UMY Terjunkan Ribuan Mahasiswa KKN, Ada yang ke Malaysia-Mesir

UMY Terjunkan Ribuan Mahasiswa KKN, Ada yang ke Malaysia-Mesir

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 28 Jul 2026 10:46 WIB
Penerjunan mahasiswa KKN di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Selasa (28/7/2026).
Penerjunan mahasiswa KKN di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Selasa (28/7/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Bantul -

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menerjunkan 1.817 mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode Juli 2026. Para mahasiswa akan ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia hingga di luar negeri.

Wakil Rektor bidang Pengembangan Universitas, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), Prof Faris Al-Fadhat, mengatakan ribuan mahasiswa tersebut diterjunkan ke sejumlah wilayah di DIY, Jawa Tengah, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, hingga Papua. UMY juga mengirim mahasiswa untuk KKN di luar negeri, yaitu di Malaysia hingga Mesir.

"Juli ini kita menerjunkan 1.817 mahasiswa. Ini tersebar di begitu banyak daerah, mulai dari DIY, ada Kota Yogyakarta, Kulon Progo, kemudian di luar juga ada Jawa Tengah, Kalimantan, NTB yakni Lombok dan Sumbawa, Maluku, kemudian yang terjauh adalah Papua," ujar Faris di Kampus UMY, Bantul, Selasa (28/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau di luar negeri ada Kairo (Mesir), kemudian Malaysia. Dan kita juga kerja sama dengan Singapura dan Jepang. Jadi mahasiswa-mahasiswa dari Singapura dan Jepang akan datang ke sini," sambungnya.

Faris menjelaskan, pelaksanaan KKN tahun ini memiliki sejumlah pembaruan. Salah satunya adalah penambahan skema KKN sehingga mahasiswa tidak hanya diterjunkan ke masyarakat desa, tetapi juga ditempatkan di sekolah, Amal Usaha Muhammadiyah, Muhammadiyah-Aisyiyah.

ADVERTISEMENT
Penerjunan mahasiswa KKN di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Selasa (28/7/2026).Penerjunan mahasiswa KKN di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Selasa (28/7/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

"Yang pertama dari sisi skemanya berbeda. Ada penambahan skema. Kalau biasanya hanya di kampung-kampung, sekarang kerja sama dengan sekolah, kemudian Amal Usaha Muhammadiyah, aparat desa, daerah 3T tetap kita jaga. Kemudian juga ada tema sungai dan lingkungan. Jadi variasi skemanya lebih banyak," terangnya.

Untuk penempatan di luar negeri, kata Faris, mahasiswa UMY akan ditempatkan di sejumlah institusi yang telah menjadi mitra kampus. Di Mesir, mahasiswa akan menjalankan KKN di Sekolah Indonesia Kairo, komunitas diaspora Indonesia, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kairo, termasuk TK ABA yang dikelola PCM setempat.

Sedangkan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) juga akan belajar diplomasi dengan ditempatkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) maupun kantor konsulat Indonesia.

"Di Kairo itu di Sekolah Indonesia Kairo, kemudian di masyarakat diaspora yang ada di Kairo Mesir, termasuk juga Pimpinan Cabang Muhammadiyah yang ada di sana. Mahasiswa kita juga ditempatkan di sana. Begitu juga mahasiswa HI itu belajar kediplomatan, nanti akan ditempatkan di KBRI maupun di konsulat," jelasnya.

Faris mengatakan, penempatan mahasiswa di luar negeri juga bertujuan membantu masyarakat Indonesia di luar negeri melalui kolaborasi dengan KBRI, KJRI, sekolah, maupun komunitas diaspora.

"Karena di luar negeri itu juga kita tidak bisa melihat bahwa semuanya baik-baik saja. Jadi pasti ada persoalan-persoalan yang pemerintah itu memerlukan tim dari civil society juga kampus. Nah, kami berusaha bekerja sama dengan KBRI, KJRI, terutama ke sekolah-sekolah dan masyarakat-masyarakat yang bekerja di sana," ucapnya.

Faris menegaskan, KKN bukan menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengajar masyarakat. Menurutnya, mahasiswa justru harus datang dengan semangat belajar dan rendah hati.

"KKN ini bukan mahasiswa mengajar kepada masyarakat, tapi mahasiswa belajar kepada masyarakat sekaligus memberi dampak," tegasnya.

Ia mengingatkan para peserta KKN agar tidak merasa paling pintar ketika berada di tengah masyarakat.

"Kalau persepsi kita sudah merasa diri pintar, maka kesannya kita ingin mengajarkan. Semangat kita tidak begitu. Kami pesan kepada mahasiswa, datanglah dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati. Karena dengan belajar dari masyarakat, persoalan-persoalan yang muncul bisa dipahami, lalu dicari solusi bersama-sama," pungkas Faris.



(dil/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads