Kualitas udara di Muaro Jambi kian memburuk hingga masuk kategori berbahaya, akibat meningkatnya konsentrasi PM2,5. Kondisi serupa juga mulai terjadi di Kota Jambi yang kini masuk kategori sangat tidak sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi Arief Munandar mengatakan kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah terus dipantau seiring meningkatnya dampak karhutla.
"Tadi pagi tambah sedikit buruk untuk kualitas udara Kota Jambi dan buat Muaro Jambi udaranya kategori berbahaya," kata Arief, Senin (24/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pemantauan ISPUnet pada pukul 09.12 WIB, konsentrasi PM2,5 di Kota Jambi tercatat 207 sehingga masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara di Muaro Jambi, angkanya mencapai 314 atau kategori berbahaya.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi dalam hitungan jam. Arief menyebut kualitas udara Muaro Jambi telah berada dalam kategori tidak sehat selama sepekan terakhir. Tanjung Jabung Timur juga mulai mengalami penurunan kualitas udara.
"Tanjung Jabung Timur mulai memburuk, dan Kabupaten Tebo sementara kualitas udara menunjukkan berada dalam kategori bagus," ujarnya.
Perubahan kualitas udara Kota Jambi terjadi cukup cepat. Pada Minggu (23/8) pagi, kualitas udara masih berada dalam kategori sedang. Namun sekitar pukul 15.00 WIB, statusnya berubah menjadi tidak sehat.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Jambi menyiapkan surat edaran untuk mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Kebijakan itu disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila kualitas udara terus memburuk.
"Pak gubernur akan segera membuat SE imbauan masyarakat untuk tidak keluar rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah," kata Arief.
Pemprov juga mempertimbangkan langkah lebih jauh terhadap aktivitas sekolah. Jika kualitas udara semakin buruk, kegiatan belajar mengajar dapat dihentikan sementara.
"Nanti kalau sudah sangat tidak baik, salah satunya bisa jadi sekolah diliburkan. Tapi tergantung pada kondisi kualitas udara, dan juga bagaimana nanti masukan dari instansi terkait," jelasnya.
Meningkatnya polusi udara tersebut terjadi bersamaan dengan terus bertambahnya luasan karhutla di Jambi. BPBD Provinsi Jambi mencatat luas lahan terbakar sejak awal tahun hingga 19 Agustus 2026 mencapai 658,29 hektare.
Muaro Jambi menjadi penyumbang luasan karhutla terbesar dengan 264,78 hektare. Kemudian Sarolangun 143,61 hektare, Batanghari 95,35 hektare, Tanjung Jabung Barat 58,1 hektare, Tebo 39,26 hektare, Tanjung Jabung Timur 32,71 hektare, Bungo 14 hektare, dan Merangin 10,3 hektare.
"Saat ini Pemprov Jambi kini menunggu perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla sebelum mengambil kebijakan lanjutan, terutama apabila paparan asap semakin mengganggu aktivitas masyarakat," terangnya.
