan Palembang ini dataran rendah, apa yang disampaikan Pak Gubernur kemarin benar. Bahwa Palembang ini dataran rendah, sehingga terbawa angin asap ini masuk ke Palembang," katanya.

ADVERTISEMENT

Sementara asap yang masuk ke wilayah Jambi, Iqbal memastikan asap bukan berasal dari karhutla di OKI. Menurutnya, asap ke provinsi tetangga itu berasal dari Banyuasin dan Musi Banyuasin.

"Iya (asap dari Sumsel masuk ke Jambi). Tapi, kalau ke Jambi lebih dari asap karhutla di Muba dan Banyuasin. Itu yang biasanya angin ke Jambi dari sana," ungkapnya.

Menurutnya, kekeringan ekstrem di puncak musim kemarau ini membuat penanganan dan pemadaman karhutla terkendala di wilayah Sumsel. Beberapa lokasi pemadaman mengalami kesulitan sumber air.

"Penanganan kita sebenarnya sudah bagus, cuma karena kekeringannya ekstrem. Bukan cuma di Sumsel, di daerah lain, jangankan di Indonesia, di luar negeri kalau kita lihat kebakaran juga dimana-mana. Amerika dan segala macam itu. Mereka teknologi maju, tapi ketika kebakaran tetap terbakar. Tapi, kita tetap berusaha," katanya.

"Kalau melihat tren story dari 2015, penanganan kita sudah alhamdulillah. Cuma El Nino yang biasanya siklus 4 tahun, ini lebih cepat. Biasanya September panas dan eskalasi naik, tapi tahun ini sudah mulai di Juli," imbuhnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads