Tradisi Santap Bangkai di Balik Warga Gunungkidul Kena Antraks

Terpopuler Sepekan

Tradisi Santap Bangkai di Balik Warga Gunungkidul Kena Antraks

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 10 Okt 2026 10:54 WIB
Petugas saat mengubur sapi mati mendadak di Pedukuhan Kulwo, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Selasa (27/8/2019).
Ilustrasi. (Foto: Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul)
Gunungkidul -

Tradisi brandu atau menyembelih dan membagikan daging ternak yang mati mendadak masih dilakukan sebagian warga Gunungkidul. Praktik ini menjadi sorotan setelah sejumlah warga di wilayah tersebut terpapar antraks usai mengonsumsi atau bersentuhan dengan kambing yang mati mendadak.

Kasus terbaru ditemukan di Mulusan, Paliyan. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menerima laporan warga dengan gejala antraks kulit setelah melakukan brandu terhadap kambing yang mati mendadak.

"Kami dapat laporan dari Puskesmas kalau ada warga yang periksa dengan keluhan tangannya boleng (gejala antraks) di Paliyan," kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti saat dihubungi detikJogja, Kamis (8/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan tersebut diterima DPP Gunungkidul pada Selasa (29/9). Petugas kemudian melakukan pengendalian, mulai dari vaksinasi hingga penyiraman formalin di lokasi penyembelihan.

"Kami sudah melakukan uji sampel tanah dan hasilnya positif (antraks), pengendalian juga sudah selesai. Kalau kambingnya tidak ketemu karena sudah disembelih, dimakan atau biasa disebut dibrandu," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Kasus serupa sebelumnya terjadi di Dadapayu, Semanu. Empat warga dinyatakan positif antraks setelah diduga terpapar dari kambing yang mati mendadak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Ismono, mengatakan kasus itu terungkap setelah seorang warga memeriksakan diri ke puskesmas pada awal September. Penelusuran epidemiologi kemudian menemukan tujuh orang yang diduga terpapar antraks.

"Awalnya ada warga yang periksa ke Puskesmas dan ternyata mengalami gejala klinis antraks. Setelah penyelidikan epidemiologi ada tujuh orang suspek antraks," kata Ismono, Kamis (1/10).

Setelah menjalani pemeriksaan PCR, empat dari tujuh orang tersebut dinyatakan positif antraks. Penelusuran lebih lanjut menemukan 47 orang yang berisiko terpapar karena memiliki riwayat kontak dengan kambing atau produk hewan tersebut.

"Jadi 47 orang itu memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing yang mati mendadak," ucapnya.

Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, Eko Mujiarto, memastikan keempat pasien telah sembuh.

"Sudah sembuh semua dan sampai saat ini belum ada penambahan," ucap Eko, Sabtu (3/10/2026).

Tradisi Brandu Masih Bertahan

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti menjelaskan brandu pada dasarnya merupakan tradisi untuk membantu pemilik ternak yang mengalami kerugian. Daging ternak yang mati mendadak dijual murah kepada warga, lalu uang hasil penjualan diberikan kepada pemiliknya.

Padahal, pemilik ternak bisa mengajukan kompensasi kepada pemerintah kabupaten jika melaporkan ternak yang mati mendadak.

"Padahal kalau lapor ternaknya mati mendadak masyarakat bisa dapat kompensasi dari Pemkab. Jadi masyarakat yang punya ternak diharap lapor ke Puskeswan kalau ternaknya mati mendadak," ucapnya.

Kompensasi tersebut diatur dalam Perbup Nomor 10 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemberian Kompensasi dan/atau Bantuan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular dan Tata Cara Pemberian Kompensasi Hewan Sehat Akibat Depopulasi. Dana kompensasi bersumber dari Belanja Tak Terduga (BTT) APBD.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Rismiyadi, menyayangkan praktik brandu masih dilakukan meski sosialisasi telah berulang kali diberikan kepada masyarakat.

"Sebetulnya kami sudah sering masuk ke wilayah itu untuk melakukan edukasi, bahkan kami sudah edukasi masyarakat dengan seni seperti wayang. Tapi kembali lagi kesadaran masyarakat itu yang susah," ucapnya.

Menurut Rismiyadi, warga yang melaporkan ternaknya mati mendadak dapat memperoleh kompensasi. Namun, sebagian warga masih memilih menyembelih dan mengonsumsi ternak tersebut.

"Hewan kalau sakit, mati, dikubur lalu di laporan sebenarnya dapat kompensasi dari Pemkab. Tapi mereka masih eman-eman (perhitungan), jadi ketika sakit disembelih dahulu, kemudian dimakan dan dibrandu," katanya.



(aku/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads