Sumbagsel Punya Cerita

Asa Warga Binaan di Jambi Bertani dari Balik Jeruji

Dimas Sanjaya - detikSumbagsel
Minggu, 28 Sep 2025 18:00 WIB
Foto: Warga binaan Lapas Muara Bulian, memanen pakcoi dari hidroponik sebagai bagian dari sentra ketahanan pangan lapas (Dimas Sanjaya)
Jambi -

Matahari belum terlalu tinggi pagi itu, beberapa warga binaan Lapas Kelas IIB Muara Bulian, Batang Hari, Jambi, bergegas menuju ke lahan pertanian yang berada di halaman samping gedung lapas.

Di sana mereka menanam dan merawat masa depan melalui kegiatan bertani yang menjadi bagian program pembinaan kemandirian. Setiap pagi, blok tahanan yang sempit dan padat ditinggalkan sejenak.

Beberapa warga binaan berpindah ke dunia berbeda, dunia yang penuh tanah, air, dan tanaman. Di sana, mereka merawat benih-benih tanaman yang tumbuh di balik pagar kawat berduri.

Dengan lahan seluas 2.811 meter persegi yang disulap menjadi area pertanian dan peternakan, para warga binaan menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, kangkung, tomat, dan padi. Di sudut lain, terdapat kandang ayam kampung yang dikelola secara terintegrasi dengan lahan pertanian.

Program pembinaan kemandirian warga binaan ini dihimpun dalam program sentral ketahanan pangan lapas. Tak hanya mengelola lahan terbuka, warga binaan juga mengelola tanaman hidroponik yang dimanfaatkan untuk menanam sayuran seperti selada dan pakcoy.

Kakanwil Ditjenpas Jambi mencoba smart farming, kontrol penyiraman tanaman melalui aplikasi smartphone Foto: Dimas Sanjaya

Adit, salah satunya warga binaan yang dipercaya mengelola hidroponik. Dengan mengenakan baju berlabel 'warga binaan', dia dengan telaten menjaga kestabilan air pada tanaman selada dan pakcoy yang disusun secara bertingkat dalam media tanam hidroponik.

Air berisi nutrisi mengaliri akar sayuran hijau tersebut. Tenaga listrik menggerakkan air dari ujung kanan hingga kiri. Sawi terlihat segar, sehat, dan membuat siapa saja yang memandang ingin memanennya.

"Kalau masa tanamnya ini 30 hari atau 3 minggu sudah bisa dipanen," kata Adit di sela memanen selada dan pakcoi saat ditemui.

Hidroponik ini memanfaatkan lahan 24 m² di samping gedung Lapas Muara Bulian dengan media 600 lobang tanam. Setiap kali panen bisa menghasilkan 100 kg.
"Kalau hasilnya ada yang dibawa ke dapur untuk dikonsumsi di dalam, dan ada yang dijual," ujarnya.

Selain mengasah keterampilan, program ini juga memberi rasa percaya diri dan tanggung jawab bagi warga binaan. Mereka telah dibagi-bagi tanggung jawab dalam mengelola tanaman pertanian.

Program pertanian ini digagas untuk memberi bekal keterampilan bagi warga binaan agar mampu mandiri setelah bebas nanti. Banyak mantan narapidana yang setelah bebas justru kembali terjebak di lingkaran lama karena sulit diterima di masyarakat. Di sinilah program seperti pertanian di Lapas menjadi sangat penting.

Mereka diajarkan cara menanam, merawat, hingga memanen sayuran. Tidak sedikit yang sebelumnya sama sekali tak pernah bersentuhan dengan dunia pertanian.

"Sekarang saya malah suka. Kalau pagi nggak ke kebun, rasanya ada yang kurang," kata Adit.

Warga binaan memberi pakan yang telah dimasak ke ayam kampung. Foto: Dimas Sanjaya

Dodi, juga salah satu warga binaan yang diberi tanggung jawab mengelola ayam kampung unggulan. Ada 700 ekor ayam kampung yang dikelolanya mulai dari usia 1 bulan hingga 12 bulan. Tentunya Dodi tak sendiri, dia juga dibantu 6-8 warga binaan lainnya untuk memproduksi pakan dan memberi pakan ke masing-masing kandang.

"Kami mendapat pendampingan untuk perawatan ayam ini. Misalnya di kandang ini menggunakan sekam padi sebagai alasnya, tujuannya biar tidak bau," ujarnya.

Yang menarik, pakan ayam kampung ini diproduksi sendiri oleh warga binaan. Sisa sayuran seperti sawi, kol, dan nasi dikumpulkan, kemudian dicacah dan direbus selama lima menit sebelum diberikan sebagai pakan ayam.



Simak Video "Video Gubernur Al Haris Siap Tanggung Jawab Dana Nasabah Bank Jambi"


(dai/dai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork