Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyebut kasus antraks kembali muncul di Mulusan, Paliyan. Warga positif antraks disebut terpapar usai melakukan brandu terhadap kambing yang mati mendadak.
"Kami dapat laporan dari Puskesmas kalau ada warga yang periksa dengan keluhan tangannya boleng (gejala antraks) di Paliyan," kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti saat dihubungi detikJogja, Kamis (8/10/2026).
Perlu diketahui, luka boleng atau borok kehitaman pada tangan merupakan gejala khas dari antraks kulit (cutaneous anthrax). Luka tersebut terjadi ketika spora bakteri Bacillus Anthracis masuk melalui luka terbuka atau goresan di kulit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retno mengungkapkan, bahwa laporan itu masuk ke DPP Gunungkidul hari Selasa (29/9). Menindaklanjuti laporan itu, DPP langsung melakukan pengendalian berupa vaksinasi hingga penyiraman formalin ke tempat penyembelihan kambing.
"Kami sudah melakukan uji sampel tanah dan hasilnya positif (antraks), pengendalian juga sudah selesai. Kalau kambingnya tidak ketemu karena sudah disembelih, dimakan atau biasa disebut dibrandu," ujarnya.
Retno menjelaskan, bahwa brandu sebenarnya merupakan tradisi yang tujuannya baik. Mengingat hasil dari brandu bakal dijual secara murah kepada warga.
Selanjutnya uang hasil penjualan paket daging diberikan kepada pemilik ternak. Semua itu agar pemilik ternak tidak mengalami kerugian yang cukup besar akibat ternaknya mati.
"Padahal kalau lapor ternaknya mati mendadak masyarakat bisa dapat kompensasi dari Pemkab. Jadi masyarakat yang punya ternak diharap lapor ke Puskeswan kalau ternaknya mati mendadak," ucapnya.
Pemberian kompensasi tersebut, lanjut Retno, tertuang dalam Perbup No.10 Tahun 2025, tentang Tata Cara Pemberian Kompensasi dan/atau Bantuan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular dan Tata Cara Pemberian Kompensasi Hewan Sehat Akibat Depopulasi. Adapun kompensasi itu menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT) yang bersumber dari APBD.
Belum diketahui pasti berapa jumlah warga yang terpapar antraks. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul juga belum memberikan keterangan terkait kejadian tersebut. Bahkan, detikJogja telah mendatangi Kantor Dinkes Gunungkidul dan menghubungi Kepala Dinkes namun hingga kini belum ada respons.
