Lezatnya Nasi Pecel Kemis Legi Gunungkidul, Bule Pun Datang Berkunjung

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJogja
Minggu, 26 Mei 2024 08:31 WIB
Pemilik Kemis Legi, Yusuf Adhitya Putratama, bersama kreasi nasi pecelnya saat ditemui di Padukuhan Purwosari, Gunungkidul, Jumat (24/5/2024). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja
Gunungkidul -

Warung Kemis Legi yang terletak di Padukuhan Purwosari, Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul memang baru saja berdiri. Namun siapa sangka warung milik Yusuf Adhitya Putratama sudah dikunjungi oleh banyak pelanggan, bahkan dari mancanegara?

Pantauan detikJogja di lokasi pada Jumat (24/5/2024) malam, luas warung tersebut bersembunyi di belakang rumah milik Adhit. Lebarnya kurang lebih 2 ribu meter persegi.

Tempatnya asri dan tampak beberapa pohon menjulang tinggi. Di area belakang setidaknya terdapat empat meja dan beberapa kursi dengan gedek sebagai temboknya.

Di samping kanan dari pintu masuk tampak sebuah lapangan basket seluas kira-kira 10 x 5 meter persegi. Di bagian depan terlihat tiga meja.

Kasir sekaligus tempat menyajikan menu terdapat di samping kiri depan. Di meja kasir terdapat dua papan menu yang ditulis menggunakan spidol hitam di sebuah kayu. Sebuah templok menerangi barisan menu tersebut

Parkiran di warung tersebut tergolong lapang, luasnya sepertiga dari total luas area warung. Ada setidaknya tiga mobil dan sejumlah sepeda motor yang terdapat di area parkir.

Suasana di warung tersebut terasa sunyi meski ada beberapa pelanggan. Tawa renyah datang dari area belakang warung, terdengar sejumlah pelanggan sedang asik mengobrol.

Beberapa anak terlihat asyik bermain bola basket. Tampak keseruan mereka bermain saat salah seorangnya berhasil memasukkan bola ke ring basket.

Di sela menunggu datangnya sepiring nasi pecel, detikJogja mencoba menikmati secangkir kopi. Walau tanpa gula, pahit kopi tak terasa mengganggu lidah. Ia tidak begitu pekat tetapi masih terasa nikmat memenuhi rongga mulut.

Selang beberapa menit, sepiring nasi pecel pun datang. Tampak nasi tersebut disajikan menggunakan sebuah piring dari anyaman bambu berbentuk segitiga.

Di atasnya terdapat selembar daun jati yang menambah kesan tradisional. Tampak kepulan asap tipis dari nasi tersebut.

Bumbu pecel kental yang tercampur dengan sayur bayam itu berada di pinggir setumpuk nasi. Tampak pula sajian bakmi kuning melengkapi nasi pecel tersebut.

Tak luput sebuah rempeyek yang berukuran panjang memenuhi sisi piring melengkapi lauk telur dadar pada malam itu.

Pada suapan pertama, rasa bumbu pecel memenuhi rongga mulut. Aksen bumbu pecel ala Jawa Timur, sedikit asin dengan sekilas pedas di ujung lidah.

Ada rasa yang hilang dari bumbu pecel ala Jawa Timur tersebut, rasa asam jawa. Namun begitu, aroma tipis daun jeruk menguar ketika dicecap.

Bumbu tersebut digiling halus sehingga sedikit menyisakan butiran kacang tanah. Kacang sebagai bahan dasar pecel itu digoreng sempurna sehingga tak menyisakan rasa gosong.

Tak lengkap rasanya jika hanya mencicipi bumbu pecel saja tanpa sesuap nasi. Gurihnya bumbu pecel tersebut terasa pas di lidah jika dinikmati dengan sesendok nasi. Pedasnya pun seketika menghilang.

Kres, dadar telur yang digoreng dengan pas hingga garing tersebut terasa gurih tetapi tidak asin. Begitu pula dengan rempeyeknya. Menu pelengkap itu terasa renyah, lengkap dengan butiran kacang gorengnya.

Seporsi nasi pecel dengan lauk telur dadar tersebut dibanderol harga Rp 10 ribu. Secangkir kopinya dijual seharga Rp 4 ribu.

Pemilik Kemis Legi, Yusuf Adhitya Putratama, bersama kreasi nasi pecelnya saat ditemui di Padukuhan Purwosari, Gunungkidul, Jumat (24/5/2024). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Sepiring Nasi Pecel dan Iktikad Adhit Mengenalkan Kuliner Nusantara

Bukan tanpa alasan Adhit membuka warung dengan sajian utama nasi pecel tersebut. Ia ingin generasi muda mengenal sajian Nusantara tersebut.

"Kenapa pecel? Karena ingin mengenalkan kuliner tradisional ke generasi Gen Z agar bangga dengan kuliner leluhur kita. Karena kalau sudah dari kecil mengenal kuliner tradisional bisa memperkuat jatidiri sebagai warga negara Indonesia," jelas Adhit ditemui detikJogja di warungnya, Jumat (24/5/2024).

Adhit sengaja tidak menyediakan fasilitas berupa jaringan WiFi dan colokan listrik. Sebab, ia ingin pelanggannya benar-benar bercengkrama sembari menikmati sajian.

"Kenapa tidak ada WiFi atau colokan listik? Ya, biar pelanggan itu bisa wedangan, ngobrol gitu," katanya.

"Anak muda sekarang kan kalau kumpul sibuk dengan HP sendiri. Nah di sini mereka bisa menikmati esensi wedangan dengan ngobrol, saling bertukar pendapat, ditambah suasana yang enak," lanjutnya.

Alasan lainnya memilih menu utama nasi pecel karena mendiang neneknya merupakan penjual nasi pecel di Gunungkidul. Neneknya menjual nasi pecel pada tahun 1990 awal hingga wafat sekitar tahun 1999.

Adhit mengatakan neneknya berasal dari Blitar. Jadi tak ayal jika dirinya turut menjual nasi pecel ala Jawa Timur itu.

"Ingin melanjutkan usaha yang dirintis mbah. Di tahun 90 itu jualan pecel. Saat wafat tidak dilanjut oleh ibu," ungkap pria vlogger kuliner itu.

Warung Kemis Legi itu dibuka pada Desember 2023 lalu. Waktu operasionalnya berlangsung pada pukul 17.00-23.00.

"Kalau hari tutupnya tidak tentu," kata Adhit.

Selain nasi pecel, Adhit juga menerima pesanan sego Rasulan, nasi yang disajikan saat acara adat Rasulan atau bersih desa di Gunungkidul.

Terdapat dua jenis sego Rasulan di warung Kemis Legi, yakni sayur lombok dan ayam goreng bacem. Namun, menu tersebut bisa detikers coba jika memesan dua hari sebelumnya.

"Kalau di sini sebenarnya ada dua menu pecel sama sego Rasulan. Kalau mau pesan sego Rasulan harus pesan dua hari sebelumnya karena masih dikelola saya dan istri," kata pria kelahiran tahun 1991 itu.

"Sego Rasul sendiri itu otentiknya Gunungkidul. Di sini jual sego Rasul sayur lombok hijau dan ayam goreng bacem," lanjutnya.

Selanjutnya nama Kemis Legi, kata Adhit, diambil dari waktu kelahiran kedua anaknya. Anak pertamanya lahir pada weton Legi dan anak keduanya lahir pada Kamis.

"Kebetulan anak itu lahirnya weton legi dan yang kedua lahirnya Kamis. Jadilah perpaduan nama Kemis Legi," ungkapnya.

Pelanggannya datang dari luar kota, bahkan bule-bule berkunjung. Simak kisahnya di halaman berikut:



Simak Video "Video Berbuka Puasa dengan Hidangan Kampung ala Warung Joglo di Denpasar"


(apu/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork