Round-Up

Sultan HB X Kembali Sentil SPPG Usai Marak Keracunan MBG di DIY

Tim detikJogja - detikJogja
Rabu, 09 Sep 2026 05:50 WIB
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Kamis (18/6/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyentil SPPG usai marak kasus keracunan MBG di DIY. Sultan menilai kasus keracunan terjadi karena keteledoran pengelola dapur.

"Saya yakin bahwa keracunan itu memang tidak sengaja, tapi teledor aja," ujar Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Selasa (8/9/2026).

Diketahui, beberapa waktu belakang marak terjadi keracunan MBG. Di Sleman, misalnya tercatat terjadi keracunan MBG di wilayah Pandowoharjo pada Selasa (1/9) dan di Turi pada Senin (7/9).

Terbaru terjadi di SD negeri di Jetis, Bantul. Puluhan siswa SD itu keracunan usai menyantap MBG pada Jumat (4/9). Hingga Selasa (8/9), tercatat 32 anak masih belum masuk sekolah.

Sultan kembali mengingatkan agar pengelola dapur hati-hati dalam menyiapkan hingga menyajikan makanan.

"Loh kalau saya ya, bagi yang punya kewajiban untuk menyiapkan makanan ya hati-hati. Jadi dilihat betul sebelum memasak, dilihat betul material dalam hal ini entah sayur, entah daging, entah ikan dan sebagainya itu betul-betul dilihat," katanya.

"Misalnya daging kan harus dimasukkan freezer kulkas. Tapi kalau enggak punya ya dua hari mesti warnanya sudah biru. Kalau dimasak mesti beracun," imbuh Sultan.

Ingatkan Lagi Sayur Mudah Basi

Ia juga mengulang nasihat yang pernah disampaikannya soal waktu penyajian makanan. Menurutnya, makanan tertentu, terutama sayuran dan makanan berkuah, memiliki risiko lebih cepat basi jika jarak antara waktu memasak dan waktu makan terlalu lama.

"Masa awal masaknya jam 02.30 pagi dimakan jam 08.00 ya mesti sudah basi. Misalnya gitu," katanya.

"Yang pakai kuah itu sudah sayub, karena makannya mungkin terlalu siang atau jaraknya panjang. Biasanya 50, 100 porsi itu sudah 04.30. Nek luwih seko 50 porsi terus mungkin jam 03.00, jam 02.30 kan makin-makin sayub," ucapnya.

Tak Perlu Setop Program

Meski begitu, menurutnya program MBG tak perlu disetop. Ia menilai program itu akan berjalan baik jika penanganannya juga baik.

"Kalau saya bukan disetop, asal bisa menangani yang baik sebetulnya enggak perlu disetop," kata Sultan.

Sultan menilai kasus keracunan tersebut bukan terjadi karena kesengajaan, melainkan lebih kepada kelalaian dalam proses penyimpanan dan pengolahan makanan.

"Harus menyediakan stok tiga hari, sehari misalnya 10 kilo berarti 30 kilo. Harus dimasukkan freezer. Kalau dia punya kulkas, besarnya kulkas berapa? Apakah mampu untuk menampung daging yang 30 atau 50 kilo misalnya," jelasnya.

"Soalnya saya seneng masak jadi ngerti. Nek bapak-bapak ning kok dapur aja nyerahke karo ibu, enggak pernah masak, ya enggak ngerti kondisi seperti itu," pungkasnya.

Sultan Pernah Ingatkan Pengelola Dapur

Diketahui, Sultan pernah mengingatkan pengelola dapur MBG agar mengubah pengelolaan untuk mencegah keracunan berulang. Hal itu ia sapaikan dalam pidatonya di acara gerakan pangan murah di DPKP DIY September tahun lalu.

Sultan menyinggung tentang sayur yang dimasak pada dini hari. Hal itu dinilai berpotensi menyebabkan keracunan.

"Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan? Nggak usah menggunakan orang kimia gitu, sudah. Masaknya jam setengah 2 pagi, dimakan jam 08.00 saja sudah mesti wayu (basi). Udah. Itu airnya disendok begini sudah mulur itu. Udah itu pasti," kata Sultan dalam sambutannya di DPKP DIY, Jumat (26/9/2025).

Sultan menambahkan, jika pola yang digunakan dalam penyajian makanan di program MBG tidak dievaluasi, maka kemungkinan kasus keracunan akan terus muncul.

"Korban itu tidak akan berkurang selama pola masak-pola masaknya tidak berubah, gitu," tegas Sultan.




(afn/apu)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork