Rencana pengadaan dua meja biliar senilai Rp 486,9 juta oleh Sekretariat DPRD Sumatera Selatan memicu reaksi keras dari masyarakat kecil di Palembang. Warga menilai anggaran sebesar itu sangat tidak etis di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan tingginya angka pengangguran.
Kekecewaan salah satunya datang dari Nina, seorang penjual Yakult keliling di Palembang. Ia mengaku terkejut mendengar anggaran ratusan juta hanya digunakan untuk fasilitas hiburan pimpinan dewan, sementara dirinya harus berjuang keras setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan makan.
"Ya kami selaku rakyat biasa tidak setuju, zaman sekarang kita lagi susah. Untuk makan saja susah, cari kerja susah. Daripada beli meja biliar Rp 486,9 juta, lebih baik dibagikan untuk rakyat dalam bentuk sembako atau pasar murah," ujarnya kepada detikSumbagsel, Selasa (10/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada dikatakan warga Palembang lainnya bernama Rosida yang mengaku tercekik dengan tingginya harga kebutuhan pokok saat ini. Ia merasa pengadaan meja biliar tersebut hanya mementingkan kesenangan pribadi para pimpinan DPRD Sumsel di rumah dinas di atas penderitaan rakyat.
"Tidak setuju, masih banyak rakyat Indonesia yang miskin dan kekurangan. Di DPRD itu (meja biliar) cuma untuk orang senang-senang saja, sedangkan rakyat sekarang tercekik sekali, harga mahal, cari uang susah," keluhnya.
Rosida bahkan membandingkan anggaran tersebut dengan nasib anaknya yang baru lulus SMA namun masih menganggur. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan perluasan lapangan kerja agar anak muda tidak terjerumus ke hal negatif seperti narkoba atau judi online.
"Lebih baik buat lapangan kerja untuk yang tamat SMA. Anak saya menganggur. Kalau ada pekerjaan, anak muda tidak akan macam-macam. Mohon Pak Presiden Prabowo, dengarlah suara kami rakyat kecil ini," tambahnya.
Kritik tajam juga datang dari kalangan pekerja jalanan. Ismuki, seorang tukang becak yang sehari-hari mangkal di Palembang, merasa anggaran tersebut sangat melukai hati rakyat kecil yang penghasilannya tidak menentu.
"Duit sebanyak itu mending buat perbaiki jalan atau bantu modal usaha kecil. Kami narik becak seharian saja belum tentu dapat buat beli beras, ini malah buat beli meja mainan (biliar)," cetusnya singkat.
Seorang Pengangkut Sampah di daerah 14 Ulu bernama Anton juga menyayangkan kebijakan tersebut. Ia berharap para wakil rakyat lebih peka terhadap prioritas kebutuhan publik yang sangat membutuhkan dibandingkan fasilitas di rumah dinas.
"Harusnya memikirkan rakyat, bukan kesenangan pribadi. Saya lagi cari makan harus kerja dengan penuh keringat. Dewan malah mau anggarkan meja biliar," ujarnya.
Berdasarkan pantau detikSumbagsel di laman sirup, pengadaan meja biliar di rumah dinas pimpinan dan wakil pimpinan III DPRD Sumatera Selatan, sudah tidak tercatat lagi di pengadaan tersebut. Dalam laman itu tertulis rekap terakhir diperbaharui pada 10 Maret 2026, pukul 01.47 WIB.
Sementara itu, Sekwan DPRD Sumsel Aprizal dikonfirmasi terkait itu belum memberikan penjelasan, dan masih menunggu dari Kabag Humas DPRD Sumsel Hadiyanto.
"Nanti tunggu Kabag Humas Hadiyanto," katanya dihubungi detikSumbagsel, Selasa.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
