Kasus TBC Sumsel 2025 Capai 24.748, Dinkes Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Sumatera Selatan

Kasus TBC Sumsel 2025 Capai 24.748, Dinkes Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Widia Ardhana - detikSumbagsel
Kamis, 09 Apr 2026 18:40 WIB
Lungs made of white and black pills on pink background. World Tuberculosis Day concept
Foto: Ilustrasi TBC (Getty Images/iStockphoto/Liliia Lysenko)
Palembang -

Sepanjang tahun 2025, sebanyak 24.748 kasus Tuberkulosis (TBC) berhasil ditemukan dan diobati di Sumsel dengan cakupan pengobatan mencapai 65,34 persen dari estimasi insiden. Sementara itu, pada Maret 2026 tercatat 3.148 kasus baru dengan cakupan sementara sebesar 9,68 persen.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel Ira Primadesa. Ia mengatakan TBC masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan.

"Penyakit ini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Namun angka ini juga menunjukkan bahwa upaya penemuan kasus kita terus meningkat, sehingga lebih banyak pasien dapat terdeteksi dan segera ditangani," ujarnya, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan hingga Maret 2026, sudah tercatat 3.148 kasus baru dengan cakupan sementara 9,68%. Kata dia, angka ini dipastikan akan terus bertambah seiring intensifikasi penemuan kasus yang tengah berjalan di seluruh kabupaten dan kota.

"Data Maret 2026 masih bersifat sementara. Seiring intensifikasi penemuan kasus sepanjang tahun, cakupan ini akan terus meningkat," katanya

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, kasus TBC paling banyak ditemukan di wilayah dengan jumlah penduduk besar dan mobilitas tinggi. Kota Palembang menjadi wilayah dengan temuan tertinggi, diikuti Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim.

"Kondisi ini sejalan dengan karakteristik epidemiologi TBC yang berkaitan erat dengan kepadatan penduduk dan intensitas interaksi sosial di wilayah tersebut," jelasnya.

Ira menambahkan, kejadian TBC tidak bisa dilihat dari satu faktor saja. Berbagai kondisi turut berperan dalam meningkatkan risiko seseorang terpapar penyakit ini.

"Faktor yang berkontribusi bersifat multifaktor, mulai dari kondisi lingkungan tempat tinggal, kontak erat dengan pasien TBC aktif, penyakit penyerta seperti diabetes mellitus, hingga faktor sosial ekonomi masyarakat," ujarnya.

Ira menyebut, untuk mempercepat penemuan kasus, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan terus memperkuat strategi Active Case Finding (ACF) secara masif di komunitas, didukung investigasi kontak secara intensif terhadap orang-orang yang pernah berinteraksi dekat dengan pasien TBC aktif.

"Kami terus memperkuat strategi Active Case Finding (ACF) secara masif di komunitas, serta melakukan investigasi kontak secara intensif terhadap orang-orang yang pernah berinteraksi dekat dengan pasien TBC aktif," ujarnya.

Dia menyebut, upaya ini juga dibarengi dengan penguatan kolaborasi lintas sektor serta peningkatan peran aktif masyarakat dalam mendukung percepatan eliminasi TBC.

"Selain itu, kami juga mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TBC sesuai target nasional," tuturnya.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads