SPPG Muntuk Bantul Tutup Imbas Akuntan Ejek Korban Keracunan MBG Dipecat

SPPG Muntuk Bantul Tutup Imbas Akuntan Ejek Korban Keracunan MBG Dipecat

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Selasa, 22 Sep 2026 16:39 WIB
Petugas SPPG menyiapkan Makan Siang Gratis (MBG) (Antara Foto/Andry Denisah)
Foto: Ilustrasi Makan Siang Gratis (Antara Foto/Andry Denisah)
Bantul -

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Muntuk, Dlingo, Bantul, kini tidak beroperasi setelah akuntannya dipecat gegara mengejek korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara. Pemkab Bantul menyebut SPPG itu harus mencari akuntan baru.

"Iya benar, sampai hari ini (SPPG Muntuk) juga masih tidak beroperasi," kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Bantul, Hermawan Setiaji, saat dihubungi detikJogja, Selasa (22/9/2026).

Hermawan menjelaskan, SPPG bisa beroperasi jika Kepala SPPG, bagian administrasi, dan akuntan atau bagian keuangan berada di SPPG. Sedangkan SPPG Muntuk saat ini mengalami kekosongan akuntan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"SPPG bisa jalan jika ada kepala, administrasi dan akuntan. Nah, yang bersangkutan itu kan akuntan, dan kalau tidak ada akuntannya ya tidak bisa jalan," ujarnya.

Menurut Hermawan, SPPG itu sedang mencari akuntan baru setelah akuntan sebelumnya dipecat oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

ADVERTISEMENT

"Mungkin cooling down dulu dan mencari akuntan, kalau sudah ada akuntan baru nanti baru beroperasi lagi melayani (MBG)," ucap dia.

Diberitakan sebelumnya, BGN Regional DIY memberhentikan karyawan SPPG di Muntuk, Bantul, yang mengejek korban keracunan MBG di Karo, Sumatera Utara. BGN DIY juga meminta jajaran SPPG agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial (medsos).

"Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan," kata Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko dalam keterangannya, Senin (21/9).

Gagat menjelaskan, keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga standar perilaku, etika, dan profesionalitas seluruh jajaran dalam penyelenggaraan program MBG.

"Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi," ujarnya.

Menurut Gagat, setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, ketika terdapat masyarakat atau penerima manfaat yang diduga terdampak, seluruh jajaran harus mengedepankan rasa kemanusiaan, empati, serta sikap saling menghormati, bukan menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan candaan ataupun olok-olok.

Gagat menegaskan kejadian tersebut harus menjadi pelajaran bersama, bukan sekadar persoalan terhadap individu.

"Jangan sampai satu perilaku menghapus kerja baik banyak orang. Mari kita jadikan ini pelajaran. Bekerja dengan benar, berkomunikasi dengan baik, dan tetap memiliki empati. Kita hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk merendahkan pihak lain," ucapnya.



(dil/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads