Titik Panas Nihil Usai Sumsel Diguyur Hujan

Sumatera Selatan

Titik Panas Nihil Usai Sumsel Diguyur Hujan

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Kamis, 23 Jul 2026 12:30 WIB
Ilustrasi hujan
Foto: Ilustrasi hujan (Dok. Ahmad Arfah/detikSumut)
Palembang -

Hujan yang mengguyur wilayah Sumatera Selatan membuat hotspot atau titik panas mengalami penurunan. Hingga 23 Juli 2026 pukul 05.00 WIB, hotspot tak terpantau dari aplikasi Sipongi Kementerian Kehutanan.

"Nihil hotspot yang terpantau di Sumsel sejak kemarin hingga pukul 05.00 WIB tadi," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Kamis (23/7/2026).

Nihilnya hotspot itu menurunkan potensi dan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hujan yang turun dengan intensitas ringan hingga sedang telah meningkatkan kelembapan tanah dan membasahi lahan-lahan yang sebelumnya mulai mengering akibat musim kemarau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lahan menjadi basah sehingga potensi munculnya titik panas maupun kebakaran hutan dan lahan menurun. Bahan bakaran berupa semak, ilalang, dedaunan kering, dan ranting juga menjadi lebih sulit terbakar," katanya.

Dia menjelaskan, hujan juga membantu mengisi kembali cadangan air pada kanal, embung, serta lahan gambut, sehingga dapat memperlambat proses pengeringan lahan apabila beberapa hari ke depan tidak terjadi hujan lagi.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, pihaknya tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Sebab, musim kemarau masih berlangsung dan kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat apabila curah hujan kembali berkurang selama beberapa hari berturut-turut.

"Kami tetap mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Walaupun kondisi saat ini cukup baik karena hujan. Potensi karhutla masih dapat muncul kembali apabila cuaca kembali panas dan lahan mulai mengering," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto mengatakan berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer, Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial terpantau aktif di Sumsel. Hal ini memberikan dukungan aktivitas konvektif, sehingga berpotensi meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan.

Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sekitar Sumsel turut mendukung peningkatan penguapan dan suplai uap air ke atmosfer. Kondisi tersebut diperkuat oleh kelembapan udara yang relatif tinggi pada lapisan bawah hingga menengah, serta kondisi labilitas atmosfer pada kategori ringan hingga sedang, terutama pada periode siang hingga malam hari.

"Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan atmosfer yang cukup mendukung pertumbuhan dan perkembangan awan konvektif, sehingga berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang," ujarnya.

Selain dukungan dinamika atmosfer tersebut, pada periode yang sama juga dilaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC). Pelaksanaan OMC untuk mengoptimalkan awan potensial hujan yang telah terbentuk secara alami, melalui penyemaian bahan semai pada awan target yang memenuhi kriteria operasional.

Penyemaian dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi proses mikrofisika di dalam awan sehingga proses pembentukan butir air, penggabungan partikel air, dan presipitasi dapat berlangsung lebih optimal.

"Dengan demikian, OMC memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi awan yang tersedia agar peluang terjadinya hujan dapat meningkat, baik dari sisi efektivitas proses presipitasi maupun distribusi hujan pada wilayah sasaran dan daerah di sepanjang pergerakan awan," ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemantauan selama operasi, khususnya di sekitar Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, terpantau pertumbuhan awan potensial hujan yang cukup baik. Awan-awan tersebut menjadi salah satu target penyemaian karena memiliki karakteristik yang mendukung proses modifikasi cuaca.

"Berdasarkan hasil pengamatan arah dan kecepatan angin pada lapisan yang relevan terhadap pergerakan awan, massa udara dan awan dari wilayah sasaran terpantau bergerak secara umum ke arah barat laut," katanya.

"Dengan pola pergerakan tersebut, sebagian awan yang berkembang di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir berpotensi bergerak menuju Kota Palembang dan wilayah sekitarnya," imbuhnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads