Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Naik, Kenapa?

Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Naik, Kenapa?

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJogja
Rabu, 04 Mar 2026 13:41 WIB
Birds fly near a boat in the Strait of Hormuz amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, as seen from Musandam, Oman, March 2, 2026.REUTERS/Amr Alfiky
Potret Satelit Ratusan Kapal Besar Tertahan di Selat Hormuz Foto: REUTERS/Amr Alfiky
Jogja -

Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali mengguncang pasar energi global. Serangan drone ke kilang terbesar Arab Saudi, gangguan pada fasilitas LNG Qatar, hingga kapal tanker yang tertahan di perairan teluk memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi dunia. Dalam situasi seperti ini, perhatian pasar langsung tertuju pada satu titik krusial: Selat Hormuz.

Menurut laporan Oil Price per 3 Maret 2026, harga minyak melonjak tajam. WTI kontrak April 2026 naik menjadi 77,00 dolar AS atau menguat 8,10 persen. Brent kontrak Mei 2026 menyentuh 83,65 dolar AS atau naik 7,60 persen. LNG juga naik signifikan. Bahkan dilaporkan tidak ada transit minyak mentah maupun LNG melalui Selat Hormuz pada 2 hingga 3 Maret, dengan 55 kapal tanker VLCC bermuatan penuh tertahan di Teluk Persia.

Lonjakan harga tersebut menunjukkan bahwa pasar energi global sangat sensitif terhadap gangguan di jalur ini. Selat Hormuz bukan sekadar perairan sempit, melainkan simpul utama distribusi minyak dan gas dunia. Ketika aksesnya terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz adalah jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, selat ini memisahkan Iran di utara dan Oman di selatan, tepatnya wilayah Musandam. Lebarnya berkisar antara 55 hingga 95 kilometer, dengan bagian tersempit berada di antara Pulau Larak milik Iran dan Great Quoin milik Oman.

ADVERTISEMENT

Menurut US Energy Information Administration, pada 2024, rata-rata 20 juta barel minyak melewati selat ini per hari. Jumlah tersebut setara sekitar 20 persen konsumsi cairan petroleum global. Selain itu, sekitar seperlima perdagangan LNG dunia juga transit melalui jalur ini, terutama dari Qatar.

Britannica menyebut Selat Hormuz sebagai salah satu oil chokepoints terpenting di dunia, sejajar dengan Selat Malaka. Chokepoint adalah jalur sempit yang menjadi titik krusial perdagangan global. Jika terganggu, pasokan bisa tertunda dan biaya logistik meningkat tajam.

Arus melalui selat ini mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global. Sekitar 84 persen minyak dan 83 persen LNG yang melewati Hormuz pada 2024 menuju pasar Asia, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Artinya, stabilitas selat ini sangat menentukan kestabilan harga energi dunia.

Sejarah Selat Hormuz

Sejak berabad-abad lalu, Selat Hormuz telah menjadi gerbang penting perdagangan antara Timur dan Barat. Jalur ini menghubungkan kawasan Teluk Persia yang kaya sumber daya dengan Samudra Hindia dan rute perdagangan Asia Selatan serta Asia Timur. Posisi geografisnya menjadikannya simpul distribusi komoditas strategis, mulai dari rempah-rempah pada era klasik hingga minyak bumi pada era modern.

Dalam konteks geopolitik modern, selat ini semakin vital setelah Revolusi Iran 1979. Sejak saat itu, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kerap memanas, dan Selat Hormuz menjadi panggung unjuk kekuatan militer. Pada 1980-an, perang tanker dalam konflik Iran Irak menunjukkan bagaimana kapal komersial bisa menjadi target serangan.

Publikasi berjudul Geopolitical Dynamics of Maritime Security in the Strait of Hormuz karya Hasna Moraina Rizkiyani dkk menjelaskan bahwa wilayah ini merupakan titik temu perairan teritorial Iran dan Oman. Kedalamannya sebagian besar lebih dari 100 meter di jalur pelayaran utama, cukup untuk kapal tanker raksasa. Namun karena sempit dan padat lalu lintas, selat ini rentan terhadap gangguan keamanan.

Dalam buku Prinsip Sun Tzu dalam Doktrin Angkatan Laut karya Aris Sarjito, Selat Hormuz disebut sebagai chokepoint strategis paling vital di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati jalur ini. Strategi menyerang titik lemah di selat ini dapat memberikan tekanan ekonomi besar kepada negara-negara yang bergantung pada ekspor maupun impor minyak. Insiden penahanan kapal tanker di masa lalu berulang kali memicu lonjakan harga minyak dunia.

Meski Iran secara geografis memiliki kemampuan mengganggu pelayaran, berbagai analisis, termasuk dari Oxford, menyebutkan bahwa penutupan total dalam jangka panjang sulit dilakukan karena respons internasional yang cepat dan kepentingan global yang sangat besar.

Penutupan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak

Dampak pertama adalah lonjakan harga. Oil Price mencatat konflik Israel Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak naik sekitar 10 dolar AS per barel dalam waktu singkat. LNG melonjak hingga 15 dolar AS per MMBtu. Tarif pengiriman VLCC rute Teluk ke China melonjak hingga 560 persen sejak awal Januari.

Gangguan ini tidak hanya memengaruhi minyak mentah. Produk turunan seperti diesel, bahan bakar jet, dan nafta ikut melonjak. S&P Global Platts bahkan menghentikan sebagian penilaian harga minyak Timur Tengah karena ketidakpastian pengiriman.

Memang terdapat jalur alternatif. Arab Saudi memiliki pipa East West berkapasitas sekitar 5 juta barel per hari menuju Laut Merah. Uni Emirat Arab memiliki pipa 1,8 juta barel per hari menuju Fujairah. Namun, kapasitas cadangan yang tersedia diperkirakan hanya sekitar 2,6 juta barel per hari, jauh lebih kecil dibanding rata-rata 20 juta barel per hari yang biasanya melewati Hormuz.

Oxford memproyeksikan beberapa skenario. Gangguan parsial yang menurunkan lalu lintas kapal 50 persen selama dua bulan dapat memangkas suplai global sekitar 4 juta barel per hari. Dalam skenario ekstrem, jika transit terhenti selama satu minggu, harga minyak berpotensi melonjak hingga 140 dolar AS per barel dan harga gas melampaui 40 dolar AS per MMBtu.

Karena minyak adalah komoditas global dengan elastisitas harga rendah, sedikit gangguan saja sudah cukup untuk mendorong kenaikan harga signifikan. Ketika Selat Hormuz tertutup atau bahkan hanya terancam, pasar segera menghitung potensi kekurangan pasokan. Itulah sebabnya penutupan Selat Hormuz hampir selalu identik dengan lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads