Miris, Warga RI Pemakan Tahu-Tempe tapi 70% Kedelai Impor

Nasional

Miris, Warga RI Pemakan Tahu-Tempe tapi 70% Kedelai Impor

Aulia Damayanti - detikKalimantan
Minggu, 08 Feb 2026 11:59 WIB
Seorang pekerja mengangkat cetakan tahu saat proses produksi di pabrik rumahan kawasan Duren Tiga, Jakarta, Jumat (13/6/2025).

Produksi tahu terus berjalan meski banyak UMKM masih menghadapi kendala dalam mengakses kredit dari lembaga keuangan formal.

Menurut data Kementerian UMKM, lebih dari 69 persen pelaku usaha kecil belum terbiasa mengakses pembiayaan dari sektor perbankan.

Hambatan utama yang dihadapi pelaku UMKM meliputi syarat agunan, minimnya integrasi data keuangan, dan suku bunga tinggi.

Industri padat karya seperti tahu tempe sangat bergantung pada dukungan rantai pasok dari pelaku UMKM untuk bertahan.

DPR menekankan perlunya peran aktif pemerintah dalam memberikan pendampingan agar UMKM bisa memperoleh pembiayaan yang layak.
Ilustrasi pembuatan tahu. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tahu dan tempe sudah menjadi makanan sehari-hari rakyat Indonesia dengan berbagai kalangan. Namun, tingginya kebutuhan kedelai sebagai bahan pembuat tahu dan tempe tidak dibarengi dengan tingkat produksinya.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) menyebut 70% kebutuhan kedelai masih dipenuhi dari impor. Dia mengaku malu atas hal tersebut.

"Kita ini pemakan tempe tahu, tapi kedelainya impor lebih dari 70%, kedelainya impor. Ini harus kita genjot mungkin dari TNI Angkatan Darat kita harus mulai Pak untuk nanam kedelai ini. Kita pemakan tempe ini bahan bakunya harus impor, ini malu kita ya," kata dia dalam Panen Fest 2026, di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia meminta pemerintah agar cepat melakukan perubahan agar kedelai tidak lagi impor. Titiek mengatakan, diharapkan tahun depan kedelai bisa swasembada, seperti beras dan jagung.

"Jadi, kemarin sudah swasembada beras dan jagung pada akhir tahun kemarin. Nah, ke depan kita harapkan untuk swasembada gula, garam, kedelai, bawang putih, aneka bawang-bawang itu yang semua impor-impor, jadi tidak ada lagi impor-impor bahan-bahan pangan ini," jelasnya.

Untuk meningkatkan produksi dalam negeri, Titiek berharap dapat menggunakan bibit dari dalam negeri. Jadi, demi mencapai cita-cita swasembada pangan, Titiek menyebut tetap harus melibatkan banyak akademisi.

"Dan kita banyak akademisi-akademisi dari universitas-universitas yang bisa menemukan, sudah menemukan bibit kedelai yang bagus. Tidak perlu kita bibit pun impor, yang ada lokal saja yang karena sesuai dengan iklim daripada Indonesia ini," pungkasnya.

Tidak sekali Titiek menyinggung soal Indonesia yang masih impor kedelai. Sebelumnya, ia pernah menyentil Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait Indonesia yang masih banyak mengimpor kedelai.

Kebutuhan kedelai dalam negeri setahun mencapai 2,9 juta ton. Namun, produksi dalam negeri hanya 300 ribu hingga 400 ribu ton.

"Kita bangsa pemakan tahu tempe, mustinya kedelai jadi prioritas. Kebutuhan kedelai 2,9 juta ton per tahun, produksi kita cuma 300 ribu, 350 ribu, 400 ribu ton. Impor kita 2,6 juta ton, banyak sekali. Kalau dirupiahin berapa tuh? Banyak sekali, triliunan ya pak," kata dia dalam rapat kerja dengan Kementan di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2025).

Baca artikel selengkapnya di sini.




(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads