Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi diperkirakan meningkat memasuki puncak musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi memprediksi lebih dari 70 persen wilayah di provinsi itu akan berada pada kategori risiko tinggi munculnya titik panas (hotspot).
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistyono, mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, curah hujan semakin rendah sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan diprediksi meningkat di sejumlah daerah.
"Lebih dari 70 persen wilayah Jambi diperkirakan masuk kategori risiko tinggi munculnya hotspot. Karena itu, kesiapsiagaan seluruh pihak harus ditingkatkan sebelum puncak musim kemarau tiba," kata Ibnu, Minggu (19/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah yang diperkirakan memiliki tingkat kerawanan tinggi meliputi Kabupaten Batang Hari, Bungo, Merangin, Muaro Jambi, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, serta Kota Jambi.
BMKG mengingatkan ancaman musim kemarau tahun ini tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya potensi karhutla. Kekeringan, menurunnya debit sungai, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran permukiman juga diperkirakan menjadi dampak yang perlu diwaspadai masyarakat dan pemerintah daerah.
Sektor pertanian juga dinilai berpotensi terdampak apabila kondisi cuaca kering berlangsung dalam waktu yang panjang tanpa langkah antisipasi yang memadai.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi menunjukkan, hingga 6 Juli 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 139,21 hektare. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jambi telah menetapkan delapan kabupaten berstatus siaga darurat karhutla sebagai upaya mempercepat penanganan selama musim kemarau.
Melihat kondisi tersebut, BMKG meminta pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Mulai dari meningkatkan patroli di kawasan rawan, memastikan ketersediaan sumber air, menyiagakan personel dan peralatan pemadaman, hingga memperkuat koordinasi lintas instansi agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika titik api muncul.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menggunakan air secara bijak selama musim kemarau berlangsung. Warga diminta terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG sebagai dasar untuk mengantisipasi potensi bencana.
"Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan. Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dan terus mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG agar risiko karhutla bisa ditekan," ujar Ibnu.
Dengan potensi kemarau yang diperkirakan lebih panas dan lebih kering dibanding tahun sebelumnya, BMKG berharap seluruh elemen, mulai dari pemerintah, aparat, perusahaan hingga masyarakat, memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak meluas seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau sebelumnya.
"Pencegahan harus menjadi prioritas. Jangan menunggu titik api membesar. Kolaborasi pemerintah, aparat, perusahaan, dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan mencegah karhutla pada musim kemarau tahun ini," ujar Ibnu Sulistyono.
