Puasa Mutih masih lestari dalam tradisi masyarakat Jawa, terutama untuk calon pengantin. Laku ini biasanya dikaitkan dengan persiapan batin, pengendalian diri, hingga harapan agar prosesi pernikahan berjalan lancar.
Berbeda dari puasa Ramadan atau puasa sunnah yang memiliki ketentuan dalam syariat Islam, puasa Mutih lebih dikenal sebagai bagian dari tradisi dan laku prihatin masyarakat Jawa. Karena itu, tata cara dan jumlah hari pelaksanaannya tidak selalu sama di setiap daerah maupun keluarga.
Tradisi tersebut kemudian memunculkan berbagai pertanyaan. Di antaranya adalah waktu mulai dikerjakan, pantangannya, hingga hukum dalam Islam. Simak pembahasan lengkapnya di bawah ini, yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puasa Mutih Itu Apa?
Dilansir penelitian Nurul Istiqomah berjudul 'Analisis Puasa Mutih pada Masyarakat Jawa Pra Pernikahan' yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory, Puasa Mutih merupakan salah satu laku atau tirakat yang dikenal dalam tradisi Jawa. Istilah "mutih" pada praktik ini merujuk pada pembatasan makanan dan minuman yang dikonsumsi, yakni hanya nasi dan air putih.
Puasa Mutih dimaknai sebagai upaya membersihkan diri secara lahir dan batin. Sebagian masyarakat Jawa menjalankannya sebagai bentuk persiapan batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Namun, tidak semua masyarakat Jawa memiliki tata cara yang sama karena tradisi tersebut dapat berbeda berdasarkan daerah dan kebiasaan masing-masing.
Tidak Boleh Makan Apa Saat Puasa Mutih?
Dalam praktik puasa Mutih yang umum dikenal, makanan yang dikonsumsi harus berwarna putih. Bentuk yang paling sederhana adalah nasi putih dan air putih.
Artinya, siapapun yang menjalankan puasa Mutih tidak diperkenankan mengonsumsi lauk-pauk, sayuran, makanan berwarna lain, maupun minuman selain air putih. Ada pula aturan yang lebih ketat, misalnya menghindari lauk yang berasal dari hewan seperti ikan dan ayam.
Apa Tujuan Puasa Mutih Sebelum Menikah?
Dalam tradisi Jawa, puasa Mutih dimaknai sebagai laku prihatin dan bentuk pengendalian diri. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan upaya membersihkan hati dan pikiran sebelum menjalani kehidupan rumah tangga.
Beberapa makna yang dipercaya dalam tradisi puasa Mutih adalah:
- Memperbaiki kualitas batin dan perilaku.
- Mengurangi pengaruh hawa nafsu.
- Mempersiapkan diri secara spiritual sebelum menghadapi suatu hajat termasuk pernikahan.
Puasa Mutih Berapa Hari Sebelum Menikah?
Dalam tradisi masyarakat Jawa, puasa Mutih dapat dilakukan selama tiga hari, tujuh hari atau bahkan lebih lama dengan jumlah hari ganjil. Bahkan, ada yang melakukannya selama 40 hari.
Karena itu, apabila seseorang bertanya 'puasa Mutih berapa hari sebelum menikah?', jawabannya bergantung pada tradisi yang diikuti. Tidak ada ketentuan calon pengantin wajib melakukan puasa mutih selama tiga, tujuh atau 40 hari.
Apakah Puasa Mutih Ada dalam Islam?
Puasa Mutih dalam pengertian tradisi Jawa bukanlah jenis puasa khusus yang diperintahkan dalam Al-Qur'an atau hadits.
Puasa Mutih merupakan ritual kebudayaan yang melekat pada tradisi Kejawen. Dalam praktik masyarakat Jawa yang beragama Islam, penelitian yang disebut sebelumnya menyimpulkan hukumnya dapat menjadi mubah atau boleh selama pelaksanaannya tidak bertentangan dengan syariat dan tidak menimbulkan mudarat bagi orang yang menjalankannya.
Puasa Mutih tidak tepat jika dianggap sebagai ibadah sunnah khusus sebelum menikah. Dengan demikian, seorang Muslim tidak memiliki kewajiban melakukan puasa Mutih agar pernikahannya sah atau berjalan lancar.
Pandangan mengenai puasa Mutih juga disampaikan Buya Yahya dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV melalui kajian berjudul "Hukum Puasa Pati Geni dan Mutih dalam Islam, Bolehkah?" yang dipublikasikan pada 17 Juli 2025. Buya Yahya menjelaskan bahwa persoalan puasa Mutih juga berkaitan dengan tujuan atau niat orang yang menjalankannya.
Jika tujuannya adalah meniru ritual agama lain, maka hal tersebut tidak dibenarkan. Namun, apabila maksudnya adalah pengendalian hawa nafsu dan pelaksanaannya memenuhi ketentuan puasa dalam Islam, maka persoalannya berbeda.
"Tujuannya apa misal makan daging mengurangi hawa nafsu, intinya puasanya harus seperti puasanya kalau maksudnya bener, kita tidak tau zaman ke zaman mungkin di hindu ada. tapi kalau dalam Islam tujuannya mengurangi hawa nafsu ya sah," ujar pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah itu, dikutip pada Rabu (2/9/2026).
Buya Yahya juga menegaskan bahwa puasa Mutih tidak mempunyai status sebagai puasa sunnah khusus. Otomatis, puasa ini juga tidak memiliki keutamaan khusus dalam Islam. Wallahu a'lam bish-shawab.
Demikian penjelasan terkait kapan puasa Mutih dikerjakan pengantin sebelum menikah. Semoga menjawab, ya, detikers!
Artikel ini ditulis oleh Ovilia Putri Ramadhani Mahasiswa Magang Pendidikan di detikcom
