Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, terus mendorong penerapan konsep smart city untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi daerah. Salah satu langkah yang kini dilakukan adalah mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan bernilai ekonomi.
Bupati OKU Teddy Meilwansyah mengatakan OKU menjadi salah satu daerah di Sumatera Selatan yang mendapat pendampingan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam program Gerakan Menuju Smart City.
"Gerakan menuju 100 Smart City ini merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Presiden," katanya kepada wartawan, Selasa (25/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program tersebut bertujuan membimbing pemerintah kabupaten/kota dalam menyusun Masterplan Smart City. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat semakin maksimal, baik untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik maupun mengakselerasikan potensi yang dimiliki setiap daerah.
OKU menjadi salah satu dari tiga kabupaten di Sumatera Selatan yang masuk dalam pilot project Gerakan Menuju Smart City bersama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin.
Selain itu, OKU juga termasuk dalam tiga kabupaten di Sumatera Selatan dan 62 kabupaten/kota di Indonesia yang bergabung dalam Pilot Project Indonesia Digital Service Living Lab.
Teddy menjelaskan program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem yang komprehensif dalam penerapan smart city. Program itu digagas Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PAN-RB, dan Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk mendorong peningkatan Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
"Konsep kota cerdas tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi digital. Penerapannya juga harus menyentuh berbagai persoalan masyarakat, termasuk pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan,"katanya.
Salah satu inovasi yang tengah didorong Pemkab OKU adalah pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Baru-baru ini, Teddy mengajak para camat, lurah hingga ketua RT untuk melihat langsung sistem pengelolaan sampah di Mangkuyudan Jogjakarta. Di lokasi tersebut, masyarakat menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah dan mengolah limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat serta memiliki nilai ekonomi.
"Kami mempelajari bagaimana warga Mangkuyudan melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran diolah melalui lubang biopori yang terdapat di pekarangan rumah," ujar Teddy.
Sampah organik yang telah diolah kemudian dimanfaatkan menjadi kompos. Kompos tersebut digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari cabai, tomat, terong hingga sayuran lainnya.
Tanaman tidak hanya ditanam di halaman rumah, tetapi juga di sepanjang lorong permukiman. Hasil panennya kemudian dimanfaatkan warga untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik yang masih memiliki nilai jual dikumpulkan melalui bank sampah untuk selanjutnya dijual kembali.
Pemkab OKU kini mulai menerapkan konsep tersebut. Kecamatan Baturaja Timur dipilih sebagai wilayah percontohan sebelum program diperluas ke kecamatan lainnya.
"Kita mulai tahap awal ini di Kecamatan Baturaja Timur dahulu. Jika berhasil, dapat ditularkan ke wilayah lainnya sehingga persoalan sampah di OKU bisa teratasi, bahkan sampah dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat," tegas Teddy.
Program tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah dari rumah.
Di sisi lain, pemanfaatan pekarangan dan lorong permukiman untuk menanam sayuran juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, penerapan konsep smart city di OKU diarahkan tidak sekadar pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
