Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel), resmi menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan, kebun, dan lahan (karhutbunla). Beberapa daerah lain juga tengah berproses menaikkan status.
Penetapan ini dilakukan menyusul Sumsel akan memasuki musim kemarau pada awal hingga akhir Mei mendatang. Terlebih, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih tinggi dan panjang dibandingkan tahun lalu.
"Hingga saat ini baru OKI yang sudah menetapkan status siaga karhutla, yang pertama. Beberapa daerah lain masih berproses menaikkan status," ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana, Sabtu (18/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Provinsi Sumsel kini masih menunggu satu daerah lain untuk melakukan langkah serupa sebagai syarat menaikkan status siaga darurat di tingkat provinsi.
"Kalau sudah ada dua kabupaten/kota yang menetapkan siaga darurat, maka provinsi bisa ikut menetapkan status yang sama," katanya.
Dia mendorong kabupaten/kota yang termasuk wilayah rawan untuk secepatnya meningkatkan status siaga. Menurutnya, penetapan siaga lebih awal akan memudahkan koordinasi, penanganan, dan kesiapsiagaan personel di lapangan.
"Kita pekan depan juga akan melakukan rakor bersama pihak-pihak terkaot lainnya, termasuk untuk membahas pelaksanaan apel siaga pada akhir April mendatang," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Sumsel menambahkan sejumlah daerah yang masuk kategori rawan karhutla belum menetapkan status siaga, yakni Musi Banyuasin (Muba), Ogan Ilir, Banyuasin, Muara Enim, OKU, OKU Timur, OKU Selatan, Lahat, PALI, Mura, dan Muratara.
"OKI sudah menetapkan status siaga karhutla. Sedangkan Ogan Ilir, Muara Enim, PALI, dan Muba saat ini sedang proses menaikkan status siaga. Kita masih menunggu satu daerah lagi untuk penetapan status siaga di tingkat provinsi," ujarnya.
Menurutnya, meski beberapa daerah belum menaikkam status, kesiapsiagaan personel, peralatan, dan perlengkapan di daerah dipastikan sudah siap. Bencana asap akibat karhutla disebutnya terjadi setiap tahun, sehingga penanganannya telah dipersiapkan sejak dini.
"Yang menjadi kewaspadaan kita tetap di daerah-daerah yang memiliki lahan gambut, yang mudah terbakar saat kondisi kering," ujarnya.
