- Kebudayaan Khas Sleman yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda 1. Dadung Awuk 2. Dandan Kali 3. Gerobak Sapi 4. Jabar Juwes 5. Khuntulan Yogyakarta 6. Langen Toyo 7. Peksi Moi 8. Saparan Wonolelo 9. Suran Mbah Demang 10. Tari Badui 11. Trengganon 12. Upacara Adat Saparan Bekakak 13. Upacara Adat Tuk Si Bedug 14. Upacara Adat Tunggul Wulung 15. Upacara Bathok Bolu 16. Upacara Bersih Dusun Mbah Bregas 17. Wayang Topeng Pedhalangan 18. Wayang Wong Gaya Jogja 19. Wayang Wong Thengul 20. Jathilan Lancur 21. Antup 22. Upacara Adat Wot Galeh 23. Mitos Gunung Merapi 24. Tambak Kali
Sleman bukan hanya dikenal sebagai gerbang Merapi atau kawasan pendidikan. Kabupaten ini juga menyimpan kekayaan budaya yang hidup, berlapis, dan terus dijaga oleh masyarakatnya hingga hari ini. Dari seni pertunjukan, upacara adat, hingga sistem kepercayaan lokal, Sleman punya jejak budaya yang kuat dan khas.
Sebagian kebudayaan itu kini resmi berstatus Warisan Budaya Tak Benda. Ada yang lahir dari ritual pertanian, ada yang tumbuh dari dakwah Islam, ada pula yang muncul sebagai respons sosial terhadap perubahan zaman. Setiap tradisi menyimpan cerita, nilai, dan fungsi yang jauh melampaui sekadar tontonan.
Menyusuri satu per satu kebudayaan ini memberi gambaran utuh bagaimana identitas Sleman terbentuk dari sejarah, alam, dan kehidupan warganya. Jadi, mari kita mulai, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Sleman memiliki lebih dari 20 kebudayaan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
- Ragamnya mencakup seni pertunjukan, upacara adat, tradisi religius, hingga pengetahuan lokal.
- Setiap kebudayaan lahir dari konteks sejarah dan masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Kebudayaan Khas Sleman yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Dihimpun dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Sleman, laporan detikJateng, serta artikel berjudul Legal Protection of Jathilan Lancur Art as a Form of Traditional Cultural Expression oleh Savira Alfi Syahrin dan Richardus Novanto, berikut adalah daftar kebudayaan khas Sleman yang menjadi WBTb.
1. Dadung Awuk
Salah satu kesenian drama tari yang tumbuh di Sleman menampilkan kisah perjalanan hidup seorang tokoh bernama Dadung Awuk. Ceritanya dibawakan secara berseri, mulai dari masa muda hingga pengabdiannya pada Kerajaan Demak dan pertemuannya dengan Jaka Tingkir. Alur cerita yang berkesinambungan membuat penonton mengikuti perjalanan tokoh secara utuh.
Pola pementasan Dadung Awuk mirip dengan kesenian Srandul, lengkap dengan iringan musik tradisional. Melalui dramatari ini, nilai sejarah, keteladanan, dan kisah kepahlawanan disampaikan dengan cara yang menghibur dan mudah diterima masyarakat.
2. Dandan Kali
Sleman juga memiliki tradisi yang berakar kuat pada relasi manusia dan alam. Upacara Dandan Kali atau Becekan lahir dari pengalaman masyarakat Kepuharjo yang pernah mengalami kemarau panjang. Tradisi ini menjadi ikhtiar kolektif untuk memohon hujan dan menjaga kelestarian sungai.
Prosesi dilakukan di sungai dengan membawa sesaji khas berupa nasi becek. Sejak peristiwa hujan lebat yang diyakini datang setelah ritual pertama, tradisi ini terus dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur dan harapan agar sumber air tetap lestari.
3. Gerobak Sapi
Jejak sejarah kolonial juga tercermin dalam keberadaan gerobak sapi. Alat transportasi tradisional ini telah digunakan sejak masa tanam paksa dan tetap bertahan hingga masa kemerdekaan. Di Sleman dan Jogja, gerobak sapi tidak hanya berfungsi sebagai sarana angkut, tetapi juga penopang ekonomi rakyat.
Hingga kini, gerobak sapi masih dimanfaatkan dalam aktivitas tertentu dan menjadi daya tarik wisata budaya. Kehadirannya menjadi simbol ketahanan budaya di tengah perubahan zaman dan modernisasi transportasi.
4. Jabar Juwes
Ketika masyarakat mulai jenuh dengan bentuk pertunjukan yang ada, lahirlah inovasi seni bernama Jabar Juwes. Kesenian ini memadukan unsur Wayang Wong, Ketoprak, dan Wayang Golek, dengan tokoh khas bernama Jeber dan Juwes sebagai unsur lawakan.
Menariknya, Jabar Juwes tidak berorientasi komersial. Para pemain tampil secara sukarela dalam berbagai acara adat dan perayaan. Fungsi hiburan, sosial, dan pemersatu masyarakat membuat kesenian ini tetap relevan hingga sekarang.
5. Khuntulan Yogyakarta
Nuansa religius terlihat kuat dalam kesenian Khuntulan. Perpaduan antara tari dan sholawatan ini berkembang di desa-desa Sleman, dengan gerak sederhana dan iringan bernapaskan Islam. Syair-syairnya berisi pujian kepada Nabi Muhammad.
Pada masa lalu, Khuntulan digunakan sebagai media dakwah Islam. Melalui pendekatan seni, pesan keagamaan disampaikan secara lembut dan mudah dipahami masyarakat, terutama di lingkungan pedesaan.
6. Langen Toyo
Seni dramatari Langen Toyo menunjukkan kuatnya tradisi turun-temurun di Sleman. Kesenian ini telah berkembang setidaknya sejak tahun 1920-an dan diwariskan lintas generasi dalam satu komunitas di Sorowangsan, Girikerto, Turi.
Mayoritas pemain Langen Toyo berasal dari keluarga seniman generasi sebelumnya. Pola pewarisan ini menjadikan Langen Toyo bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan identitas budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat.
7. Peksi Moi
Peksi Moi lahir dari upaya dakwah Islam yang kreatif pada tahun 1954. KH Nahrowi mengenalkan tarian ini kepada pemuda Dusun Soka Wetan sebagai sarana hiburan sekaligus pembinaan semangat kebersamaan saat pembangunan masjid berlangsung.
Gerak tari Peksi Moi berpadu dengan unsur bela diri dan iringan religius. Dari sinilah muncul kesenian yang tidak hanya menampilkan estetika gerak, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial.
8. Saparan Wonolelo
Rasa hormat kepada leluhur menjadi latar utama Upacara Saparan Wonolelo. Tradisi ini dilaksanakan sebagai penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo yang dianggap berjasa dalam membangun nilai budaya dan spiritual masyarakat.
Salah satu prosesi pentingnya adalah kirab pusaka yang diyakini berkaitan dengan asal-usul Pondok Wonolelo. Upacara ini menjadi sarana refleksi, doa keselamatan, dan penguat ikatan sosial warga.
9. Suran Mbah Demang
Setiap bulan Asyura, keluarga dan keturunan Mbah Demang menggelar upacara Suran sebagai bentuk rasa syukur. Prosesi dilakukan dengan doa bersama, pembagian makanan, serta kirab pusaka peninggalan leluhur.
Air dari sumur Mbah Demang juga dikirab sebagai simbol berkah dan keselamatan. Tradisi ini memperlihatkan harmoni antara nilai religius Islam dan penghormatan terhadap sejarah lokal.
10. Tari Badui
Tari Badui menghadirkan gambaran semangat keprajuritan. Gerakannya menggambarkan latihan perang yang dinamis, disusun dalam formasi barisan atau berpasangan.
Awalnya berfungsi sebagai media dakwah Islam, kini Tari Badui juga berkembang sebagai hiburan rakyat. Meski fungsi berubah, nilai keberanian, kebersamaan, dan semangat juang tetap melekat dalam setiap pementasan.
11. Trengganon
Di wilayah Sleman, dakwah Islam juga pernah berkembang melalui jalur seni bela diri. Trengganon merupakan kesenian yang memadukan silat, lantunan syair, dan nilai religius. Kesenian ini dikenalkan oleh KH Syahid sebagai sarana menyampaikan ajaran Islam secara lebih membumi.
Gerakan silat dalam Trengganon dipadukan dengan syair dari kitab Barzanji. Nama Trengganon sendiri memiliki makna filosofis, yaitu melaksanakan kebaikan. Hingga kini, kesenian ini tetap dipentaskan sebagai simbol semangat hidup, keberanian, dan keteguhan iman.
12. Upacara Adat Saparan Bekakak
Berangkat dari kisah sejarah Kesultanan Jogja, Upacara Saparan Bekakak menjadi bentuk peringatan atas peristiwa tragis yang menimpa sepasang abdi dalem pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana I. Ritual ini lahir dari rasa prihatin dan penghormatan terhadap pengorbanan mereka.
Pelaksanaan upacara dilakukan setiap tahun dan menjadi pengingat cikal bakal pembangunan kraton. Di balik prosesi simboliknya, Saparan Bekakak mengajarkan nilai empati, sejarah, dan penghormatan terhadap manusia kecil dalam perjalanan besar sebuah kerajaan.
13. Upacara Adat Tuk Si Bedug
Ungkapan syukur kepada Tuhan juga tercermin dalam Upacara Adat Tuk Si Bedug di Margodadi. Upacara ini menjadi wujud terima kasih atas nikmat kehidupan sekaligus penghormatan kepada Sunan Kalijaga sebagai tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut.
Air menjadi simbol penting dalam prosesi Tuk Si Bedug. Melalui ritual ini, masyarakat menegaskan hubungan antara spiritualitas, sumber kehidupan, dan warisan dakwah Islam yang membentuk identitas lokal.
14. Upacara Adat Tunggul Wulung
Masuk ke tradisi berbasis pertanian, Upacara Adat Tunggul Wulung dilaksanakan setelah masa panen sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan. Tokoh Ki Ageng Tunggul Wulung dipercaya sebagai perantara doa kepada Tuhan.
Rangkaian prosesi seperti pengambilan air suci, doa sesaji, pementasan tayub, hingga wayang lakon Sri Mulih mencerminkan harapan akan kemakmuran dan perlindungan dari bencana. Upacara ini terus diwariskan secara turun-temurun.
15. Upacara Bathok Bolu
Masih dalam nuansa ritual, Upacara Bathok Bolu merupakan peringatan turunnya Wahyu Kraton di wilayah Purwomartani, Kalasan. Tradisi ini dijalankan dalam bentuk ziarah dan pembagian air suci.
Filosofi kepasrahan menjadi inti ritual Bathok Bolu. Melalui prosesi yang sederhana namun sarat makna, masyarakat diajak untuk mengingat nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
16. Upacara Bersih Dusun Mbah Bregas
Upacara ini memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat, panen, dan leluhur. Tradisi Bersih Dusun Mbah Bregas dilakukan sebagai rasa syukur pascapanen dan penghormatan kepada Mbah Bregas, tokoh penyebar Islam di wilayah Ngino.
Prosesi berlangsung dua hari, meliputi sesaji, pagelaran wayang, hingga kirab gunungan. Selain nilai spiritual, upacara ini juga memberikan dampak sosial dan ekonomi, serta menjadi sarana edukasi budaya lintas generasi.
17. Wayang Topeng Pedhalangan
Dari sisi seni pertunjukan, Wayang Topeng Pedhalangan lahir sebagai upaya mempererat persaudaraan antar dalang. Kesenian ini berkembang dari semangat kebersamaan, bukan semata-mata pertunjukan hiburan.
Penggunaan topeng memberi ciri khas tersendiri dalam penyampaian cerita. Melalui Wayang Topeng Pedhalangan, nilai silaturahmi dan pelestarian tradisi menjadi tujuan utama pementasan.
18. Wayang Wong Gaya Jogja
Wayang Wong gaya Jogja, atau dikenal sebagai Wayang Mataram, merupakan seni pertunjukan yang muncul pada masa peralihan Kerajaan Mataram. Bentuk ini memadukan tari, dialog, dan drama dalam satu sajian utuh.
Kesenian ini mencerminkan estetika istana dan nilai filosofi Jawa. Hingga kini, Wayang Wong gaya Yogyakarta menjadi simbol kehalusan rasa dan kedalaman budaya Jawa klasik.
19. Wayang Wong Thengul
Berbeda dari gaya keraton, Wayang Wong Thengul tumbuh di lingkungan masyarakat Sleman sejak 1967. Cerita yang dibawakan berasal dari kisah Menak yang berakar dari sastra Persia.
Ciri khas Wayang Wong Thengul terlihat pada tata gerak, vokal, kostum, dan iringan yang mudah dikenali. Fungsinya beragam, mulai dari ritual hingga hiburan dan penyajian estetis bagi masyarakat.
20. Jathilan Lancur
Jathilan Lancur dikenal sebagai bentuk klasik dari kesenian jathilan. Ciri utamanya terletak pada hiasan bulu ayam jantan di ikat kepala penari serta iringan gamelan sederhana.
Lebih dari sekadar tontonan, Jathilan Lancur berperan penting dalam ritual seperti merti desa. Gerakan energiknya melambangkan semangat hidup, keberanian, dan solidaritas warga, sekaligus menjaga identitas budaya Sleman di tengah perubahan zaman.
21. Antup
Di tengah kebutuhan hiburan masyarakat pedesaan, lahirlah kesenian Antup dari Padukuhan Janturan, Mlati. Bentuknya menyerupai teater rakyat yang memadukan dialog dan tari sederhana, lengkap dengan tokoh pelawak bernama Antup dan Antop.
Kesenian ini kerap menyampaikan pesan moral melalui cerita rakyat. Meski sempat vakum akibat terhentinya regenerasi, upaya revitalisasi membuat Antup kembali dipentaskan dan menjadi contoh bagaimana seni rakyat dapat bangkit kembali melalui kepedulian bersama.
22. Upacara Adat Wot Galeh
Tradisi Nyadran Agung Wot Galeh menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur, khususnya Pangeran Purbaya. Upacara ini digelar menjelang bulan Ramadan dan berpusat di kompleks Masjid Sulthoni Wot Galeh.
Prosesi kirab budaya, gunungan hasil bumi, serta doa bersama mencerminkan rasa syukur dan harapan akan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pemerintah, dan keraton dalam menjaga warisan spiritual.
23. Mitos Gunung Merapi
Kehidupan masyarakat Sleman tidak bisa dilepaskan dari Gunung Merapi. Mitos tentang Merapi berkembang sebagai sistem pengetahuan lokal dalam memahami alam dan bencana.
Kepercayaan ini mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Melalui mitos, masyarakat belajar menghormati kekuatan alam sekaligus membangun sikap waspada dan adaptif terhadap lingkungan sekitarnya.
24. Tambak Kali
Jejak sejarah keprajuritan tercermin dalam Bregada Tambak Kali yang terinspirasi kisah Adipati Jayaningrat. Kesenian ini lahir sebagai wadah generasi muda untuk melestarikan seni kaprajuritan.
Tambak Kali tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai identitas budaya dan pendukung desa wisata berbasis budaya. Nilai disiplin, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan menjadi roh utama kesenian ini.
Nah, demikianlah tadi penjelasan lengkap mengenai kebudayaan khas Sleman yang menjadi WBTb. Semoga bermanfaat!
(par/apu)












































Komentar Terbanyak
Polisi Minta Ortu Serahkan Buron Pembunuhan di Dekat SMAN 3 Jogja
Mencuatnya Dugaan Kekerasaan Seksual Libatkan Dosen UPN Veteran Jogja
Lagi-lagi Geng Sadis Berulah di Jogja