Tingkilan adalah salah satu bentuk seni musik tradisional masyarakat Kutai yang hidup di wilayah pesisir dan kawasan sepanjang Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Seni ini eksis selama berabad-abad lamanya sebagai sarana komunikasi dan hiburan masyarakat Kutai.
Secara etimologis, istilah Tingkilan berasal dari bahasa Kutai lama yang terdiri dari dua unsur kata, yaitu 'ting' dan 'kil'. Di mana 'ting' berarti suara senar yang dipetik dan 'kil' berarti tindakan memetik sehingga bisa diartikan pada aktivitas memetik instrumen musik seperti gambus.
Dari situ, istilah tingkilan berkembang menjadi sebutan untuk musik ansambel tradisional, serta proses menyanyikan lagu dengan pantun yang saling bersahut-sahutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam budaya Kutai, tingkilan bukan hanya musik semata, melainkan ekspresi seni pertunjukan yang melekat pada kehidupan sosial masyarakat Kutai. Terutama di wilayah Tenggarong dan sekitarnya.
Sejarah dan Asal Usul Tingkilan
Tingkilan berkembang seiring dengan perkembangan budaya Melayu dan Islam di Kutai sejak berabad-abad silam. Kemungkinan besar sejak abad ke-16 ketika interaksi dengan budaya Melayu pesisir dan pengaruh Islam semakin kuat, khususnya di wilayah Hulu hingga Hilir Sungai Mahakam.
Musik ini kemudian dijadikan bagian dari berbagai kegiatan rakyat dan ritual, seperti hajat adat, pesta panen, pernikahan, hingga acara perkumpulan malam.
Peran utama tingkilan awalnya adalah sebagai musik pertunjukan rakyat yang menggabungkan suara instrumen dengan pantun berbalas (disebut betingkilan) antara dua penyanyi, biasanya pria dan wanita. Pertukaran pantun ini mengandung pesan moral, sosial, cinta, atau nasihat, sekaligus menjadi sarana hiburan dan komunikasi.
Musik dan Instrumen
Tingkilan secara tradisional dimainkan oleh sekelompok pemusik yang menggabungkan beberapa instrumen khas yang berasal dari gabungan budaya Melayu dan lokal Kutai, di antaranya:
- Gambus Kutai
- Ketipung
- Kendang
- Biola atau cello
Musik ini ketika digabungkan akan membentuk melodi ritmis dan cocok dipadukan dengan betingkilan antarpenyanyi yang bersahut-sahutan. Tingkilan juga dapat dibedakan berdasarkan gaya atau lokasi pengembangannya, misalnya Hulu Mahakam, Hilir Mahakam, dan wilayah pesisir, walaupun secara umum tetap sama konsepnya.
Salah satu komponen penting lainnya dari tingkilan adalah pantun atau syair yang dinyanyikan. Pantun ini seringkali berisi nasihat moral, kritik sosial, cerita cinta, dan pesan kehidupan. Tidak lupa juga mengandung nilai budaya yang memperkuat hubungan masyarakat satu sama lain.
Nilai-nilai yang dikandung biasanya meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, masyarakat, alam, dan hubungan antarindividu. Berikut contoh lirik tingkilan yang dikutip dari karya Akmad dkk (2024) yang berjudul Analisis Tingkilan Suku Kutai di Tenggarong Ditinjau dari Bentuk Puisi Lama dan Nilai Budaya, serta Setyawati dkk (2024) berjudul Analisis Tuturan Tingkilan Suku Kutai di Tenggarong dan Upaya Pelestariannya.
Contoh 1: 'Lipat Sirih'
Dengan Bismillah saya mulai
Kata Amin saya sudahi
Harap mendengar saya
Harkati ini Tingkilan Kutai nya asli
Contoh 2: 'Paham Pangan'
Jalan-jalan ke pinggir kali
Bukan main ya panasnya hari
Saya bernyanyi sampai di sini
Lain hari ya disambung lagi
Contoh 3: 'Pinang Babaris'
Pinang dan sirih ya di dalam baju
Dibuang jangan ya dimakan jangan
Pinang bebaris ya nama laguku
Dikenang jangan dilupakan jangan
Berapa lama ya merendam garam
Garam direndam ya bercampur cuka
Berapa lama menaruh dendam
Baru sekarang ya bertemu mata
Tebulah salah ya serai serampun
Tanaman orang ya di tanah dusun
Kalau tersalah ya meminta ampun
Kita bergurau ya di dalam pantun
Fungsi Budaya Tingkilan di Masyarakat Kutai
Akmad dkk juga menjelaskan beberapa fungsi tingkilan dalam masyarakat Kutai, di antaranya:
1. Hiburan dan Solidaritas Sosial
Tingkilan menjadi sumber hiburan rakyat dalam berbagai acara adat dan sosial, termasuk pesta rakyat, penyambutan tamu, dan pertemuan komunitas. Keberadaannya memperkuat solidaritas antarwarga.
2. Iringan Tari Tradisional
Musik tingkilan sering digunakan sebagai iringan untuk Tari Jepen, tarian tradisional Kutai yang mencerminkan keseharian masyarakat pesisir.
3. Media Pendidikan
Pantun yang dibawakan dalam tingkilan sering berisi nasihat, cerita moral, dan sejarah lisan, sehingga musik ini juga berfungsi sebagai media pendidikan untuk menyebarluaskan ajaran budaya.
4. Identitas Budaya
Dalam satu dekade terakhir, tingkilan mendapat perhatian baru sebagai bagian dari pelestarian budaya dan potensi pariwisata di Tenggarong. Festival seperti TingkiLand Fest pada 2025 lalu yang menampilkan tingkilan dalam format yang dipadukan dengan musik modern pop untuk menarik generasi muda.
Itulah Tingkilan Kutai, sebuah warisan budaya yang bukan hanya berisi pantun dan irama musik, tetapi juga nilai, rasa, dan identitas masyarakat Kutai.
Hingga hari ini, kesenian ini masih hidup dan terus dilestarikan, khususnya di Tenggarong. Yuk, ikut menjaga dan melestarikan salah satu budaya asli Kutai ini!
Simak Video "Bersenang-senang dan Piknik Kuliner di Pantai Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/aau)
