Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan sering kali memproduksi asap tebal yang menyelimuti pemukiman warga. Asap yang menyebar luas melintasi batas daerah ini bukan sekadar mengganggu jarak pandang sesaat, melainkan menjadi ancaman kesehatan.
Sering kali kita hanya tahu asap menyebabkan gangguan pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pada kasus tertentu, asap dapat menyebabkan masalah lebih serius, bahkan kematian.
Berikut adalah lima dampak asap karhutla terhadap kesehatan yang wajib diwaspadai:
1. Gangguan Sistem Pernapasan
Dampak langsung dari asap karhutla adalah serangan terhadap saluran pernapasan. Dikutip dari situs WHO, asap kebakaran hutan mengandung campuran gas dan partikel sangat kecil (PM2.5) yang dapat dihirup dalam-dalam ke paru-paru. WHO menyebutkan bahwa paparan partikel ini memicu keluhan seperti batuk, iritasi mata dan tenggorokan, mengi, serta sesak napas.
Lebih lanjut, laman American Lung Association menegaskan bahwa asap kebakaran hutan memicu serangan asma dan meningkatkan jumlah pasien yang harus pergi ke dokter atau rumah sakit untuk masalah pernapasan, terutama bagi mereka yang sudah mengidap penyakit asma, bronkitis, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
2. Masalah Jantung dan Kardiovaskular
Banyak yang mengira bahwa asap hanya merusak paru-paru, padahal bahayanya bagi jantung sangat nyata. Paparan polusi partikel dari asap kebakaran hutan dapat memicu serangan jantung.
Hal ini diperkuat oleh temuan yang dipublikasikan dalam situs Yale News, yang menyatakan bahwa paparan kumulatif dan berulang dari asap kebakaran hutan dikaitkan dengan risiko rawat inap yang lebih tinggi untuk penyakit kardiovaskular pada orang dewasa yang lebih tua.
Paparan asap dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan kondisi seperti penyakit jantung iskemik, irama jantung tidak teratur (aritmia), serta gagal jantung, di mana gagal jantung menunjukkan peningkatan risiko lebih dari 20% pada paparan asap yang tinggi.
3. Peningkatan Risiko Stroke
Selain jantung, pembuluh darah yang mengarah ke otak juga sangat rentan terhadap partikel asap karhutla. Dikutip dari situs European Society of Cardiology (ESCardio), paparan partikel asap (PM2.5) dari kebakaran hutan berisiko meningkatkan kejadian stroke.
Bahkan hal ini diasumsikan lebih berbahaya bagi otak dan pembuluh darah dibandingkan polusi dari sumber lain seperti lalu lintas. Senyawa dalam asap memicu peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh yang merusak pembuluh darah serta mendorong pembentukan gumpalan darah, yang merupakan penyumbang terjadinya stroke.
(bai/bai)