Musim kemarau yang mulai memasuki puncaknya di Provinsi Jambi tak hanya membuat debit air Sungai Batanghari terus menyusut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan semakin meningkat pada Agustus hingga September 2026.
Prakirawan BMKG Jambi, M Randy Herdyansyah, mengatakan penyusutan debit Sungai Batanghari dipicu menurunnya curah hujan secara signifikan selama musim kemarau. Berkurangnya pasokan air hujan membuat aliran sungai terus menyusut dari waktu ke waktu.
"Penurunan curah hujan secara signifikan menyebabkan berkurangnya pasokan air permukaan yang masuk ke aliran sungai dan anak-anak sungainya," kata Randy kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh pengaruh fenomena El Nino yang menyebabkan pembentukan awan hujan bergeser dari wilayah Indonesia. Dampaknya, hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, suhu udara meningkat, dan laju penguapan semakin tinggi.
"Hal ini memperpanjang hari tanpa hujan dan meningkatkan suhu udara, sehingga memicu penguapan lebih tinggi yang berdampak pada penurunan tinggi muka air Sungai Batanghari," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistyono, mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi semakin rendah sehingga risiko karhutla dan kekeringan akan meningkat di sebagian besar wilayah Jambi.
"Karena itu, kesiapsiagaan seluruh pihak harus ditingkatkan sebelum puncak musim kemarau tiba," kata Ibnu.
BMKG mencatat daerah yang berpotensi memiliki tingkat kerawanan tinggi kekeringan meliputi Kabupaten Batang Hari, Bungo, Merangin, Muaro Jambi, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, hingga Kota Jambi.
Ancaman musim kemarau pada tahun ini disebut tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya potensi karhutla saja. Akan tetapi sebut Ibnu potensi kekeringan akan semakin meningkat mengingat saat ini menurunnya debit sungai.
"Jika dampak kekeringan terjadi, maka berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran permukiman, hingga terganggunya sektor pertanian," ucapnya.
Maka Ibnu mengingatkan agar Pemda di Jambi segera cepat mengantisipasi. Apalagi, saat ini sudah mulai terlihat bahwa telah menyusutnya debit air Sungai Batanghari.
Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, hamparan pasir mulai bermunculan di sejumlah titik sepanjang aliran sungai, mulai dari Kota Jambi, Muaro Jambi hingga Kabupaten Batanghari. Kondisi tersebut menjadi indikasi berkurangnya pasokan air permukaan akibat minimnya curah hujan.
"Jika kondisi kering terus berlanjut hingga September, dampaknya sangat besar, terutama produktivitas pertanian di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari," tegasnya.
