Keberadaan Sultan Kutai Kartanegara (Kukar) Ing Martadipura, Yang Mulia Aji Muhammad Arifin dalam acara peresmian kilang Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur membuat Presiden Prabowo Subianto heran. Sultan ditempatkan duduk di belakang.
Momen ini juga menuai sorotan publik karena dinilai tidak menghormati budaya setempat. Kerabat Kesultanan pun menilai persoalan tersebut muncul akibat lemahnya koordinasi dan pemahaman adat oleh protokol.
Dikonfirmasi detikKalimantan, kerabat Kesultanan Kukar, Raden Cokro Projo, mengatakan pihaknya tidak mengetahui alasan pasti penempatan Sultan di belakang. Namun kejadian itu jelas cukup memalukan.
"Mungkin ke depannya kalau kami berharap protokol dari Kaltim bisa memberikan advice ke siapapun panitia dari pusat bahwa ini Sultan tidak layak kita tempatkan di sini. Toh itu menjadi notice dari Presiden, kan memalukan bagi kita semua kan akhirannya. Artinya mereka di kurangnya pemahaman tentang adat dan adab," ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Sultan Arifin, kata Raden Cokro, sebenarnya tak mempermasalahkan. Namun kemarahan justru dari masyarakat Kutai.
"Sultan itu sebenarnya tidak menganggap dirinya, bahwa ini Sultan loh. Dia tetap menjaga kestabilan acara, rendah hatinya, tetap dijaga. Artinya biar acara ini berjalan lancar. Dia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan. Tapi ya masyarakat yang keberatan ya, itulah yang bikin kacau," kata dia.
Raden Cokro mengungkapkan, bahwa peristiwa ini baru pertama kali terjadi. Sebelumnya saat ada kenegaraan, tidak pernah Sultan di tempatkan di belakang.
Simak Video "Video: Prabowo Targetkan Kemiskinan Turun di Rentang 6,0-6,5 Persen"
(bai/bai)