Kesalahan Fatal Saat Hiking? Ini Penjelasanya!

Rhessya Maris - detikSumbagsel
Jumat, 30 Jan 2026 21:00 WIB
Ilustrasi hiking (Foto: Thinkstock)
Palembang -

Hiking adalah cara terbaik untuk melepas penat dan menyatu dengan alam. Namun, satu kesalahan kecil saat hiking bisa berubah menjadi situasi hidup dan mati dalam hitungan jam.

Menurut data Basarnas di tahun 2015 hingga 2018, kecelakaan pendakian di Indonesia didominasi oleh tiga faktor utama yang selaras dengan daftar kesalahan fatal, yaitu hipotermia (47%), tersesat (29%), dan kecelakaan fisik (24%).

Agar tidak melakukan kesalahan, berikut detikSumbagsel rangkum, panduan mengenai kesalahan fatal saat hiking yang sering dilakukan oleh pendaki. Yuk simak!

1. Meremehkan Persiapan Fisik dan Mental

Banyak pendaki pemula menganggap hiking hanyalah berjalan kaki di tanjakan. Padahal, hiking melibatkan beban tas, medan yang tidak rata, serta perubahan tekanan udara.

Memaksakan diri mendaki gunung dengan trek berat tanpa latihan fisik cardio dan penguatan otot kaki sebelumnya, dapat berakibat ekstrem di tengah jalan, kram otot kronis, hingga serangan jantung.

2. Mengabaikan Laporan Cuaca

Cuaca di pegunungan tidak bisa diprediksi. Matahari yang terik di kaki gunung bisa berubah menjadi badai petir dalam waktu singkat di area puncak.

Tetap mendaki meski ramalan cuaca buruk atau tidak memeriksa prakiraan cuaca sama sekali, akan berisiko tersambar petir atau hipotermia karena pakaian basah kuyup.

Cek aplikasi cuaca terpercaya atau laporan BMKG. Jika cuaca memburuk saat di jalur, jangan ragu untuk turun atau membatalkan puncak.

3. Pakaian yang Tidak Tepat

Dalam dunia outdoor, ada pepatah Cotton Kills atau Katun Membunuh. Katun menyerap keringat dan air hujan namun sangat lama kering. Kain yang basah dan dingin akan menyerap panas tubuh Anda, mempercepat terjadinya hipotermia.

Gunakan bahan sintetis seperti polyester atau wol merino yang cepat kering dan tetap hangat meski basah. Selalu bawa jas hujan berkualitas.

4. Manajemen Logistik dan Air yang Buruk

Dehidrasi adalah musuh tersembunyi. Saat tubuh kekurangan cairan, fokus berkurang, koordinasi motorik menurun, dan risiko kecelakaan meningkat.

Hitung kebutuhan air berdasarkan durasi perjalanan. Bawalah filter air portabel atau tablet pemurni air jika ada sumber air di jalur. Selalu bawa makanan tinggi kalori yang praktis seperti cokelat, kacang-kacangan, dan bar energi.

5. Mengandalkan Gadget Sepenuhnya

GPS di ponsel memang sangat membantu, tapi teknologi bisa gagal. Baterai HP habis karena suhu dingin atau sinyal hilang, membuat pendaki buta arah.

Pelajari navigasi darat dasar. Bawa powerbank dan simpan ponsel di tempat yang hangat agar baterai tidak cepat drop.

6. Keluar dari Jalur Resmi

Rasa penasaran atau keinginan untuk cepat sampai seringkali membuat pendaki mengambil jalan pintas.

Dampaknya pendaki bisa tersesat di jurang, terjebak di vegetasi rapat, atau merusak ekosistem yang dilindungi. Mayoritas kasus orang hilang di gunung dimulai dari keputusan keluar dari jalur.

Tetap di jalur yang sudah ada. Jika merasa tersesat, gunakan teknik (Sit, Think, Observe, Plan (S.T.O.P).

7. Melupakan First Aid Kit dan Pengetahuan Medis Dasar

Banyak pendaki membawa kotak P3K tapi tidak tahu cara menggunakannya. Bawa First Aid Kit lengkap dan pelajari cara menangani gejala penyakit gunung seperti Acute Mountain Sickness (AMS).

8. Ego yang Terlalu Tinggi

Summit Fever adalah ambisi buta untuk mencapai puncak tanpa mempedulikan kondisi tubuh atau waktu.

Memaksakan naik ke puncak meski hari sudah gelap atau tubuh sudah sangat lemah. Ingat, puncak hanyalah bonus. Pulang ke rumah dengan selamat adalah tujuan utama.

Tentukan turn-around time atau waktu maksimal untuk balik arah, misalnya jam 10 pagi harus sudah turun dari puncak.



Simak Video "Dokter Anak soal Dampak Fisik-Mental Bagi Balita Mendaki Gunung"


(csb/csb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

detikNetwork