Sebuah video yang memperlihatkan kilatan cahaya hijau menghiasi langit Jogja, Sabtu (11/2) malam, beredar di media sosial. Kilatan yang diduga berasal dari meteor tersebut dapat dilihat secara kasat mata dan terekam kamera warganet.
Terdapat dua unggahan di akun Instagram @merapi_uncover yang masing-masing berisi video penampakan kilatan hijau tersebut. Video pertama diambil dari kamera ponsel seorang warga dan video lainnya hasil dari rekaman CCTV.
Kedua video tersebut sama-sama memperlihatkan sebuah benda bulat berwarna hijau terang melintas di langit dengan durasi cukup cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Video cctv meteor berwarna hijau melintas di langit malam tadi 11/7/2026 sekitar jam 21:23 WIB," tulis keterangan dalam unggahan tersebut dilihat detikJogja, Minggu (12/7/2026).
Menanggapi fenomena itu, astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo menjelaskan, dari pengamatannya kilatan tersebut dikenal sebagai bolide atau meteor yang sangat terang yang sering kali meledak di atmosfer Bumi, menghasilkan kilatan cahaya yang sangat menyilaukan.
"Berdasarkan data kasar yang tersedia, meteor nampak dari timur laut ke barat daya, terjadi pada Sabtu 11 Juli 2026 pukul 21:40 WIB, nampak dari utara Yogyakarta hingga Cirebon dengan panjang lintasan di permukaan Bumi ~400 km, maka secara kasar meteor ini semula merupakan meteoroid berdiameter sekitar 1 meter," jelasnya saat dihubungi, hari ini.
Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menambahkan, Meteoroid ini bagian dari kepingan asteroid yang semula mengedari Matahari di antara orbit Venus hingga orbit Bumi, sehingga merupakan Asteroid dekat-Bumi kelas Apollo.
Kepingan asteroid itu beredar mengelilingi Matahari dengan periode 0,94 tahun. Antara orbit kepingan asteroid tersebut dengan orbit Bumi berpotongan di satu titik nodal. Pada saat fenomena kilatan cahaya tersebut terjadi, baik Bumi maupun kepingan asteroid tadi sedang berada pada titik tersebut.
"Berdasarkan geometri orbit sementara yang sudah saya analisis, kepingan asteroid tadi tidak berhasil menjangkau permukaan Bumi saat menjadi meteor-superterang. Dia hancur di ketinggian 46 - 48 km," terang Marufin.
Adapun mengenai warna hijau yang dipancarkan meteor tersebut, kata Marufin, merupakan penanda benda langit itu kaya akan Nikel. Lalu untuk suara dentuman, merupakan sonic boom yang khas saat meteoroid memasuki atmosfer Bumi.
"Peristiwa ini secara statistik terjadi setiap 26 hari sekali rata-rata di Bumi. Sehingga sesungguhnya bukanlah hal yang jarang terjadi," pungkasnya.

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman
Dinas Pertanian Gunungkidul Akan Kembangkan 'Padi Galon' Ala Pak Dukuh Wonosari