Komitmen UMY Jadi Kampus Inklusif Ramah Disabilitas

Komitmen UMY Jadi Kampus Inklusif Ramah Disabilitas

Adji G Rinepta - detikJogja
Senin, 20 Jul 2026 16:05 WIB
Talkshow Inklusivitas dan Launching UMY Magz ke-7 di Public Space Gedung Perpustakaan Kampus Terpadu UMY, Senin (20/7/2026).
Talkshow Inklusivitas dan Launching UMY Magz ke-7 di Public Space Gedung Perpustakaan Kampus Terpadu UMY, Senin (20/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Bantul -

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus berupaya memperbaiki diri guna menjadi kampus inklusif yang ramah disabilitas. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memberi fasilitas terbaik bagi sivitas akademika UMY penyandang disabilitas.

Sekretaris UMY, Dr Bachtiar Dwi Kurniawan, memaparkan bentuk kerja nyata UMY untuk meningkatkan inklusivitas, yakni dengan meningkatkan layanan bagi seluruh sivitas akademika yang ada di UMY dan masyarakat umum yang berkepentingan dengan UMY.

"Dengan meningkatkan layanan infrastruktur, sehingga infrastruktur kami dedikasikan dan kami upayakan untuk lebih akses kepada semuanya," jelas Bachtiar dalam Talkshow Inklusivitas dan Launching UMY Magz ke-7 di Public Space Gedung Perpustakaan Kampus Terpadu UMY, Senin (20/7).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan infrastruktur tak hanya dari sisi pembelajaran, namun juga spiritualitas. Bachtiar bilang, UMY berusaha memberikan akses layanan peribadatan yang inklusif. Masjid UMY diupayakan agar bisa diakses oleh seluruh penyandang disabilitas.

ADVERTISEMENT

"Masjid kami akan kami bangun lift ya. Sebelumnya tangga, sekarang kita sediakan lift supaya bisa lebih diakses oleh semuanya," paparnya.

Dari sisi pembelajaran, lanjut Bachtiar, setidaknya sudah lima tahun UMY selalu menerima mahasiswa baru penyandang disabilitas. Meski tak memaparkan jumlah mahasiswa difabel di UMY saat ini, namun ia memastikan setiap program studi terdapat mahasiswa difabel.

Keberanian itulah yang membuat UMY punya komitmen kuat untuk memperbaiki dan menyediakan infrastruktur serta ruang inklusif bagi semua kalangan.

"Orang bisa kuliah di UMY dan UMY bisa untuk semua. Sudah 5 tahun berjalan ini kami menerima mahasiswa (difabel), termasuk mahasiswa saya itu 3 tahun, mungkin 4 tahun jalan ini, ada beberapa (disabilitas) penglihatan dan sampai sekarang baik-baik saja dan nilainya malah bagus," ungkapnya.

"Kami berkomitmen untuk tidak membeda-bedakan anak didik kami, kami terima juga dan kami dampingi, kami didik, fasilitas kami lengkapi termasuk fasilitas pembelajarannya supaya lebih bisa diakses," imbuh Bachtiar.

Ekosistem pembelajaran di kelas, kata Bachtiar, diupayakan untuk bisa saling melengkapi, membantu, dan sebagainya sehingga semua bisa terbantu. Termasuk para dosen, mereka akan memberikan penjelasan tambahan bagi mahasiswa difabel.

Tak berhenti di situ, UMY kini berusaha melengkapi kebutuhan mahasiswa difabel. Salah satunya dengan menambah technical assistant bahasa isyarat untuk memfasilitasi mahasiswa difabel pendengaran.

"Terus perpustakaan, media belajar kami supaya juga bisa diakses oleh semuanya yang kayak membaca buku-buku Braille dan sebagainya kan perlu kami tambahkan ya, sehingga nggak ada kendala lagi. Dan ini challenge kami dan kami komitmen menuju ke sana," ujarnya.

Tak hanya mahasiswa, lanjut Bachtiar, UMY juga membuka pintu seluas-luasnya bagi tenaga kependidikan penyandang disabilitas untuk bergabung dengan UMY.

"Kami memberikan porsi kuota bagi penyandang disabilitas. Tenaga kependidikan kami ada yang (memiliki) keterbatasan-keterbatasan fisik juga bekerja di UMY baik-baik saja dan insyaAllah sejahtera dan bahagia," pungkasnya.



(apu/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads