Peringatan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar termasuk dua momen penting yang terjadi di bulan Ramadan. Kesempatan selalu dimanfaatkan bagi khatib untuk menyampaikan khutbah Jumat.
Pelaksanaan sholat Jumat pekan ini, 6 Maret 2026, bertepatan dengan 16 Ramadhan 1447 Hijriah. Khatib bisa memilih materi khutbah Jumat tentang Nuzulul Quran atau Lailatul Qadar agar jamaah dapat mempersiapkan diri secara maksimal.
Berikut ini contoh khutbah Jumat tentang Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar untuk disampaikan kepada jemaah pada pekan ini. Simak!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contoh Khutbah Jumat Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar
Khutbah I
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه اللهُمَّ صَلَّ وَ سَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَنْزَلْنَهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ, وَمَا آذريكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلبِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ, سَلَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Kaum Muslimin Jamaah salat Jumat yang mulia.
Alhamdulillah, Allah masih berikan kesempatan kepada kita untuk bermunajat kepada-Nya di hari mulia ini, bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan oleh Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa dicurahkan kepada junjungan alam, Nabi Muhammad Saw.
Mari tingkatkan terus takwa kita kepada Allah dengan cara menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sungguh, takwalah yang akan menentukan derajat manusia di sisi-Nya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadan ini, umat Islam merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia.
Mungkin juga kita termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Sejarah apakah di maksud? Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur'an; diturunkannya al-Qur'an secara utuh dari Lauhul Mahfudz di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (Qs. Al Baqarah: 185).
Mari saya mengajak diri saya sendiri terlebih dahulu dan umat Islam lainnya untuk senantiasa membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Membaca dan mempelajari Al-Qur'an harus dijadikan tradisi oleh masing-masing keluarga Islam di muka bumi ini, kalau gerakan ini berlanjut, maka bukan tidak mungkin dunia nanti akan dipenuhi nilai-nilai Quran dan saat itulah peradaban baru dunia itu muncul, yaitu peradaban yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur'an.
Mengapa kita harus membudayakan membaca dan mempelajari Al-Qur'an? Karena selaku umat Islam kita yakin bahwa Al-Qur'an merupakan pedoman hidup yang kompleks dan memuat sejumlah kebutuhan manusia, baik materil maupun spiritual. Al- Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad memang diperuntukkan kepada manusia agar dia mendapat rahmat dan kegembiraan dari Allah SWT.
Membicarakan tentang Nuzulul Quran, maka pasti tidak akan lepas pula membicarakan soal Lailatul Qadr dan Bulan Ramadan. Karena memang antara ketiga hal tersebut terdapat hubungan yang saling kait mengait. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1;
إِنَّا أَنْزَلْتُهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur'an) pada malam Qadr (Lailatul Qadr)".
Dari surat Al Qadr ayat pertama tersebut telah jelaslah bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam lailatul qadar yang penuh berkah. Sudah barang tentu kita harus melaksanakan berbagai amalan yang dilakukan di malam nuzulul Qur'an untuk mendapatkan berkah. Selain itu malam lailatul qadar yang merupakan malam turunnya Al-Qur'an ini juga memiliki berbagai keutamaan.
Jamaah salat Jumat rohimakumullah
Dalam Surat Ad Dukhan ayat 3 disebutkan pula:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (malam permulaan Al-Qur'an pertama kali diturunkan)."
Mengenai persoalan bahwasanya Al-Qur'an untuk pertama kali diturunkan dari Lauhil Mahfudz sampai ke Batil Izzah (Langit Dunia) yaitu pada Malam Qadr di bulan suci Ramadan, para ulama mayoritas telah bermufakat semuanya. Dimana dari Baitil Izzah ini Malaikat Jibril kemudian mengantarkannya kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama kurun waktu sekitar 23 tahunan.
Akan tetapi ketika dirinci lebih lanjut pada tanggal berapa persis sebenarnya saat Nuzulul Qur'an itu terjadi? Di sini mulai terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Konteks perbedaan pendapat ini sebetulnya bermuara pada batasan waktu kapan terjadinya Lailatul Qadar itu.
Ada yang berpendapat di hari-hari ganjil asyrul awakhir bulan suci Ramadan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis. Ada pula yang menyatakan pada 27 Ramadan. Ada lagi yang berpendapat bahwa khusus Lailatul Qadr saat Nuzulul Qur'an itu terjadi yakni pada tanggal 17 Ramadan. Karena keterkaitannya Surat Al-Qadr ayat 1 dengan isyarat yang disampaikan oleh Allah SWT. Pada Surat Al-Anfal 41 yang berbunyi:
إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ
"...jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan (Al-Qur'an) kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan."
Adapun yang dimaksud dengan hari Furqan atau hari bertemunya dua pasukan adalah hari pertempuran perang Badr. Peristiwa perang tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadan 02 H. atau jatuh pada hari Selasa 13 Maret 624 M.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Sudah menjadi kebiasaan di negeri kita untuk memperingati hari diturunkannya al- Quran di bulan Ramadan dengan menggelar pengajian akbar, dengan menghadirkan narasumber yang spesial agar dihadiri sebanyak mungkin kaum Muslimin. Sebenarnya itu sebuah momen yang penting untuk dimanfaatkan untuk menyadarkan kaum kaum Muslimin agar menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang mengatur diri mereka, keluarga mereka dan masyarakat mereka.
Sayangnya, kesadaran sebagian besar masyarakat baru sebatas menghadiri pengajian Nuzulul Qur'an. Belum sampai pada tingkat siap menjadikan Al-Qur'an sebagai penuntun dan pengatur kehidupan mereka.
Akibatnya, seusai acara, sebagian dari kaum Muslimin kembali tenggelam dalam berbagai perkataan, perbuatan, sikap dan perilaku yang sangat bertentangan dengan tuntunan Al-Qur'an itu sendiri.
Untuk itu, marilah kita tingkatkan kesadaran untuk mempelajari Al-Qur'an secara serius dan berkelanjutan, memegang teguh adab dan tuntunannya dalam kehidupan dan berusaha keras untuk bersikap istiqamah di atas aturannya, sesuai kemampuan kita.
Perlu kita ketahui, bahwa Al-Qur'an itu bisamenjadi pembela kita di akhirat nanti, namun bisa juga menjadi penuntut kita. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya no. 223, dari Abu Malik Al-Asy'ari RA, Rasulullah SAW Bersabda:
والقُرْآنُ حُجَّةً لَكَ، أَوْ عَلَيْكَ
"Dan Al-Qur'an itu bisa menjadi bukti yang membelamu dan bisa pula menjadi bukti yang akan memberatkanmu."
Bila kita mau membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, maka ia akan menjadi hujjah yang membela kita. Namun bila kita tidak mau membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, maka ia akan menjadi hujjah yang memberatkan kita pada hari kiamat.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah
Diantara keutamaan Malam Qadar, adalah; Pertama malam lailatul qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Swt berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan". (QS. Al-Qadr: 3
Maksud dari Surat Al Qadr ayat 3 ini adalah amal, puasa dan salat malam yang dilakukan seseorang di malam lailatul qadar ini lebih baik dari amalan yang dilakukan selama 1000 bulan.
Kedua adalah malam tersebut merupakan malam pengampunan dosa bagi orang orang yang menghidupkan malam lailatul qadar ini. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Barangsiapa melaksanakan salat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni". (HR. Bukhari).
Keutamaan ketiga adalah malam lailatul qadar merupakan malam yang penuh berkah. Hal ini dikarenakan turunnya Al-Qur'an. Keutamaan yang keempat adalah malam lailatul qadar sebagai malam turunnya para malaikat dan Malaikat Jibril. Hal ini menandakan bahwa malam ini merupakan malam yang banyak berkah, karena malaikat turun bersamaan dengan turunnya berkah. Seperti firman Allah pada surat Al Qadr ayat 4:
تنزل الملئكة والروحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مَن كُلِّ أَمْرٍ
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". (QS. Al-Qadr: 4).
Al-Qur'an sebagai kitab yang mulia, dan menjadi pedoman seluruh umat islam dalam menjalani kehidupan menjadikan semua yang bersinggungan dengannya menjadi mulia juga. Nabi Muhammad saw menjadi Nabi yang paling mulia di antara Nabi lainnya adalah karena kepada beliaulah Al-Qur'an diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril.
Bulan Ramadan menjadi bulan yang mulia, diantaranya adalah karena pada bulan Ramadan lah Al-Qur'an diturunkan. Begitu pula dengan malam lailatul qadar menjadi malam yang paling mulia dan menjadi malam yang lebih dari seribu bulan adalah karena pada malam itulah Al-Qur'an diturunkan sebagaimana firman Allah pada surat Al-Qadr ayat 1.
Dengan adanya momen nuzulul Qur'an dan malam lailatul qadar ini, hendaknya kita semua meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak amalan agar mendapatkan berkah. Selain itu, malam nuzulul quran juga bisa dijadikan momen untuk meneladani semua yang tercantum di dalam Al-Qur'an, mempelajari dan memahaminya, serta mengamalkannya sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan di dunia ini.
Dengan amalan yang dilakukan di malam nuzulul Qur'an, kita semua bisa mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah. Allah berfirman:
وَهَذَا كِتَبُ أَنْزَلْتُهُ مُبْرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat" (QS. Al-An'am: 155).
Semoga Allah Swt. mengaruniakan kepada kita hidayah, taufik dan kekuatan untuk membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua mendapatkan malam lailatul qadar yaitu malam seperti 1000 bulan. Aamiin... Allahumma Aamiin.
بارك اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ال آيَاتِ وَ ذِكْرِ الحَكِيمِ وَ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ إِنَّ اللهَ وَمَلَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلى النَّبِيِّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تسليماً. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاء مِنْهُمْ والأموات. اللهم أعز الإسلام والمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشَّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ، وَانصُرْ عِبَادَكَ المُوَحْدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِينَ وَ دَمْرُ أَعْدَاءَ الدِّينِ, وَاغْلِ كَلِمَاتِكَ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاء وَالوَبَاءَ والزلازل والمحن وسوء الفتنة والمحن ما ظهر مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, عَنْ بَلَدِنَا اندونيسيا خَاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ المُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبُّ العَالَمِينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَة حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ
عِبَادَ اللهِ : إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَابْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشاءِ وَالمُنكَرِ وَالبَغَى يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَرْدُّكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Contoh Khutbah Jumat Nuzulul Quran #1
Judul: Nuzulul Quran dan Perintah Membacanya
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ، خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ، اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ، الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ، عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah
Puji dan syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang tak henti-hentinya melimpahkan berbagai karunia dan kenikmatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, juga kepada para sahabat, para tabiin, tabi' tabiin-nya, hingga kepada kita semua selaku umatnya.
Khatib berpesan bagi diri sendiri dan jamaah sekalian, mari bersama-sama kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Sebab kelak di hari kiamat, kita akan dikumpulkan dalam keadaan menghadap-Nya. Sebagaimana dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 203 disebutkan:
وَاتَّقُوْا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
Artinya: "Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan."
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah
Kita tentu masih mengingat peristiwa bersejarah ketika Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu pertama dari Tuhannya. Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat berharga. Saat itu, Nabi yang sedang beruzlah tiba-tiba didatangi malaikat Jibril yang membawa risalah dari Allah Swt.
Kita tentu masih mengingat peristiwa bersejarah ketika Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama dari Tuhannya. Peristiwa ini tentu memberikan pelajaran berharga. Saat itu, Nabi yang sedang uzlah tiba-tiba didatangi malaikat Jibril yang membawa risalah dari Allah Swt.
Tiba-tiba Jibril berkata, "Bacalah!" sedangkan Nabi Muhammad Saw yang sedang tertidur menjadi bangun dan bingung dibuatnya. Sehingga Nabi menjawab seruan tersebut dengan berkata, "Apa yang akan aku baca?" dialog ini berlangsung lama dengan beberapa kali pengulangan kalimat yang sama. Sampai pada akhirnya, Jibril membacakan QS. Al-Alaq ayat 1-5.
Sebagaimana hal ini diabadikan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab Sirahnya, jilid 1, halaman 220-221:
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَجَاءَنِي جِبْرِيْلُ وَأَنَا نَائِمٌ بِنَمَطِ مِنْ دِيبَاجٍ فِيْهِ كِتَابٌ فَقَالَ اِقْرَأْ قَالَ قُلْتُ: مَا أَقْرَأُ؟ قَالَ فَغَتَّنِي بِهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ الْمَوْتُ ثُمَّ أَرْسَلَنِيْ، فَقَالَ اِقْرَأْ قَالَ قُلْتُ: مَا أَقْرَأُ؟ قَالَ فَغَتَّنِيْ بِهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ الْمَوْتُ. ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ اِقْرَأْ قَالَ قُلْتُ: مَاذَا أَقْرَأُ؟ قَالَ فَغَتَّنِيْ بِهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ الْمَوْتُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ اِقْرَأْ قَالَ فَقُلْتُ: مَاذَا أَقْرَأُ؟ مَا أَقُوْلُ ذَلِكَ إِلَّا افْتِدَاءً مِنْهُ أَنْ يَعُودَ لِي بِمِثْلِ مَا صَنَعَ بِي، فَقَالَ {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ} [العلق: 1 - 5] قَالَ فَقَرَأَتُهَا ثُمّ انْتَهَى، فَانْصَرَفَ
Artinya: "Rasulullah Saw bersabda: Jibril mendatangiku saat aku sedang tertidur dengan selimut yang terbuat dari sutera. Jibril tiba-tiba berkata, "Bacalah!", aku menjawab, "Apa yang akan aku baca?" Ketika itu Jibril memelukku sehingga aku mengira bahwa ia adalah malaikat maut, setelah itu dia melepasku.
Selanjutnya Jibril kembali berkata, "Bacalah!" Nabi melanjutkan ceritanya, aku menjawab, "Apa yang akan aku baca?" Jibril memelukku lagi sehingga aku mengira bahwa ia adalah malaikat maut, setelah itu dia melepasku.
Setelahnya Jibril mengulangi perkataannya, "Bacalah!" Nabi melanjutkan, aku menjawab, "Apa yang akan aku baca?" Jibril memelukku lagi untuk yang sekian kalinya sehingga aku mengira bahwa ia adalah malaikat maut, setelah itu dia melepasku kembali.
Kemudian Jibril mengulang perkataannya untuk yang keempat kalinya, "Bacalah!" Nabi melanjutkan kisahnya dengan berkata, aku menjawab, "Apa yang akan aku baca?" Nabi berkata lagi, "Tidaklah aku mengatakan hal demikian, kecuali semata-mata untuk merespons apa yang Jibril lakukan kepadaku."
Sehingga pada akhirnya Jibril berkata, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmu-lah Yang Maha mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq [96]: 1-5) Nabi bercerita, lalu aku mengikuti bacaan tersebut dan Setelahnya Jibril pergi.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah
Bukan tanpa sebab, ternyata Allah Swt menurunkan wahyu pertama berupa perintah sebagai landasan utama dalam membangun aspek fundamental yang diperlukan untuk mewujudkan reformasi masyarakat. Salah satu caranya ialah dengan menanamkan kesadaran tentang keberadaan Tuhan yang dapat dicapai melalui proses membaca.
Melalui penguatan literasi dan peningkatan spiritual dapat mengantarkan peradaban manusia yang semula berada dalam kehidupan jahiliah, berkembang, dan berubah menjadi zaman pencerahan dengan datangnya cahaya Islam.
Dengan sering membaca, manusia diharapkan bisa bertransformasi menjadi makhluk yang lebih baik. Nasiruddin al-Baidhawi dalam kitab Anwaruttanzil wa Asrarutta'wil, jilid 5, halaman 325, menjelaskan bahwa QS. Al-Alaq ayat 1-2 menggambarkan tentang perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dan manusia secara umum untuk membaca Al-Qur'an, berupaya menyebut nama Allah saat memulai membacanya serta menampilkan hikmah luar biasa tentang proses penciptaan manusia yang berasal dari segumpal darah.
Selanjutnya, dalam ayat 3-5 menggambarkan tentang keistimewaan Allah Swt yang telah memerintahkan hambanya untuk membaca, memberikan ilmu pengetahuan dan mengajarkan apa yang tidak mereka ketahui.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua peristiwa yang terjadi merupakan ketetapan Allah yang dihiasi dengan pelajaran berharga untuk kehidupan manusia yang lebih baik.
Berkenaan dengan sejarah turunnya wahyu pertama dalam Nuzulul Qur'an, mengajarkan kita tentang urgensi membaca sebagai wasilah awal untuk mengubah peradaban umat manusia.
Oleh karenanya, mari mengalokasikan waktu agar bisa menyempatkan diri untuk membaca guna menambah ilmu, pahala dan kedekatan bersama tuhan, khususnya dengan membaca Al-Qur'an.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ اْلقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
(Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman)
Contoh Kultum Nuzulul Quran #2
Judul: Kemuliaan Ramadhan dan Pelajaran Penting dari Peristiwa Nuzulul Quran
أَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الْعَلاَّم، اَلَّذِي أَبْدَعَ خَلْقَ اْلأَنَام، وَأَوْجَبَ عَلَيْهِ ذَاكَ الصِّيَام، لِيَعْتَادُوْا الصَّبْرَ عَلَى أَلَمِ الْعَطَشِ وَالْجُووْع، وَلِيَشْعُرُوْا بِمُسَاوَاةِ اْلأَفْرَادِ وَالْجُمُوع، وَلِيَعْبُدُوْا رَبَّهُمْ فِي تَصَبُّرٍ وَخُشُوع
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، زَيَّنَ السَّمَاءَ بِمَصَابِيحِ النُّجُوم، وَأَنْزَلَ الْمَطَرَ مِنَ السُحُبِ وَالْغُيُوم
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، أَكْثَرَ صِيَامَهُ لله، وَخَشَعَ فِي عِبَادَتِههِ لِمَوْلاَه
صَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
قَالَ الله تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِه: يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُون
أَمَّا بَعْد...
Ma'âsyiral mu'minîn rahimakumullâh...
Tanggal 17 Ramadhan biasa kita peringati sebagai Malam Nuzûl al-Qur`ân, malam turunnya ayat pertama dari Alquran . Hal ini didasari oleh surat al-Anfal ayat 41:
وَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَ لِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۙ اِنْ كُنْتتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari al-Furqân, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
Di dalam kitab Tafsîr at-Thabariy, jilid 10 halaman 14 termaktub bahwa Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib radhiyallâhu 'anhumâ berkata: "Malam al-Furqân yang terjadi pada hari bertemunya dua pasukan itu terjadi pada hari ke-17 bulan Ramadhan."
Menurut pendapat lain, Nuzûl al-Qur`ân terjadi pertama kali pada 21 Ramadhan, sebagaimana yang tercantum di dalam kitab ar-Rahîq al-Makhtûm karya as-Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuriy.
Pendapat lain menyatakan bahwa Nuzûl al-Qur`ân pertama kali terjadi pada 24 Ramadhan, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah karya al-Imam Ibnu Katsir. Tentu tiga pendapat di atas adalah fase terakhir diturunkannya Al-Quran, setelah fase pertama yaitu diturunkan Al-Quran secara sekaligus (satu paket) ke al-Lauh al-Mahfûzh, dan fase kedua dari al-Lauh al-Mahfûzh diturunkan ke Bayt al-'Izzah di as-Samâ` ad-Dunyâ atau Langit Pertama/Terendah, juga secara sekaligus (satu paket).
Pada fase terakhir ini, Al-Quran turun kepada Baginda Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam rentang waktu antara 20 tahun atau 23 tahun atau 25 tahun, tergantung pada perbedaan pendapat berapa tahun Nabi tinggal di Makkah setelah diutus sebagai Rasul: 10 atau 13 atau 15 tahun. Adapun masa tinggal Nabi di Madinah adalah 10 tahun.
Zumratal mu'minîn rahimakulullâh.
Adanya perbedaan pendapat tentang kapan Nuzûl al-Qur`ân pertama kali terjadi, adalah hal yang tidak terlalu substantif. Hal yang lebih substantif, esensial dan mendasar adalah: Bagaimana cara kita memfungsikan Al-Quran?
Setidaknya, ada dua cara bagaimana kita memfungsikan Al-Quran, dan keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, sisi kuantitatif, di mana Al-Quran kita baca dengan berharap mendapat pahala dan hitungan kelipatannya. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى، قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ القُرَظِيّ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَممِيمٌ حَرْفٌ (رواه الترمذي)
Dari Ayyub ibn Musa, dia berkata, "Aku mendengar Muhammad ibn Ka'ab al-Qurazhiy berkata, "Aku mendengar Abdullah ibn Mas'ud berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca 1 huruf dari Al-Quran maka baginya 1 kebaikan, dan 1 kebaikan (dapat berlipat) menjadi 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lâm Mîn itu 1 huruf. Namun Alif itu 1 huruf, Lâm 1 huruf dan Mîm 1 huruf." (HR At-Tirmidzi)
Kedua, sisi kualitatif, di mana Al-Quran kita baca dan pelajari sesuai dengan fungsinya sebagai Hudâ (Petunjuk), bayyinât (Penjelasan-penjelasan) dan Furqân (Pembeda antara yang haq dan yang batil), sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُددٰى وَالْفُرْقَانِۚ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai Hudâ (petunjuk) bagi manusia dan Bayyinât (penjelasan-penjelasan) mengenai petunjuk itu dan Furqân (pembeda antara yang haq dan yang batil)."
Jamaah yang mulia, mari sejenak kita renungkan analogi berikut...
Bila kita hendak ke negeri China, dan kita buta sama sekali tentang negeri China, maka yang kita butuhkan adalah sebuah buku petunjuk atau peta tentang negeri China, yang dapat memandu kita agar tidak tersesat di negeri China.
Dengan kesadaran seperti itu, kita pun membeli peta negeri China, yang berbahasa China. Namun malangnya, kita tidak mengerti bahasa China. Akhirnya, buku petunjuk atau peta tentang negeri China itu tidak mampu membantu kita untuk tidak tersesat di negeri China.
Kejadian tragis di atas lah yang dapat terjadi pada diri kita, yang berharap mendapat panduan hidup dari Alquran , namun tidak mampu memahami berbagai petunjuk Allah SWT yang termuat di dalamnya. Singkatnya, kita gagal memfungsikan Al-Qur'an sebagai lentera hidup, sehingga kerap kita gagal membedakan mana yang haq mana yang batil.
Sudah saatnya kita semua mengoreksi dan memperbaiki cara kita berinteraksi atau memperlakukan Al-Quran . Bukan hanya kuantitas membaca yang kita utamakan, dengan memasang target sekian juz dalam sehari, atau sekian kali khatam dalam sebulan. Yang tidak kalah penting untuk kita perhatikan adalah sisi kualitas kita dalam berinteraksi dengan Alquran, yaitu sudah berapa ayatkah yang kita pahami artinya, tafsirnya, asbâbun nuzûl-nya, dan seterusnya, sehingga kita bisa menghayati kandungan makna, hukum dan 'ibrah serta ajaran sucinya.
Terlebih lagi dalam momentum Ramadhan, bulan yang dahulu selalu digunakan oleh Rasulullah Muhammad Saw. untuk mempelajari dan menyelami lautan mutiara Alquran bersama teman belajarnya yang mulia, Rûhul Quds, Jibril as. Sebagaimana kesaksian Ibnu Abbas RA. berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَى جِبْرْيلَ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ. قَالَ: فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْممُرْسَلَةِ. (رواه أحمد)
Ibnu Abbas RA berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. adalah manusia yang paling dermawan. Dan ia berada dalam kondisi paling dermawan saat di bulan Ramadhan, yaitu ketika Malaikat Jibril menemuinya. Dan Jibril senantiasa menemuinya pada setiap malam Ramadhan untuk bersama mempelajari Alquran . Dan sungguh Rasulullah Saw. lebih dermawan dibanding angin yang berhembus." (HR Ahmad)
Dari kesaksian di atas, maka tidak heran jika kemudian beliau adalah manusia terbaik yang pernah terlahir di muka bumi. Juga tidak aneh, saat Ummul Mukminin Aisyah ra. ditanya tentang bagaimana akhlak Nabi, dengan tegas dia menjawab:
كَانَ أَخْلاَقُهُ الْقُرْآن, bahwa akhlaq Nabi sesuai dengan ajaran Alquran .
Allah sendiri menuntut kita untuk berinteraksi dengan Al Quran secara kualitatif, seperti yang termuat dalam firman-Nya, Shad ayat 29:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
"Kitab (Alquran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menyelami ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran."
Demikianlah, semoga Ramadhan ini dapat kita jadikan sebagai momentum agar kita dapat berinteraksi dengan Al-Quran secara lebih berkualitas. Dipandu oleh bimbingan para ulama kita, baik secara langsung melalui kajian-kajian yang kita hadiri, ataupun melalui kitab-kitab yang beliau-beliau tulis dan wariskan kepada kita.
Semoga Alquran memberikan kepada kita petunjuk guna keselamatan kita di dunia, dan memberikan kepada kita syafa'ah guna keselamatan kita di Akhirat kelak, âmîn yâ Rabbal 'âlamîn.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيم، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم، وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم
أَقُولُ قَوْلِي هذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْب. فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم
أَلْحَمْدُ للهِ ذِي الْعَظَمَةِ وَالْجَلاَل، أَلَّذِي قَدَّرَ اْلأَعْمَارَ وَحَدَّدَ اْلآجَال، وَأَمَرَنَا بِالْعِبَادَةِ وَصَالِحِ اْلأَعْمَال. أَشْهَدُ اَن لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، جَعَلَ الدُّنيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَة، وَمَكْسَبَ زَادٍ لِلْحَيَاةِ الْفَاخِرَة، لِلْخَلاَصِ مِننَ اْلأَهْوَالِ الْقَاهِرَة
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، أَلَّذِي حَذَّرَنَا مِنَ الدُّنْيَا دَارِ الدَّوَاهِي، وَمَكَانِ الْمَعَاصِي وَالْمَلاَهِي
صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الْكِرَام، وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ اْلأَنَام، وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
فَيَا أَيُّهَا النَّاس، إِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، وَرَاقِبُوهُ مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاه
فَقَدْ قَالَ تَعَالَى: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
أّللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمْيْدٌ مَجِيد
أَللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَووَات، يَا قَاضِيَ الْحَاجَات
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّار
عِبَادَ الله...إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَننْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلاَةَ
Contoh Khutbah Jumat Lailatul Qadar #1
Judul: Lailatul Qadar dan Cara Untuk Bisa Menjumpainya
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيِّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ . وَقَال: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَال اَيْضًا : اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada para hadirin sekalian, wabil khusus kepada diri khatib sendiri, untuk senantiasa menguatkan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Terlebih takwa merupakan tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Selain takwa, tiada kata yang patut kita ucapkan pada kesempatan kali ini selain kalimat Alhamdulillahirabbil'alamin sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt yang telah menganugerahkan banyak nikmat kepada kita.
Di antaranya adalah masih diberi-Nya kita umur panjang sehingga bisa menikmati manisnya bulan suci Ramadhan kali ini. Terlebih saat ini kita sudah memasuki 10 hari ketiga Ramadhan yang memiliki banyak keistimewaan di antaranya adalah adanya malam mulia yang keistimewaannya lebih baik dari 1.000 bulan yakni Lailatul Qadar.
Istimewanya malam ini, sampai-sampai dalam Al-Qur'an terdapat satu surat khusus yang menjelaskan tentang Lailatul Qadar yang diberi nama Surat Al-Qadr dengan 5 ayat di dalamnya:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ. تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ. سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?. Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Seperti dijelaskan dalam ayat tersebut, Lailatul Qadar memiliki keistimewaan dalam durasi 1.000 bulan. Jika jumlah waktunya dikonversikan, maka akan sama dengan 83 tahun. Angka ini merupakan umur standar rata-rata hidup manusia di dunia sehingga jika seseorang menemui malam Lailatul Qadar dan melakukan kebaikan-kebaikan di dalamnya, maka sama saja ia telah berbuat baik seumur hidupnya.
Namun untuk mendapatkan malam mulia ini sangatlah tidak mudah. Pasalnya, kapan waktu tepatnya malam lailatul qadar tidak bisa diketahui secara pasti. Butuh ikhtiar umat Islam untuk dapat menjumpainya dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah di sepuluh akhir di bulan Ramadhan. Hal ini juga sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang dikemukakan dalam hadits riwayat Muslim:
عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Artinya: "Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain," (HR Muslim).
Dari hadits ini kita bisa memahami bahwa semakin mendekati hari-hari terakhir Ramadhan, keistimewaan yang ada di dalamnya pun semakin banyak. Sehingga sangat merugilah mereka yang memiliki semangat di awal Ramadhan, namun kemudian terus turun semangatnya dalam beribadah ketika mendekati akhir-akhir Ramadhan. Oleh karenanya, keberadaan Lailatul Qadar ini diharapkan dapat memicu semangat kita kembali dalam beribadah untuk meraih Ridho Allah swt.
Hadits tersebut juga, menjadi petunjuk kuat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada 10 hari ketiga bulan Ramadhan. Lebih rinci lagi, Rasulullah memberi petunjuk bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam ganjil di 10 hari tersebut. Sabdanya:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ
"Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)". (HR. Al-Bukhari)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Dari hadits-hadits Nabi terkait dengan Lailatul Qadar, para ulama kemudian memberikan penjelasan lebih rinci lagi tentang waktu dan ciri-ciri malam Lailatul Qadar. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali dalam Kitab I'anatut Thalibin yang menyebut bahwa jatuhnya hari Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama bulan Ramadhan.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29. Jika awalnya jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25. Dan jika awalnya jatuh pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.
Selain dari menghitung harinya, Lailatul Qadar menurut berbagai kajian bersumber hadits Nabi juga bisa dilihat dan dirasakan ciri-cirinya melalui kondisi alam yang ada. Di antaranya bisa dirasakan pada pagi harinya, sinar matahari tidak terlalu panas dan cuaca terasa sejuk. Kemudian, malam hari pada Lailatul Qadar, langit terlihat bersih, tidak terdapat awan, suasana terasa tenang dan sunyi. Udara pada malam tersebut tidak dingin dan juga tidak pula panas.
Rasulullah bersabda:
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
Artinya, "Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan." (HR Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Lalu, apa saja yang sebaiknya kita lakukan di malam 10 hari ketiga bulan Ramadhan, khususnya di malam ganjil? Para ulama menganjurkan agar pada waktu-waktu tersebut untuk banyak melakukan ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Hal ini karena Malaikat turun dan mengunjungi seseorang pada malam itu. Malaikat adalah makhluk Allah yang senang dengan kebaikan dan melingkupi kebaikan apa saja. Sehingga melakukan kebaikan secara terus-menerus bisa mengantarkan manusia mendapatkan malam Lailatul Qadar.
Selanjutnya, kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga ketenangan, kedamaian, dan kerukunan sesuai dengan poin pada ayat kelima surat Al-Qadr yakni di malam Lailatul Qadar ada kedamaian sampai dengan fajar atau pagi hari. Ketika kita bisa menjaga kedamaian, Insyaallah, Allah akan menganugerahkan kita bertemu dengan Lailatul Qadar.
Semoga kita diberi karunia oleh Allah untuk dapat bertemu dengan malam mulia ini, dan semoga semua hajat kita akan dikabulkan oleh Allah swt. Amin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
للَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا. وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا. وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
(H Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung)
Contoh Khutbah Lailatul Qadar #2
Judul: 6 Keutamaan Lailatul Qadar dan Cara Meraihnya
Khutbah I
الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ،
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ:إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ٣ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ٤ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah serta Mahasuci dari bentuk dan ukuran.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Tema khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini adalah: "Malam Nuzulul Qur'an dan 6 Keutamaan Lailatul Qadar ".
Hadirin rahimakumullah,
Apa itu Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar adalah di antara kekhususan yang Allah anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad. Ia adalah malam yang penuh kemuliaan. Ibadah di dalamnya lebih utama daripada ibadah yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar -nya. Seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih 4 bulan.
Umat-umat Nabi terdahulu bisa beribadah di dunia ini dalam jangka waktu yang lama karena Allah menjadikan usia mereka panjang-panjang. Sedangkan umat Nabi Muhammad meskipun usia mereka rata-rata hanyalah antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, akan tetapi Allah menganugerahkan Lailatul Qadar kepada mereka. Dengan adanya Lailatul Qadar , umat Nabi Muhammad berkesempatan mendapatkan pahala yang besar meskipun hidupnya tidak lama di dunia ini.
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah..
Apa saja keutamaan Lailatul Qadar?
Pertama, Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Alquran . Sebagaimana kita tahu bahwa proses turunnya Al-Quran terjadi dalam dua tahap:
Tahap pertama, turunnya Al-Quran dari lauh mahfuz ke suatu tempat di langit yang pertama (langit dunia) yang bernama bait al 'izzah. Dalam tahap pertama ini, Al-Quran diturunkan semuanya dari awal hingga akhir secara lengkap.
Hal itu terjadi pada malam Lailatul Qadar yang saat itu bertepatan dengan malam dua puluh empat Ramadhan. Allah ta'ala berfirman:
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ
Maknanya: "Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran itu pada malam Lailatul Qadar." (QS al Qadr: 1)
Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وأُنزِلَ الْإِنْجِيْلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُوْرُ لِثَمَان عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ (رواه أحمد والطبراني والبيهقي وغيرهم)
Maknanya: "Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramadhan, Injil diturunkan pada malam tiga belas Ramadhan, Zabur diturunkan pada malam delapan belas Ramadhan dan Alquran diturunkan pada malam dua puluh empat Ramadhan." (HR Ahmad, ath Thabarani, al Baihaqi dan lainnya)
Tahap kedua, turunnya Alquran dari bait al 'izzah di langit yang pertama kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dalam tahap kedua ini, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan sebab dan peristiwa tertentu selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.
Lima ayat pertama dari surat al 'Alaq adalah yang pertama diturunkan kepada beliau di gua Hira' dengan perantaraan malaikat Jibril 'alaihis salam. Dan hal itu menurut sebagian ulama terjadi pada malam 17 Ramadhan. Atas dasar inilah kemudian malam 17 Ramadhan diperingati umat Islam sebagai malam Nuzulul Quran .
Kedua, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan. Allah ta'ala berfirman:
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍ Maknanya: "Sesungguhnya kami turunkan Alquran itu pada malam yang penuh berkah (malam Lailatul Qadar)." (QS ad Dukhan: 3)
Ketiga, pada malam Lailatul Qadar, Allah memberitahukan kepada para malaikat mengenai apa yang terjadi di kalangan para hamba sampai datangnya Lailatul Qadar pada tahun berikutnya. Allah memberitahukan kepada mereka siapa saja yang lahir, mati, ditimpa musibah, sakit, sehat, dilapangkan rezekinya, disempitkan rezekinya dan lain sebagainya dalam kurun satu tahun kedepan. Tafsir al Qurthubi, an Nasafi dan lainnya menjelaskan bahwa itulah makna dari ayat:
فِيهَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ
Maknanya: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS ad Dukhan: 4)
Keempat, amal shalih pada Lailatul Qadar lebih baik daripada amal shalih yang dilakukan selama seribu bulan sebagaimana ditegaskan oleh Allah:
لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ Maknanya: "Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS al Qadr: 3)
Kelima, para malaikat dari setiap langit turun memenuhi lapisan bumi mendoakan dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah. Allah ta'ala berfirman:
تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ
Maknanya: "Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." (QS al Qadr: 4). Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ الْقَدْرِ نَزَلَ جِبْرِيْلُ فِي كَبْكَبَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ يُصَلُّوْنَ وَيُسَلِّمُوْنَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ قَائِمٍ أَوْ قَاعِدٍ يَذْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْزِلُوْنَ مِنْ لَدُنْ غُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ (رواه البيهقى فى شعب الإيمان والسيوطىّ فى الجامع الكبير)
Maknanya: "Jika tiba Lailatul Qadar , malaikat Jibril turun dengan serombongan malaikat lalu mendoakan dan mengucapkan salam kepada setiap hamba yang berdiri atau duduk berdzikir mengingat Allah. Mereka turun dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar" (HR al Baihaqi dalam Syu'ab al Iman dan as Suyuthi dalam al Jami' al Kabir)
Keenam, Lailatul Qadar adalah malam keselamatan dan keberkahan bagi para wali dan orang-orang yang melakukan ketaatan. Pada malam itu, setan tidak dapat berbuat buruk kepada orang-orang yang melakukan kebaikan. Allah ta'ala berfirman:
سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ Maknanya: "Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar" (QS al Qadr: 5)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Kapan terjadinya Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar terjadi satu kali dalam satu tahun di bulan Ramadhan. Mungkin saja ia terjadi pada satu malam di antara malam-malam Ramadhan. Mungkin pada malam pertama, malam kesembilan atau malam-malam yang lain. Akan tetapi kemungkinan besar ia terjadi pada salah satu dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)
Maknanya: "Carilah Lailatul Qadar itu di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan" (HR al Bukhari)
Imam Syafi'i berpendapat sebagaimana dikutip oleh Syekh Zakariya al Anshari dalam Fath al Wahhab bahwa Lailatul Qadar kemungkinan besar terjadi pada malam 21 atau malam 23 Ramadhan. Sedangkan para ulama yang lain berpendapat, kemungkinan besar Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan.
Mengapa Lailatul Qadar keberadaannya dirahasiakan? Salah satu hikmahnya adalah supaya kita senantiasa beribadah terus menerus tanpa henti pada setiap malam di bulan Ramadhan.
Hadirin rahimakumullah...
Apa saja tanda terjadinya Lailatul Qadar ?
Dalam kitab Jawahir al A'immah fi Tafsir Juz'i 'Amma, disebutkan bahwa di antara tanda-tandanya adalah melihat cahaya yang bukan cahaya matahari, cahaya bulan atau cahaya listrik, melihat terbitnya matahari pada keesokan harinya berbeda dengan saat ia terbit di hari-hari yang lain, yaitu dalam keadaan putih dan tidak banyak memancarkan cahaya, melihat pohon bersujud dan lain sebagainya.
Sebagian orang melihat tanda-tanda itu dalam mimpi dan sebagian yang lain melihatnya dalam keadaan jaga. Melihatnya dalam keadaan jaga adalah lebih sempurna keberkahan dan kemuliaannya. Barang siapa yang melihatnya dalam keadaan jaga, maka sungguh ia telah melihat Lailatul Qadar.
Sedangkan melihatnya dalam mimpi adalah sebuah kebaikan. Dan barangsiapa yang tidak melihat tanda-tanda tersebut akan tetapi ia bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan pada malam itu, maka ia memperoleh keberkahan yang agung.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Apa yang semestinya dilakukan ketika melihat tanda Lailatul Qadar ?
Yang dilakukan adalah menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti memperbanyak membaca istighfar, dzikir, shalat-shalat sunnah, memperbanyak membaca Alquran , beri'tikaf di masjid dan lain sebagainya. Serta memperbanyak doa, terutama doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah:
اللهم إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun mencintai pengampunan, maka ampunilah dosa-dosaku."
Juga memperbanyak membaca doa yang paling sering dibaca oleh Baginda Nabi baik pada Ramadhan atau pun di luar Ramadhan:
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
"Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Maknanya: "Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan berbagai ibadah dengan dilandasi keimanan dan niat mengharap ridho Allah semata, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR al Bukhari dan Muslim).
Hadirin yang dirahmati Allah..
Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga kita dikuatkan dan dimudahkan oleh Allah ta'ala untuk melakukan berbagai ketaatan di bulan Ramadhan, melihat salah satu tanda Lailatul Qadar dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan meraih derajat takwa. Amin.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
(mep/mep)











































