Hiking adalah cara terbaik untuk melepas penat dan menyatu dengan alam. Namun, satu kesalahan kecil saat hiking bisa berubah menjadi situasi hidup dan mati dalam hitungan jam.
Menurut data Basarnas di tahun 2015 hingga 2018, kecelakaan pendakian di Indonesia didominasi oleh tiga faktor utama yang selaras dengan daftar kesalahan fatal, yaitu hipotermia (47%), tersesat (29%), dan kecelakaan fisik (24%).
Agar tidak melakukan kesalahan, berikut detikSumbagsel rangkum, panduan mengenai kesalahan fatal saat hiking yang sering dilakukan oleh pendaki. Yuk simak!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Meremehkan Persiapan Fisik dan Mental
Banyak pendaki pemula menganggap hiking hanyalah berjalan kaki di tanjakan. Padahal, hiking melibatkan beban tas, medan yang tidak rata, serta perubahan tekanan udara.
Memaksakan diri mendaki gunung dengan trek berat tanpa latihan fisik cardio dan penguatan otot kaki sebelumnya, dapat berakibat ekstrem di tengah jalan, kram otot kronis, hingga serangan jantung.
2. Mengabaikan Laporan Cuaca
Cuaca di pegunungan tidak bisa diprediksi. Matahari yang terik di kaki gunung bisa berubah menjadi badai petir dalam waktu singkat di area puncak.
Tetap mendaki meski ramalan cuaca buruk atau tidak memeriksa prakiraan cuaca sama sekali, akan berisiko tersambar petir atau hipotermia karena pakaian basah kuyup.
Cek aplikasi cuaca terpercaya atau laporan BMKG. Jika cuaca memburuk saat di jalur, jangan ragu untuk turun atau membatalkan puncak.
3. Pakaian yang Tidak Tepat
Dalam dunia outdoor, ada pepatah Cotton Kills atau Katun Membunuh. Katun menyerap keringat dan air hujan namun sangat lama kering. Kain yang basah dan dingin akan menyerap panas tubuh Anda, mempercepat terjadinya hipotermia.
Gunakan bahan sintetis seperti polyester atau wol merino yang cepat kering dan tetap hangat meski basah. Selalu bawa jas hujan berkualitas.
4. Manajemen Logistik dan Air yang Buruk
Dehidrasi adalah musuh tersembunyi. Saat tubuh kekurangan cairan, fokus berkurang, koordinasi motorik menurun, dan risiko kecelakaan meningkat.
Hitung kebutuhan air berdasarkan durasi perjalanan. Bawalah filter air portabel atau tablet pemurni air jika ada sumber air di jalur. Selalu bawa makanan tinggi kalori yang praktis seperti cokelat, kacang-kacangan, dan bar energi.
5. Mengandalkan Gadget Sepenuhnya
GPS di ponsel memang sangat membantu, tapi teknologi bisa gagal. Baterai HP habis karena suhu dingin atau sinyal hilang, membuat pendaki buta arah.
Pelajari navigasi darat dasar. Bawa powerbank dan simpan ponsel di tempat yang hangat agar baterai tidak cepat drop.
6. Keluar dari Jalur Resmi
Rasa penasaran atau keinginan untuk cepat sampai seringkali membuat pendaki mengambil jalan pintas.
Dampaknya pendaki bisa tersesat di jurang, terjebak di vegetasi rapat, atau merusak ekosistem yang dilindungi. Mayoritas kasus orang hilang di gunung dimulai dari keputusan keluar dari jalur.
Tetap di jalur yang sudah ada. Jika merasa tersesat, gunakan teknik (Sit, Think, Observe, Plan (S.T.O.P).
7. Melupakan First Aid Kit dan Pengetahuan Medis Dasar
Banyak pendaki membawa kotak P3K tapi tidak tahu cara menggunakannya. Bawa First Aid Kit lengkap dan pelajari cara menangani gejala penyakit gunung seperti Acute Mountain Sickness (AMS).
8. Ego yang Terlalu Tinggi
Summit Fever adalah ambisi buta untuk mencapai puncak tanpa mempedulikan kondisi tubuh atau waktu.
Memaksakan naik ke puncak meski hari sudah gelap atau tubuh sudah sangat lemah. Ingat, puncak hanyalah bonus. Pulang ke rumah dengan selamat adalah tujuan utama.
Tentukan turn-around time atau waktu maksimal untuk balik arah, misalnya jam 10 pagi harus sudah turun dari puncak.
Peralatan Yang Wajib Di Bawa Ketika Hiking
Mendaki gunung bukan sekadar tentang fisik, tapi juga tentang seberapa siap alat yang Anda bawa. Berikut adalah daftar esensial yang telah disusun ulang berdasarkan prioritas fungsi di lapangan:
1. Sepatu Gunung
Jangan sesekali meremehkan medan dengan menggunakan sepatu kets biasa. Sepatu khusus hiking memiliki sol dengan daya cengkeram tinggi yang dirancang untuk jalur licin, berbatu, dan terjal. Ini adalah investasi utama untuk mencegah cedera engkel atau terpeleset.
2. Pakaian Pelindung & Jaket Outdoor
Suhu di ketinggian sangat fluktuatif. Bawalah jaket yang memiliki fitur tahan air dan tahan angin. Pastikan bahannya mampu mengunci panas tubuh agar suhu internal Anda tetap stabil meski cuaca sedang ekstrem.
3. Jas Hujan
Seringkali dianggap sepele saat cuaca cerah, padahal jas hujan adalah pelindung terakhir dari risiko hipotermia. Selalu siapkan jas hujan di bagian tas yang mudah dijangkau agar Anda tidak panik saat hujan turun tiba-tiba di tengah jalur.
4. Pakaian Ganti & Aksesori Penghangat
Selalu bawa baju ganti, kaos kaki cadangan, dan sarung tangan dalam kantong kedap air. Mengganti pakaian basah dengan yang kering saat sampai di perkemahan adalah kunci utama untuk menghindari kedinginan saat suhu drop di malam hari.
5. Tenda, Matras, dan Sleeping Bag
Jika Anda berencana bermalam, tiga serangkai ini tidak boleh dipisahkan
Tenda, pilih kapasitas yang sesuai agar tidak terlalu sempit atau terlalu berat.
Matras, sebagai isolator agar suhu dingin dari tanah tidak langsung menyerap ke tubuh.
Sleeping Bag, pilihlah yang berkualitas untuk memastikan pemulihan energi Anda maksimal.
6. Tas Ransel
Pilih tas sesuai durasi trip. Gunakan Carrier berkapasitas besar jika membawa perlengkapan kemah. Untuk pendakian singkat, Daypack atau Hydropack jauh lebih efisien. Pastikan sistem bantalan bahunya nyaman untuk menyangga beban berat.
7. Alat Masak Portabel
Gunakan kompor portable dan nesting atau perangkat masak yang didesain ringkas. Alat masak khusus pendakian biasanya bisa disusun bertumpuk sehingga menghemat banyak ruang di dalam tas.
8. Logistik dan Kantong Sampah
Bawa bahan makanan berkalori tinggi dan air minum yang cukup. Yang paling krusial, jadilah pendaki bertanggung jawab dengan membawa kantong sampah sendiri. Apa pun yang Anda bawa naik, wajib Anda bawa turun kembali.
9. Kotak P3K & Emergency Blanket
Kecelakaan tidak pernah ada dalam rencana, namun harus dipersiapkan. Bawa obat-obatan standar dan selimut darurat. Selimut tipis berbahan aluminium ini sangat efektif menahan panas tubuh dalam kondisi darurat medis.
Hiking adalah aktivitas yang sangat memuaskan, namun tidak memberikan ruang bagi kesombongan. Mayoritas kecelakaan di gunung terjadi karena akumulasi dari kesalahan-kesalahan kecil yang diabaikan.
Dengan persiapan yang matang, perlengkapan yang tepat, dan sikap yang rendah hati terhadap alam, Anda bisa menikmati petualangan dengan aman.
Jangan menjadi bagian dari statistik kecelakaan di gunung. Persiapkan diri Anda sekarang sebelum melangkah menuju jalur pendakian berikutnya.
Nah, itulah kesalahan yang paling sering dilakukan oleh pendaki. Jangan sampai jadi salah satunya ya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama
Simak Video "Dokter Anak soal Dampak Fisik-Mental Bagi Balita Mendaki Gunung"
[Gambas:Video 20detik]
(csb/csb)











































