Tari Jepen Behuma: Harmoni Gerak dan Tradisi Agraris Kutai

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 27 Sep 2026 08:01 WIB
Foto: Pertunjukan Tari Jepen Behuma Manangguk dari siswa SDN 006 Balikpapan Utara.. (dok FLS2N 2023)
Kutai Kartanegara -

Kalimantan Timur tidak hanya kaya akan pesona alamnya, tetapi juga menyimpan mahakarya seni luar biasa. Salah satunya adalah Tari Jepen Behuma yang mencerminkan tradisi masyarakat agraris Nusantara.

Tarian kreasi dari Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini merangkum panjangnya proses tradisi berladang padi masyarakat zaman dahulu ke dalam gerak tari yang sangat dinamis dan memukau. Simak bagaimana asal-usul, gerak tari, hingga peralatannya.

Asal-usul Tari Jepen Behuma

Dirangkum dari buku Deskripsi Seni Kalimantan Timur (2014) oleh Kemdikbud, penciptaan tari ini berawal dari keinginan para seniman dan tokoh kesenian Kalimantan Timur untuk merepresentasikan tradisi agraris suku Kutai pesisir ke dalam wujud koreografi yang indah dan bermakna.

Behuma bukanlah aktivitas pertanian di sawah pada umumnya. Behuma merupakan sistem berladang padi secara berpindah-pindah yang telah menjadi akar kebudayaan nenek moyang masyarakat setempat sejak masa lampau.

Tata Cara Tradisi Behuma

Sebelum diangkat menjadi sebuah karya seni tari, kegiatan behuma dalam realitasnya memiliki proses yang sangat panjang serta sarat akan nilai-nilai gotong royong dan penghormatan terhadap alam sekitar. Secara rinci, langkah-langkah kegiatan behuma yang biasa dilakukan oleh para petani tersebut meliputi berbagai tahapan berikut:

  1. Menandai tempat (nazar) dan memasang plang dari anak kayu berwujud panah untuk menandai lokasi hutan atau semak belukar seluas 2 hingga 5 hektar yang akan digarap.
  2. Menentukan hari baik untuk merintis (nebas) lahan, dilanjutkan dengan kegiatan menebang pohon-pohon berukuran kecil (nernak) agar area ladang menjadi lebih lapang.
  3. Menebang pohon-pohon besar menggunakan kapak atau beliung, dilanjutkan dengan kegiatan menyencang (memotong ranting dan dahan) agar sisa pohon merapat ke tanah.
  4. Menjemur sisa daun dan ranting (reba) selama belasan hingga puluhan hari, kemudian membakar ladang dengan membuat sekat pelindung agar api tidak menjalar ke ladang milik tetangga.
  5. Melakukan enduru dan mumpun, yakni kegiatan mengumpulkan sekaligus membersihkan sisa-sisa dahan, ranting, dan daun yang belum habis terbakar oleh api.
  6. Menanam padi secara bergotong royong di hari yang baik dengan menggunakan sesajen, yang kemudian diakhiri dengan merawat tanaman dari serangan hama hingga siap dipanen.




(bai/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork