BPBD Petakan Daerah Rawan Kekeringan di Bengkulu, Mana Saja?

Bengkulu

BPBD Petakan Daerah Rawan Kekeringan di Bengkulu, Mana Saja?

Hery Supandi - detikSumbagsel
Rabu, 15 Jul 2026 19:20 WIB
Ilustrasi kekeringan
Ilustrasi kekeringan (Foto: Getty Images/China Photos)
Bengkulu -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu sudah memetakan beberapa daerah di Bengkulu yang rawan kekeringan. Lantas mana saja daerahnya?

Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bengkulu memprediksi puncak musim kemarau di Provinsi Bengkulu akan terjadi pada Juli 2026.

Berdasarkan peta prediksi BMKG, sekitar 66,7 persen wilayah atau 12 Zona Musim (ZOM) akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2026. Sementara 33,3 persen wilayah lainnya diprediksi mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, durasi musim kemarau di Bengkulu diperkirakan didominasi selama 7-9 dasarian atau sekitar dua hingga tiga bulan di sebagian besar wilayah provinsi.

Adapun daerah yang mengalami kekeringan yakni, Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Bengkulu Utara, Mukomuko, Lebong, Rejang Lebong, dan sebagian wilayah Kepahiang

ADVERTISEMENT

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Khristian Hermansyah mengatakan, pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau berlangsung.

"Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya serta mengacu pada prediksi BMKG, daerah yang perlu menjadi perhatian terhadap potensi kekeringan antara lain Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Bengkulu Utara, Mukomuko, Lebong, Rejang Lebong, dan sebagian wilayah Kepahiang. Kami terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan," katanya, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, dampak kekeringan umumnya dirasakan pada berkurangnya debit sumber air bersih, terganggunya kebutuhan air masyarakat, hingga sektor pertanian yang mengandalkan curah hujan.

Khristian mengimbau pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, termasuk memastikan ketersediaan pasokan air bersih apabila terjadi kekeringan berkepanjangan.

Dia juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat apabila mulai terjadi kesulitan mendapatkan air bersih. Upaya pencegahan sejak dini akan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi," jelasnya.

Kata Khristian, pihaknya akan terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim dari BMKG serta menyiapkan langkah-langkah penanganan apabila dampak musim kemarau menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah.

Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD sebagai acuan dalam menghadapi musim kemarau 2026.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads