Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyentil SPPG usai marak kasus keracunan MBG di DIY. Sultan menilai kasus keracunan terjadi karena keteledoran pengelola dapur.
"Saya yakin bahwa keracunan itu memang tidak sengaja, tapi teledor aja," ujar Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Selasa (8/9/2026).
Diketahui, beberapa waktu belakang marak terjadi keracunan MBG. Di Sleman, misalnya tercatat terjadi keracunan MBG di wilayah Pandowoharjo pada Selasa (1/9) dan di Turi pada Senin (7/9).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terbaru terjadi di SD negeri di Jetis, Bantul. Puluhan siswa SD itu keracunan usai menyantap MBG pada Jumat (4/9). Hingga Selasa (8/9), tercatat 32 anak masih belum masuk sekolah.
Sultan kembali mengingatkan agar pengelola dapur hati-hati dalam menyiapkan hingga menyajikan makanan.
"Loh kalau saya ya, bagi yang punya kewajiban untuk menyiapkan makanan ya hati-hati. Jadi dilihat betul sebelum memasak, dilihat betul material dalam hal ini entah sayur, entah daging, entah ikan dan sebagainya itu betul-betul dilihat," katanya.
"Misalnya daging kan harus dimasukkan freezer kulkas. Tapi kalau enggak punya ya dua hari mesti warnanya sudah biru. Kalau dimasak mesti beracun," imbuh Sultan.
Ingatkan Lagi Sayur Mudah Basi
Ia juga mengulang nasihat yang pernah disampaikannya soal waktu penyajian makanan. Menurutnya, makanan tertentu, terutama sayuran dan makanan berkuah, memiliki risiko lebih cepat basi jika jarak antara waktu memasak dan waktu makan terlalu lama.
"Masa awal masaknya jam 02.30 pagi dimakan jam 08.00 ya mesti sudah basi. Misalnya gitu," katanya.
"Yang pakai kuah itu sudah sayub, karena makannya mungkin terlalu siang atau jaraknya panjang. Biasanya 50, 100 porsi itu sudah 04.30. Nek luwih seko 50 porsi terus mungkin jam 03.00, jam 02.30 kan makin-makin sayub," ucapnya.
Tak Perlu Setop Program
Meski begitu, menurutnya program MBG tak perlu disetop. Ia menilai program itu akan berjalan baik jika penanganannya juga baik.
"Kalau saya bukan disetop, asal bisa menangani yang baik sebetulnya enggak perlu disetop," kata Sultan.
Sultan menilai kasus keracunan tersebut bukan terjadi karena kesengajaan, melainkan lebih kepada kelalaian dalam proses penyimpanan dan pengolahan makanan.
"Harus menyediakan stok tiga hari, sehari misalnya 10 kilo berarti 30 kilo. Harus dimasukkan freezer. Kalau dia punya kulkas, besarnya kulkas berapa? Apakah mampu untuk menampung daging yang 30 atau 50 kilo misalnya," jelasnya.
"Soalnya saya seneng masak jadi ngerti. Nek bapak-bapak ning kok dapur aja nyerahke karo ibu, enggak pernah masak, ya enggak ngerti kondisi seperti itu," pungkasnya.
Sultan Pernah Ingatkan Pengelola Dapur
Diketahui, Sultan pernah mengingatkan pengelola dapur MBG agar mengubah pengelolaan untuk mencegah keracunan berulang. Hal itu ia sapaikan dalam pidatonya di acara gerakan pangan murah di DPKP DIY September tahun lalu.
Sultan menyinggung tentang sayur yang dimasak pada dini hari. Hal itu dinilai berpotensi menyebabkan keracunan.
"Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan? Nggak usah menggunakan orang kimia gitu, sudah. Masaknya jam setengah 2 pagi, dimakan jam 08.00 saja sudah mesti wayu (basi). Udah. Itu airnya disendok begini sudah mulur itu. Udah itu pasti," kata Sultan dalam sambutannya di DPKP DIY, Jumat (26/9/2025).
Sultan menambahkan, jika pola yang digunakan dalam penyajian makanan di program MBG tidak dievaluasi, maka kemungkinan kasus keracunan akan terus muncul.
"Korban itu tidak akan berkurang selama pola masak-pola masaknya tidak berubah, gitu," tegas Sultan.
Beri Saran Masak Dibagi Beberapa Kelompok
Sebulan kemudian, Sultan kembali berbicara soal MBG. Kala itu ia berkomentar usai kasus keracunan di SMA Teladan.
Sultan lagi-lagi menyinggung soal margin waktu memasak dan waktu makanan itu disantap siswa. Jarak waktu yang lama menurutnya bisa membuat makanan tak lagi segar dan rawan menimbulkan keracunan.
Dalam kasus keracunan di SMA Teladan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wirobrajan yang menaungi sekolah itu, juga menaungi 8 sekolah lainnya. Di dalamnya, terdapat 3.444 siswa dari 9 sekolah itu.
"Saya kan sudah mengatakan, ya gimana, kalau mau bikin 3 ribu porsi ya tidak bisa to. Nek biasane ming (kalau biasanya cuma bikin) 50 (porsi) terus (bikin) 3 ribu, dengan dapur tradisional itu suruh masak 3 ribu itu jam piro le arep tangi (jam berapa harus bangun)," ujar Sultan di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Jumat (17/10/2025).
Sultan berpendapat, SPPG memiliki beban jika harus menyediakan 3 ribuan porsi per SPPG. Meski sudah dilakukan pengawasan hingga kewajiban memiliki sertifikat higienis, menurutnya, jika beban SPPG masih seberat ini sulit untuk memastikan bahan makanan selalu fresh.
"Lho iya (perlu evaluasi), sekarang masalahnya, misal maunya itu harus diawasi, terus punya sertifikat. Tapi kalau dapurnya itu ming nganggo (cuma pakai) areng atau pakai LPG tapi (dibebani) 2 atau 3 ribu porsi ndak akan bisa. Rumah makan wae rak ono sing (tidak ada yang) buka nganti (sampai) 3 ribu porsi terus, ndak akan mampu," ujarnya.
Sultan menyarankan, pemasak dibagi beberapa kelompok untuk bertanggungjawab memasak sekian porsi. Artinya, satu SPPG tidak dibebani hingga 3 ribuan porsi per harinya dengan pemasak yang sedikit.
"Sekarang misalnya satu orang masak, kon (disuruh) masak 3 ribu (porsi) juga ora (tidak) mungkin. Berarti satu grup dihitung tukang masuk lima, dibantu orang berapa misalnya pembantunya tiga. Itu satu kelompok delapan orang, udah (dibebani) 50 porsi," terangnya.
"Lha nek (kalau) 3 ribu ya dibagi berapa porsi gitu aja. Itu lebih logis daripada satu unit suruh 3 ribu, tidak akan bisa. Yang 50 (porsi) aja mungkin bangunnya sudah 4.30 pagi. Ha nek 3 ribu kan malam (masaknya) suruh makan jam 10 (pagi) lha ya keracunan no," pungkas Sultan.
