Mengapa Kalimantan Identik dengan Orang Dayak? Ini Sejarah dan Alasannya

Mengapa Kalimantan Identik dengan Orang Dayak? Ini Sejarah dan Alasannya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 08 Jul 2026 23:00 WIB
Tari Alah Tedak yang diangkat dari filosofi tato bagi suku Dayak Kayaan, Kalbar.
Tari Alah Tedak yang diangkat dari filosofi tato bagi suku Dayak Kayaan, Kalbar/Foto: dok Media Center Kota Palangka Raya/Gusti
Balikpapan -

Selain hutan hujan tropis, Kalimantan juga dikenal sebagai tanah bermukimnya suku Dayak. Pulau terbesar ketiga di dunia ini adalah rumah bagi suku Dayak, termasuk ratusan sub-suku yang hidup berdampingan dengan alam.

Sebenarnya ada banyak suku di Kalimantan, di antaranya Banjar, Kutai, Melayu, bahkan suku pendatang seperti Jawa, Bugis, dan Tionghoa. Tapi, kenapa Dayak yang menjadi wajah dari pulau ini?

Menariknya, dikutip dari buku The Peoples of Borneo karya antropolog Victor T. King (1993), kata Dayak digunakan sebagai sebutan untuk masyarakat non-Melayu yang tinggal di wilayah pedalaman Borneo. Sebutan itu merujuk ke ratusan sub-suku yang memiliki bahasa, adat istiadat, rumah adat, pakaian, dan tradisi yang berbeda-beda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa sub-suku yang dikenal antara lain Dayak Kenyah, Kayan, Bahau, Benuaq, Tunjung, Ngaju, Ot Danum, Ma'anyan, Kanayatn, Iban, Desa, Punan, Murut, Bukat, dan masih banyak lagi. Karena penyebarannya hampir mencakup seluruh wilayah Kalimantan, baik Kalimantan Barat, Tengah, Timur, Utara, hingga Sabah, Sarawak, dan Brunei Darussalam, masyarakat Dayak kemudian diketahui menjadi kelompok adat terbesar di Pulau Borneo.

Temuan-temuan dari Peneliti di Kalimantan

Alasan lainnya juga dijelaskan Victor dalam bukunya. Ia menyebut sejak abad ke-19, para penjelajah, misionaris, pegawai kolonial Belanda maupun Inggris, dan ilmuwan antropologi banyak melakukan penelitian di pedalaman Borneo. Wilayah pedalaman tersebut dihuni terutama oleh komunitas-komunitas Dayak, sehingga laporan perjalanan mereka hampir selalu membahas kehidupan masyarakat Dayak.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Bernard Sellato dalam bukunya Nomads of the Borneo Rainforest (1994). Di sana, Bernard memaparkan bahwa selama berabad-abad, masyarakat Dayak merupakan penghuni utama kawasan pedalaman dan hutan Kalimantan.

Karena itulah, ketika orang awam memasuki jantung Borneo, suku yang paling dikenali adalah Dayak. Sementara itu, masyarakat Melayu, Banjar, Kutai, Tidung, maupun etnis pesisir lainnya lebih banyak bermukim di wilayah pantai, muara sungai, atau pusat-pusat kota.

Akibatnya, ketika para penjelajah maupun peneliti mulai memasuki pedalaman, mereka lebih sering berinteraksi dengan masyarakat Dayak. Dari sinilah perlahan terbentuk persepsi bahwa Kalimantan identik dengan Dayak, meskipun memang suku asli tanah ini adalah suku Dayak.

Kebudayaan Dayak yang Unik

Selain faktor sejarah, budaya Dayak juga sangat mudah dikenali. Keberadaan rumah Betang atau Lamin yang memanjang hingga puluhan meter dengan ukiran kayu bermotif tumbuhan dan hewan, serta burung enggang, merupakan keunikan tersendiri dari suku Dayak.

Victor dan Ave dalam karyanya berjudul People of the Weeping Forest: Traditions of Change in Borneo, menyoroti seni ukir, rumah panjang, dan simbol-simbol lain dari budaya Dayak. Keunikan itu yang disebut sebagai ciri khas, identitas, dan pembeda antara orang asli Kalimantan dengan kebudayaan lain di Asia Tenggara.

Hal lainnya juga bisa dilihat dari penampilan orang Dayak yang cenderung mencolok. Pakaian mereka berwarna terang dengan bermacam-macam motif yang dipadukan manik-manik berwarna cerah hasil kerajinan tangan sendiri. Perhiasan seperti kalung dari taring atau biji-bijian, serta kepala yang dihiasi bulu burung enggang juga jadi ciri khas tersendiri.

Pada sebagian subetnis, terutama Dayak Kenyah dan Kayan, perempuan Dayak memiliki tato tradisional di tangan atau lengan sebagai simbol kecantikan, kedewasaan, dan status sosial. Alasan inilah yang kemudian membuat sosok orang Dayak begitu mudah dikenali.

Selain itu, Kalimantan juga memiliki beragam kesenian Dayak yang kini semakin dikenal luas, seperti Tari Hudoq, Tari Kancet Ledo, Tari Monong, Tari Gantar, serta alat musik sape yang kerap tampil dalam festival budaya nasional maupun internasional. Karena identitas yang kuat itulah yang membuat unsur-unsur budaya Dayak lebih mudah diingat dibanding budaya etnis lain di Kalimantan.

Dayak Sangat Dekat dengan Hutan Kalimantan

Ketika orang membayangkan Kalimantan dengan hutannya yang lebat, secara tidak langsung sebagian dari mereka juga membayangkan kehidupan masyarakat Dayak di dalamnya. Bukan tanpa alasan, kehidupan orang Dayak dari dulu memang sangat bergantung dengan hutan.

Hutan adalah ruang kehidupan, sumber makanan, obat-obatan, sekaligus tempat berlangsungnya berbagai ritual adat masyarakat Dayak. Sampai saat ini pun masyarakat Dayak, terutama yang tinggal di pedalaman hutan, masih menggantungkan hidupnya pada hutan adat.

Walaupun Dayak sangat identik dengan Kalimantan, bukan berarti pulau ini hanya dihuni oleh masyarakat Dayak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Kalimantan merupakan wilayah multietnis.

Di pesisir Kalimantan Selatan hidup budaya Banjar, sementara Kalimantan Timur yang dihuni suku Kutai dan Kalimantan Utara yang suku aslinya adalah suku Tidung dan Bulungan, serta wilayah pesisir Kalimantan Barat didominasi masyarakat Melayu.

Gelombang transmigrasi dan perpindahan penduduk selama puluhan tahun yang membuat Kalimantan menjadi rumah bagi masyarakat Bugis, Jawa, Madura, Batak, Minangkabau, hingga Tionghoa. Namun demikian, suku Dayak tetap menjadi suku yang paling dikenal sebagai suku asli Kalimantan oleh banyak orang.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads