Malam Lailatul Qadar termasuk salah satu malam mulia di bulan Ramadan. Keutamaan tersebut menjadikan materi ini penting untuk disampaikan dalam bentuk kultum singkat 7 menit atau tausiyah.
Kultum merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit yang berisi penyampaian syiar dari pendakwah atau ustaz/ustazah kepada jamaah sholat fardu atau Tarawih. Dengan membawakan materi kultum malam Lailatul Qadar, pendakwah dapat menyampaikan keistimewaan malam tersebut sehingga jamaah bisa sungguh-sungguh dalam menggapainya.
Berikut ini kumpulan kultum singkat 7 menit tentang malam Lailatul Qadar dengan berbagai judul yang menarik. Simak dan pilih materinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kumpulan Kultum Singkat Malam Lailatul Qadar
1. Tanda Kemunculan Malam Lailatul Qadar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi wassholatu wassalaamu 'alaa rasulillah wa'alaa aalihi wa shahbihi wa maw walah
Jemaah rahimakumullah, lailatul qadar merupakan malam yang sangat agung dalam sejarah Islam. Rasulullah sebagai sosok seorang utusan yang paling mulia, tidak henti-hentinya menunggu kedatangan malam mulia tersebut. Tentu kita sebagai umatnya juga mengikuti teladan yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.
Sebab, sangat beruntung orang yang bisa mendapatkan kemuliaan dan keagungan pada malam lailatul qadar. Apalagi malam lailatul qadar menjadi kesempatan untuk bersalaman dengan malaikat Jibril. Berkaitan dengan hal ini, Syekh Sulaiman Al-Jamal dalam kitab Futuhatul Wahhab mengatakan, lailatul qadar merupakan malam khusus yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad saw.
Malam mulia ini akan terus ada sampai hari kiamat datang. (Sulaiman Al-Jamal, Futuhatul Wahhab bi Taudhihi Syarhil Minhaj, juz II, halaman 355) Hikmah Besar Lailatul Qadar Tentu ada hikmah besar lailatul qadar yang hanya dikhususkan kepada kita semua sebagai umat Nabi Muhammad.
Hikmah keberadaan lailatul qadar sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat, suatu saat Rasulullah saw diberikan kesempatan oleh Allah untuk melihat umur para umat nabi sebelumnya. Kemudian ketika Rasulullah melihat umur mereka, ia terkejut karena umat nabi sebelumnya memiliki umur yang sangat panjang, sehingga beliau menyimpulkan bahwa umur yang panjang meniscayakan ibadah dan pahala yang lebih banyak dari umat yang hanya memiliki umur kisaran 60 hingga 70.
Kemudian Rasulullah saw memohon kepada Allah untuk menganugerahinya suatu waktu, yang mana pada waktu tersebut ibadah dan kebajikan yang dilakukan oleh umat Muhammad sebanding dengan umur panjang yang dimiliki oleh umat-umat sebelumnya. Akhirnya Allah memberikan malam lailatul qadar, yang mana amal ibadah dan kebajikan yang dilakukan pada malam tersebut senilai dengan ibadah yang dilakukan selama 1000 bulan, bahkan lebih.
Riwayat ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwattha':
عَنْ مَالِك أَنَّهُ سَمِعَ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنْ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمْرِ فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: "Dari Malik, bahwa sesungguhnya ia mendengar dari ulama yang dapat dipercaya dari ahli ilmu yang berkata, bahwa telah diperlihatkan kepada Rasulullah umur-umur manusia sebelumnya (yang sangat panjang) sesuai dengan kehendak Allah dari semua itu, sampai (akhirnya) usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat yang lainnya karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan." (HR Malik bin Anas).
Penjelasan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsirul Qur'anil Azhim, pada malam tersebut, para malaikat tak henti-hentinya mendoakan kebaikan untuk semua orang Islam. Bahkan malaikat Jibril datang menyalami mereka. Ibnu Katsir mengatakan:
فَلاَ يَزَالُوْنَ لَيْلَتَهُمْ تِلْكَ يَدْعُوْنَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَجِبْرِيْلُ لَا يَدعُ أَحَدًا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِلاَّ صَافَحَهُ وَعَلاَمَةُ ذَلِكَ مَنْ اِقْشَعَرَّ جِلْدُهُ وَرَقَّ قَلْبُهُ ودَمَعَتْ عَيْنَاهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ مُصَافَحَةِ جِبْرِيْلَ
Artinya: "Maka tak henti-hentinya para malaikat mendoakan orang mukmin laki-laki dan perempuan pada malam tersebut. Malaikat Jibril tidak meninggalkan salah satu orang mukmin kecuali menyalaminya. Sedangkan tanda-tandanya yaitu: bulu (badan) merinding, lunak hatinya, dan menangis kedua matanya, semua itu karena disalami oleh malaikat Jibril." (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, [Daru Thaybah: 1999], juz 8, halaman 452).
Selain itu, lailatul qadar juga memiliki keutamaan melebihi malam-malam yang lainnya menurut hadits Nabi Muhammad saw Hal ini sangat penting untuk diketahui agar semangat menjumpai malam yang agung tersebut terus tertanam, sehingga kita bisa semangat dalam melakukan ibadah di malam-malam terakhir bulan Ramadhan.
Alhasil, hikmah dan keutamaan adanya lailatul qadar sebagaimana yang telah disebutkan di atas semoga menjadikan kita benar-benar berusaha meraih malam yang mulia tersebut. Semoga kita semua bisa menjumpainya amin. Wallahu a'lam.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
2. Menggapai Malam Lailatul Qadar ala Rasulullah
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, terdapat malam yang luar biasa istimewa, yaitu lailatul qadar. Malam ini dijelaskan dalam Al-Quran sebagai malam yang lebih mulia daripada 1000 bulan. Keistimewaan ini menunjukkan betapa bernilainya lailatul qadar bagi umat Islam.
Malam lailatul qadar merupakan malam yang penuh dengan rahmat dan ampunan dari Allah. Pada malam ini, Allah menurunkan para malaikat ke bumi untuk menyebarkan rahmat dan kedamaian. Umat Islam yang beribadah pada malam ini akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam lailatul qadar. Berbagai amalan yang dapat dilakukan seperti membaca Al-Quran, shalat malam, dan berdoa. Umat Islam juga dapat melakukan amalan lainnya, seperti zakat dan sedekah. Waktu Kedatangan Lailatul Qadar Lantas kapan datangnya lailatul qadar?
Tak ada yang tahu pasti. Hadis yang berasal dari riwayat Aisyah, Nabi saw bersabda, malam lailatul qadar berada di malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya, "Carilah lailatul qadar pada tanggal gasal dari 10 terakhir bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari).
Meski tanggal pasti lailatul qadar tidak dijelaskan secara spesifik, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mencarinya di bulan Ramadan, terutama pada 10 malam terakhir. Rasulullah saw sendiri memperbanyak ibadah pada saat itu.
Beliau lebih fokus beribadah, memperbanyak shalat malam, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah bersamanya. Hal ini diriwayatkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Artinya, "Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Said ats-Tsauri, dari Abu Ya'fur, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq, dari Aisyah ra, ia berkata:
"Ketika Nabi saw memasuki 10 hari terakhir (Ramadhan), beliau mengencangkan ikat pinggangnya (untuk lebih giat beribadah), menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah)"." (HR Al-Bukhari).
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan, Nabi Muhammad saw selalu menjadikan 10 malam terakhir bulan Ramadhan sebagai kesempatan untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah swt.
Tidur di malam hari diibaratkan sebagai saudara kematian, karena saat tidur, aktivitas dan kesadaran manusia terhenti. Karena itu, dianjurkan bagi umat Islam untuk memanfaatkan waktu malam untuk beribadah, seperti shalat malam, membaca Al-Quran, atau berzikir.
وأحيا ليله أي : سهره فأحياه بالطاعة وأحيا نفسه بسهره فيه ؛ لأن النوم أخو الموت ، وأضافه إلى الليل اتساعا ؛ لأن القائم إذا حيي باليقظة أحيا ليله بحياته ، وهو نحو قوله : " لا تجعلوا بيوتكم قبورا " أي : لا تناموا فتكونوا كالأموات فتكون بيوتكم كالقبور
Artinya, "Dan ia menghidupkan malamnya". Maksudnya Nabi saw berjaga sepanjang malam. Ia menghidupkannya dengan ketaatan dan menghidupkan dirinya sendiri dengan berjaga-jaga di dalamnya. Karena tidur itu saudara kematian.
Tambahan kata "malam" di sini untuk memperluas makna. Karena orang yang bangun dan berjaga, maka dia menghidupkan malam dengan kehidupannya. Hal ini serupa dengan firman Allah:
لا تجعلوا بيوتكم قبورا
Artinya, "Janganlah kamu jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan. Pengertiannya: janganlah kamu tidur di rumah-rumahmu, sehingga kamu menjadi seperti orang mati dan rumah-rumahmu menjadi seperti kuburan." [Ibnu Hajar Al-Asqallani, Fathul Bari, [Kairo; Dar Rayyan lit Turats: 1986 M], jilid IV, halaman 316]
Lebih dari itu, hadits ini menunjukkan keteladanan Rasulullah saw dalam memanfaatkan 10 malam terakhir Ramadhan dengan maksimal. Beliau meningkatkan intensitas ibadahnya dan mengajak keluarganya untuk turut serta dalam meraih malam-malam penuh berkah ini.
Selain memperbanyak shalat malam dan beribadah, Rasulullah saw juga menganjurkan untuk memperbanyak doa di malam-malam tersebut. Beliau mengajarkan kepada Aisyah ra doa yang bisa dipanjatkan untuk meraih lailatul qadar, yaitu:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annī. Artinya, "Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Karena itu, maafkanlah aku."
Simpulan Intinya, cara Rasulullah saw meraih lailatul qadar adalah dengan meningkatkan ketaatan dan ibadah di 10 terakhir Ramadan. Nabi Muhammad saw memperbanyak shalat malam, memperbanyak doa, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dengan kesungguhan tersebut, kita berharap bisa meraih keberkahan malam lailatul qadar. Wallahu a'lam.
(Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat kajian Islam, Tinggal di Ciputat)
3. Memburu Malam Seribu Bulan
Bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang begitu istimewa bagi para mukmin di seluruh dunia. Mengapa demikian? Allah SWT telah memberikan rahmat-Nya di bulan tersebut dengan mewajibkan puasa sebagai bagian bentuk dari ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Bagi mereka yang menjalankan puasa tersebut, maka Allah SWT secara langsung memberikan balasan kepada hamba-hamba-Nya itu sebagaimana yang terdapat dalam hadits qudsi. Selain itu, keistimewaan lainnya adalah dilipatgandakannya amal-amal yang dikerjakan selama bulan suci Ramadhan.
Tidak hanya sampai disitu, di bulan Ramadhan pula Al-Qur'an diturunkan. Keistimewaan tersebut menjadi terasa sempurna ketika di bulan Ramadhan pula terdapat lailatul qadar sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al Qadr sebagai berikut:
إِنَّا أَنزَلْتَهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَنكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ )
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَمُ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ )
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3)
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin
Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(5)"
Dalam kitab Tafsir Jalalain karangan Imam Jalaluddin As Suyuti dan Imam Jalaluddin Al Mahalli disebutkan bahwa yang dimaksud "malam kemuliaan lebih baik dari 1000 bulan" adalah amal-amal shaleh (ibadah) yang kita lakukan di malam tersebut lebih baik daripada melakukannya di malam-malam lainnya.
Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur'an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailatul qadar sendiri).
Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengaruniakan " lailatul qadar" untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.
Apa itu lailatul qadar? Kapan malam tersebut datang sehingga kita dapat melaksanakan amal-amal sholeh yang balasannya setara dengan 1000 bulan, atau lebih tepatnya 80 tahun lebih 4 bulan?
Sebagaimana yang diterangkan oleh Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Tafsir Munir bahwa Lailatul Qadr merupakan suatu malam yang mulia karena pada malam tersebut diturunkan Al-Qur'an.
Di malam itu juga turun para malaikat dan malaikat Jibril untuk memohonkan kepada Allah SWT untuk memberikan cahaya-cahaya, keberkahan, keutamaan, dan kebaikan kepada hamba-hamba Alloh SWT yang beribadah (melakukan amalam shalih) di malam tersebut.
Selain itu dalam Tafsir Ibnu Katsir juga dijelaskan bahwa Lailatul Qadar disebut dengan malam yang mulia karena Allah SWT telah mengkhabarkan sesungguhnya Ia telah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Allah berfirman dalam surat Ad-Dukhan 3, yaitu:
إِنَّا أَنزَلْتَهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (٢)
Artinya: "Sesungguhnya kami menurunkannya di malam yg barakah".
Inilah yang kemudian dikenal sebagai malam Al-Qadar yg berada di dalam bulan Ramadhan sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yaitu:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya: "Bulan Ramadan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran".
Berkata Ibnu Abbas bahwa Allah SWT telah menurunkan Al-Quran keseluruhannya (secara total) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul 'Izzah dari langit dunia kemudian ia diturunkan secara terpisah dan berperingkat selama 23 tahun keatas Nabi SAW, kemudian firman Allah beliau memuliakan Lailatul Qadar dimana Allah SWT telah mengizinkan penurunan Al-Quran.
Adapun mengenai waktu hadirnya lailatul qadr terdapat beberapa perbedaan pendapat dari para ulama. Kemungkinan hal ini terjadi karena lailatul qadr memiliki waktu yang berbeda-beda setiap tahunnya. Adapun beberapa pendapat mengenai waktu hadirnya lailatul qadar di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
1. Dalam kitab Hasyiyah Showi 'Ala tafsir Jalalain karangan Syeikh Ahmad bin Muhammad As Shawi Al Maliki, disebutkan bahwa:
"Dari Abi Al Hasan As Syadzili (mengatakan bahwa) jika awal puasa hari ahad, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 29, jika awal puasa hari senin, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 21, jika awal puasa hari selasa, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 27, jika awal puasa hari rabu, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 19, jika awal puasa hari kamis, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 25, jika awal puasa hari Jumat, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 17, jika awal puasa hari sabtu, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 23."
2. Dalam kitab Hawasyi Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami dalam pembahasan lailatul qadar disebutkan bahwa:
"Para ulama' menyatakan mengenai ketentuan (hadirnya lailatul qadr) dan sebagian dari mereka menyatakan dalam bentuk nadhom (syair) sebagai berikut:
- Sesungguhnya kami semuanya jika berpuasa (awal ramadhan) di hari jum'at, maka ambillah tanggal 29 sebagai lailatul qadar
- Dan jika hari sabtu merupakan hari puasa kami, maka berpeganglah pada tanggal 21 (akan datangnya lailatul qadar) tanpa ada pertentangan (sepakat).
- Jika awal puasa hari ahad, maka tetapkanlah tanggal 27 (hadirnya lailatul qadar)
- Jika awal puasa hari senin, maka ketahuilah bahwa kamu akan mendapatkan (lailatul qadar) pada tanggal 19
- Jika awal puasa hari senin, maka carilah (lailatul qadar) pada tanggal 17
- Dan jika telah jelas awal bulan (ramadhan) di hari kamis, maka berjihadlah! maka lailatul qadar akan jatuh setelah tanggal 10 di malam ganjil"
3. Dalam kitab I'anatut Thalibin karangan Sayyid Bakri Syatha menyatakan sebagai berikut:
"Telah berkata Imam Ghozali dan ulama lainnya bahwasanya lailatul qadar dapat diketahui melalui hari awal dari bulan (Ramadan). Jika awal puasa hari ahad atau rabu, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 29, Jika awal puasa hari senin, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 21, Jika awal puasa hari selasa atau Jumat, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 27. Jika awal puasa hari kamis, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 25, Jika awal puasa hari sabtu, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 23."
Adapun ciri-ciri sekaligus menjadi tanda-tanda ketika malam kemuliaan (lailatul qadar) itu adalah sebagaimana dalam kitab shahih Imam Muslim sebagai berikut:
"Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mahran Ar Razi, telah bercerita kepada kami Walid bin Muslim, telah bercerita kepada kami Al Auzi'ni, telah bercerita kepadaku Abdah dari Zur, ia berkata Saya mendengar Ubay bin Ka'ab berkata: dikatakan bahwa sesungguhnya Abdullah bin Mas'ud berkata: siapa yang mendirikan kesunahan pada saat malam kemuliaan (lailatul qadr)? maka Ubay berkata: Demi Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, Sungguh malam itu (lailatul qadar) ada dalam bulan ramadhan. Demi Allah aku sungguh tahu kapan malam itu. Malam itu adalah malam dimana Rasulullah SAW perintahkan kepada kita untuk beribadah, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya."
Terlepas dari ketentuan hadirnya lailatul qadar dan tanda-tandanya sebagaimana yang telah dijabarkan di atas, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut dengan meningkatkan iman, ibadah dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Karena dengan begitu, ketika Allah SWT ridho kepada kita, Allah SWT akan menghadirkan malam seribu bulan tersebut kepada kita. Pada akhirnya, tujuan kita diciptakan ke dunia ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an surah Ad Zariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ )
Artinya: "Dan tidaklah Aku (Allah SWT) ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka (jin dan manusia) beribadah kepada-Ku."
Cukup sekian sedikit tulisan dari saya, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca. Salam.
(Oleh: Zuhrul Anam Cakim PA Sanggau)
4. Rahasia Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan dan anugerah yang Allah swt berikan kepada umat Nabi Muhammad saw. Salah satu keistimewaan terbesar di bulan ini adalah malam Lailatul Qadar, malam yang penuh dengan rahmat dan kasing sayang Allah swt bagi umat Rasulullah saw.
Lailatul Qadar merupakan malam dengan sejumlah keutamaan yang luar biasa. Al-Qur'an menggambarkan malam itu sebagai malam yang lebih mulia daripada 1000 bulan. Pada malam itu, langit dihiasi dengan turunnya para malaikat yang membawa berkah serta kedamaian bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan ibadah. Dalam surat Al-Qadar, Allah swt berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS Al-Qadr: 1-5).
Lailatul Qadar adalah kado istimewa dari Allah swt bagi umat Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw diperlihatkan umur umat nabi sebelumnya yang panjang, sehingga beliau merasa bahwa umatnya yang berusia lebih pendek tidak dapat menyamai ibadah mereka. Sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Allah swt memberikan malam lailatul qadar sebagai hadiah istimewa.
Dalam kitab Al-Muwattha', Imam Malik meriwayatkan:
عَنْ مَالِك أَنَّهُ سَمِعَ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنْ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمْرِ فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: "Dari Malik, bahwa sesungguhnya ia mendengar dari ulama yang dapat dipercaya dari ahli ilmu yang berkata, bahwa telah diperlihatkan kepada Rasulullah umur-umur manusia sebelumnya (yang sangat panjang) sesuai dengan kehendak Allah dari semua itu, sampai (akhirnya) usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat yang lainnya karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan." (HR Malik bin Anas).
Keistimewaan ini menjadi anugerah luar biasa bagi umat Nabi Muhammad Saw. Syekh Abdul Halim Mahmud menjelaskan bahwa 1000 bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan, yang merupakan umur standar manusia. Bayangkan apabila setiap tahun kita bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan, betapa besar pahala yang dapat kita raih.
Syekh Abdul Halim juga menegaskan bahwa malam Lailatul Qadar lebih utama dari seluruh umur manusia, baik yang hidup di masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Ia mengatakan:
وَ[الأَلْفُ] شَهْرٍ هِيَ ثَلاثٌ وَثَمَانُونَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ، وَذَٰلِكَ عَادَةُ عُمُرِ الإِنسَانِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِّنْ عُمُرِ الإِنسَانِ، مِّنْ عُمُرِ كُلِّ إِنسَانٍ: مِنْ عُمُرِ كُلِّ إِنسَانٍ فِي اَلْمَاضِي وَفِي اَلْمُسْتَقْبَلِ، أَيِ أَنَّهَا خَيْرٌ مِنَ الدَّهْرِ
Artinya: "1000 bulan adalah 83 tahun 4 bulan, yang merupakan usia standar manusia. Lailatul Qadar lebih baik daripada umur manusia, dari umur setiap manusia, baik yang hidup di masa lalu maupun di masa depan. Intinya, malam ini lebih baik dari seluruh zaman." (Syahru Ramadhan, [Mesir, Darul Ma'arif: t.t.], halaman 21).
Rasulullah saw juga menyebutkan keutamaan malam Lailatul Qadar bahwa beribadah di malam agung tersebut akan menghapus dosa-dosa yang telah berlalu. Beliau bersabda: Baca Juga Khutbah Jumat: 5 Amalan untuk Meraih Lailatul Qadar مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, "Barangsiapa shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau." (HR Al-Bukhari). Meski Lailatul Qadar mengandung rahasia keutamaan yang luar biasa, Allah swt sengaja merahasiakan kapan waktu pastinya. Hikmahnya adalah agar umat Islam selalu tekun beribadah sepanjang bulan Ramadhan dalam usaha meraih malam tersebut.
Ibnu Hajar Al-'Asqalani menjelaskan: قَالَ الْعُلَمَاءُ الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَحْصُلَ الِاجْتِهَادُ فِي الْتِمَاسِهَا بِخِلَافِ مَا لَوْ عُيِّنَتْ لَهَا لَيْلَةٌ لَاقْتُصِرَ عَلَيْهَا
Artinya: "Para ulama berkata, 'Hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Berbeda jika malam tersebut ditentukan secara pasti, maka mereka hanya akan beribadah pada malam itu saja.'" (Fathul Bari, [Beirut, Darul Ma'rifah: 1379], jilid V, halaman 569).
Malam Lailatul Qadar adalah anugerah agung yang Allah swt berikan kepada umat Islam sebagai kesempatan untuk meraih keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Keutamaan malam ini tidak hanya terletak pada kemuliaannya yang lebih baik daripada 1000 bulan, tetapi juga pada limpahan rahmat dan ampunan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Karena itu, hendaknya setiap Muslim memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, mengisi malam-malam Ramadhan dengan ibadah, doa, dan taubat yang tulus agar dapat meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Semoga kita semua termasuk dalam golongan hamba yang diberikan taufik oleh Allah swt untuk menemukan dan menghidupkan malam Lailatul Qadar. Dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, kita berharap mendapatkan ampunan dan keberkahan yang tak ternilai. Amin. Wallahu a'lam.
(Ustadz Bushiri, Pengajar di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan Madura.)
Simak Video "Video: Berlomba-lomba Meraih Berkah di 10 Malam Terakhir Ramadan"
[Gambas:Video 20detik] (mep/mep)
