Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di wilayah Sumatera Selatan terjadi pada Mei-Juni 2026. Wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan lebih awal memasuki musim kemarau.
"Wilayah Sumsel diprediksi akan memasuki musim kemarau 2026, diawali di wilayah ZOM (zona musim) 136 di Ogan Komering Ilir bagian selatan pada permulaan Mei," ujar Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis, Jumat (20/3/2026).
Dia mengimbau pemerintah daerah mulai mewaspadai potensi bencana karhutla beberapa waktu sebelum kemarau terjadi. Peningkatan kewaspadaan itu untuk mengantisipasi dan meminimalisir dampak karhutla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah awal di OKI, kemarau akan terjadi di 4 ZOM wilayah tengah Sumsel pada akhir Mei. Selanjutnya, keseluruhan wilayah Sumsel di Barat dan Timur memasuki kemarau pada awal hingga pertengahan Juni mendatang.
Musim kemarau tahun ini disebut terjadi lebih awal dibandingkan saat normal atau pada periode 1999-2020.
"Sebesar 64% wilayah zona musim di Sumsel diprediksi mengalami musim kemarau yang maju hingga dua dasarian dibandingkan normal," katanya.
Wilayah yang diprediksi maju dua dasarian musim kemaraunya, diungkapkan Wandayantolis, berada di Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Muratara, Lubuklinggau, sebagian PALI, Muara Enim, dan Palembang.
Sedangkan daerah yang maju satu dasarian, yakni sebagian Banyuasin, OKI, PALI, Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Empat Lawang, OKU, dan OKU Selatan. Sedangkan wilayah lain tidak maju musim kemaraunya.
"Secara umum, sifat musim kemarau tahun 2026 di wilayah Sumsel diprediksi berada pada kategori bawah normal, kecuali di ZOM 133 (Empat Lawang) dan 135 (OKU Timur) yang memiliki sifat normal," ungkapnya.
