PM2.5 dan PM10 untuk Ukur Kualitas Udara: Mana yang Lebih Berbahaya?

PM2.5 dan PM10 untuk Ukur Kualitas Udara: Mana yang Lebih Berbahaya?

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Sabtu, 12 Sep 2026 09:59 WIB
Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali berada pada kondisi mengkhawatirkan. Angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat menembus 1.098 pada Kamis (10/9/2026) pagi.
Kabut asap di Kotawaringin Timur. Foto: Istimewa
Balikpapan -

PM2.5 dan PM10 saat ini mungkin tidak asing lagi di telinga banyak orang. Istilah ini sering muncul ketika mengecek kualitas udara, apalagi saat ini Indonesia tengah dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah.

Kedua istilah itu merupakan particulate matter (PM) atau partikulat, yaitu campuran partikel padat dan cair berukuran sangat kecil yang melayang di udara. Menurut World Health Organization (WHO), PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamis hingga 10 mikrometer, sedangkan PM2.5 berukuran jauh lebih kecil, yakni hingga 2,5 mikrometer.

Semakin kecil partikelnya, semakin jauh dan mudah pula partikel masuk ke dalam sistem pernapasan. PM10 bisa terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, sementara PM2.5 lebih parah karena mampu menembus lebih dalam hingga ke paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa sebenarnya perbedaan PM2.5 dan PM10, dari mana asalnya, dan bagaimana dampaknya bagi kesehatan? Yuk, kenali lebih dalam.

Apa Itu PM2.5 dan PM10?

Particulate matter (PM) atau partikulat merupakan campuran partikel padat dan tetesan cair yang sangat kecil dan melayang di udara. Menurut United States Environmental Protection Agency (EPA), sebagian partikel berukuran 10 mikrometer atau lebih kecil dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, sementara partikel yang berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5 punya risiko kesehatan yang lebih besar karena ukurannya jauh lebih kecil.

Secara sederhana, PM10 adalah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang, sedangkan PM2.5 berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang. Karena ukurannya lebih kecil, PM2.5 dapat menembus lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.

Sebagai gambaran, menurut beberapa sumber, ukuran PM2.5 bahkan hanya sekitar 1/30 dari diameter rambut manusia. Partikel sekecil ini juga berasal dari proses pembakaran, termasuk asap kendaraan, pembakaran sampah, dan kebakaran hutan. Dalam sistem pemantauan kualitas udara di Indonesia, PM10 dan PM2.5 juga termasuk parameter yang digunakan untuk menghitung Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

PM2.5 Lebih Kecil dan Lebih Berbahaya

Perbedaan ukuran juga memengaruhi lokasi pengendapan partikel tersebut di dalam tubuh. Partikel yang lebih besar cenderung tertahan di bagian atas saluran pernapasan. Sementara PM2.5 bisa masuk lebih dalam sampai ke paru-paru.

Dijelaskan oleh WHO, paparan PM2.5 dan PM10, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan. WHO juga menyebut paparan partikulat dalam kadar tinggi dalam jangka pendek dapat menurunkan fungsi paru-paru, memicu infeksi saluran pernapasan, dan memperburuk asma.

Meski demikian, bukan berarti PM10 tidak berbahaya. Partikel PM10 juga dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai paru-paru.

Sumber PM2.5 dan PM10

Asal partikulat bisa dari mana saja. Saat terjadi karhutla, proses pembakaran hutan menghasilkan asap yang mengandung berbagai jenis partikulat, termasuk PM2.5. Inilah salah satu alasan kenapa kabut asap akibat kebakaran menjadi masalah serius, apalagi ketika jumlah partikulat meningkat.

Partikulat juga merupakan komponen utama dari kabut, asap dan debu. Paparannya bisa memengaruhi sistem pernapasan, bahkan meningkatkan risiko kematian dini, terutama pada kelompok rentan. Kelompok yang perlu lebih berhati-hati antara lain anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.

Saat kualitas udara menunjukkan parameter kritis PM2.5, kita harus berhati-hati dan menjaga diri agar terlindungi dari paparan partikulat berbahaya. Untuk mengetahui kondisi kualitas udara terkini, detikers bisa mengunjungi laman https://ispu.kemenlh.go.id yang menyajikan data kualitas udara di berbagai wilayah Indonesia secara real time. Semoga artikel ini bermanfaat!

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads