Sempat Turun, Hotspot Sumsel Kembali Melonjak di 14 Daerah

Sumatera Selatan

Sempat Turun, Hotspot Sumsel Kembali Melonjak di 14 Daerah

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Minggu, 16 Agu 2026 23:00 WIB
Patroli udara masih temukan karhutla di Sumsel.
Foto: Ilustrasi karhutla (Dok. BPBD Sumsel)
Palembang -

Hotspot atau titik panas di Sumatera Selatan kembali melonjak. Setelah sebelumnya sempat terpantau rendah dengan 51 titik, jumlah hotspot kini meningkat tajam menjadi 264 titik pada 15 Agustus 2026 (update Minggu pukul 03.00 WB).

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan ratusan hotspot itu terdeteksi berada di 14 kabupaten/kota. Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena jumlahnya hampir melampaui 278 titik pada 12 Agustus 2026.

"Hotspot di Sumsel kembali mengalami peningkatan. Pada 15 Agustus terpantau 264 titik di 14 daerah," ujar Sudirman Minggu (16/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebut, dari total 264 titik panas tersebut, sebanyak 39 titik terdeteksi berada di wilayah lahan gambut. Sementara 225 titik lainnya berada di kawasan lahan mineral.

"Kalau dilihat berdasarkan jenis lahannya, 39 titik berada di lahan gambut dan 225 titik berada di lahan mineral," katanya.

ADVERTISEMENT

Ke-264 titik itu terpantau paling tinggi berada di wilayah Musi Banyuasin 62 titik, dengan 10 titik di antaranya terdeteksi di lahan gambut. Kemudian di Banyuasin terpantau 33 titik (3 titik di gambut), Musi Rawas 31 titik (5 titik di gambut), dan Ogan Komering Ilir 29 titik (1 titik di gambut).

Sementara sepanjang 1-15 Agustus, hotspot di Sumsel terdeteksi sebanyak 2.203 titik. Jumlah itu melampaui angka Juli yang hanya terpantau 1.721 titik. Peningkatan hotspot itu sesuai dengan prediksi puncak musim kemarau yang dimulai pada Agustus ini.

"Wilayah OKI paling dengan 479 titik, Muba 401 titik, Banyuadin 257 titik, dan Muara Enim 255 titik," ungkapnya.

"Secara akumulasi sepanjang 2026, jumlah hotspot yang terpantau di Sumsel sudah mencapai 5.773 titik," sambungnya.

Dari data yang disampaikan, jumlah hotspot pada Juli-Agustus melampaui pantauan titik panas pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, angka dua bulan tersebut lebih tinggi sejak 2015.

"Kita bersama unsur terkait juga terus memantau perkembangan hotspot di berbagai wilayah. Apabila ditemukan indikasi kebakaran, penanganan diharapkan dapat dilakukan sedini mungkin agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak lebih besar," jelasnya.

Peningkatan hotspot itu juga seiring dengan angka kejadian karhutla yang dilaporkan BPBD Sumsel. Dalam rekapitulasi kejadian hingga 14 Agustus, terdapat 1.253 kasus karhutla di Sumsel. Sebanyak 12 kabupaten/kota masuk dalam kategori zona merah, sisanya 1 daerah zona oranye dan 4 daerah zona kuning.

"Yang paling penting adalah kewaspadaan dan pencegahan. Masyarakat kami imbau tidak melakukan pembakaran lahan karena dapat memicu karhutla," tukasnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads