Dampak karhutla serta kemarau panjang di Kotawaringin Barat (Kobar) mulai meluas ke berbagai persoalan kesehatan. Tak hanya gangguan pernapasan akibat asap, warga juga menghadapi ancaman diare, iritasi mata hingga penyakit kulit.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar Hardino mengatakan kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap ketersediaan sekaligus kualitas air yang digunakan masyarakat sehari-hari.
"Kalau ISPA kemudian kalau diare, diare itu karena memang kekeringan sudah di mana-mana," kata Hardino, Rabu (23/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kualitas sumber air harus menjadi perhatian serius selama kemarau. Kondisi air yang tidak terpantau dengan baik berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama apabila digunakan untuk konsumsi tanpa melalui proses pengolahan.
"Yang jadi permasalahan itu satu kekeringan, yang kedua penyebabnya kualitas airnya sudah tidak maksimal dan tidak terpantau secara maksimal," ujarnya.
Persoalan air semakin menjadi perhatian karena di sejumlah wilayah, air dari jaringan PDAM mulai terasa asin akibat kondisi kemarau. Dinkes meminta masyarakat lebih berhati-hati dan tidak langsung mengonsumsi air dari sumber yang belum dipastikan kualitasnya.
Air untuk kebutuhan konsumsi, kata Hardino, sebaiknya terlebih dahulu diolah menggunakan metode yang memenuhi standar. Untuk kebutuhan rumah tangga, air dapat dimasak hingga benar-benar matang sebelum diminum.
"Kalau diare memang harus dengan sumber air yang benar-benar sudah diolah baik, secara pabrik ataupun diolah secara rumah tangga, dimasak," katanya.
Selain persoalan air, kualitas udara yang terganggu akibat karhutla juga mulai berdampak pada kesehatan mata. Paparan debu dan asap dapat menyebabkan mata mengalami iritasi, terutama ketika masyarakat beraktivitas di luar ruangan.
"Penyakit mata karena mulai ada iritasi karena debunya sudah mengganggu ke mata," ujar Hardino.
Dinkes Kobar juga mencatat munculnya keluhan penyakit kulit di tengah kondisi lingkungan yang tertekan akibat kemarau dan karhutla. Hal ini menunjukkan dampak kesehatan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan saluran pernapasan.
"Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes Kobar hingga minggu epidemiologi ke-36, kasus diare akut sempat mencapai 183 kasus pada M-30. Angka tersebut kemudian menurun dan tercatat 58 kasus pada M-36," katanya.
Meski terjadi penurunan, Dinkes tetap memantau perkembangan kasus karena diare berkaitan dengan berbagai faktor. Mulai dari kualitas air, sanitasi, higiene, keamanan pangan hingga kondisi lingkungan.
Untuk memperkuat respons di tengah kondisi tersebut, Dinkes Kobar mengintensifkan edukasi dan penyuluhan melalui fasilitas kesehatan. Puskesmas keliling juga digerakkan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
"Selain itu, tim di masing-masing Puskesmas diperkuat agar dapat merespons lebih cepat terhadap keluhan warga. Puskesmas Pembantu turut diaktifkan, termasuk layanan rumah oksigen di wilayah Kobar," pungkasnya.
Masyarakat diminta lebih waspada selama kemarau dan karhutla masih berlangsung. Selain menjaga kebersihan dan memastikan air yang dikonsumsi aman, warga juga dianjurkan menggunakan perlindungan ketika berada di tengah kondisi udara berdebu atau berasap serta segera memeriksakan diri jika mengalami diare, iritasi mata maupun keluhan kesehatan lainnya.
