Waspada Karhutla, BMKG Prediksi Puncak Kemarau di Jambi Agustus-September

Waspada Karhutla, BMKG Prediksi Puncak Kemarau di Jambi Agustus-September

Ferdi Almunandar - detikSumbagsel
Minggu, 19 Jul 2026 05:00 WIB
Ilustrasi Musim Kemarau
Ilustrasi kemarau (Foto: Getty Images/iStockphoto/happy8790)
Jambi -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi memperkirakan puncak kemarau di Jambi terjadi pada Agustus hingga September 2026. BMKG juga mewarning soal ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Puncak musim kemarau di Provinsi Jambi diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026 dengan potensi penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi Ibnu Sulistyono kepada detikSumbagsel, Sabtu (18/7/2026).

Ibnu mengatakan saat ini Jambi masih berada pada periode cuaca panas yang menjadi bagian dari fase awal musim kemarau. Meski begitu, kondisi tersebut membuat potensi karhutla, kekeringan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih perlu diwaspadai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Musim kemarau 2026 khusus di Provinsi Jambi diperkirakan akan lebih panas dan lebih kering dibandingkan biasanya. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan," ujarnya.

Walau wilayah Jambi baru memasuki awal musim kemarau. Namun, curah hujan diperkirakan terus menurun dalam beberapa pekan ke depan sehingga potensi kekeringan dan karhutla harus diantisipasi sejak dini.

ADVERTISEMENT

"Waspada pada dasarian kedua Juli yang memang menjadi periode cukup panas. Namun mulai besok hingga akhir pekan ada potensi hujan dengan intensitas sedang di sejumlah wilayah," terangnya.

Sementara, berdasarkan data BPBD Jambi hingga 6 Juli 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 139,21 hektare. Bahkan, delapan kabupaten telah menetapkan status siaga karhutla yang mana terdiri dari yakni Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Merangin, Bungo, dan Tebo.

Ibnu menjelaskan, selama puncak kemarau curah hujan diperkirakan hanya berkisar 50 hingga 200 milimeter per bulan. Bahkan, sebagian wilayah berpotensi mengalami curah hujan di bawah 150 milimeter per bulan.

Sedangkan peluang hujan sangat rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian mulai terjadi sejak Juli, terutama di wilayah Tebo, Tanjung Jabung Barat, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Sarolangun.

Menurutnya, kondisi atmosfer tahun ini perlu menjadi perhatian serius. Meski awal musim kemarau berlangsung bertahap, peluang hujan diperkirakan terus menurun memasuki Agustus hingga September sehingga meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.

"Kondisi atmosfer tahun ini harus diwaspadai. Memasuki Agustus hingga September peluang hujan semakin kecil sehingga tingkat kekeringan diperkirakan meningkat. Karena itu seluruh pihak harus meningkatkan kesiapsiagaan sejak sekarang," tegasnya.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads