Sejumlah siswa TK, SD, hingga SMA di wilayah Nyaen, Pandowoharjo, Sleman dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibat kejadian itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dihentikan sementara.
Panewu Sleman, Rohmiyanto, menjelaskan keracunan ini awalnya diketahui saat seorang siswa SD di wilayah Nyaen mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG pada Senin (31/8). Siswa itu bahkan harus dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan.
"Jadi itu MBG yang hari Senin, (tanggal) 31. Kemudian mulai bergejalanya kan malam Selasa ya. Malam Selasa sampai Selasa kemarin," terang Rohmi saat dihubungi wartawan, Rabu (2/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kan sebenarnya penerimanya banyak tho itu, penerima manfaatnya itu.Tapi yang ada yang laporan itu yang SD Nyayen 2, itu satu siswa rawat jalan," sambungnya.
Atas kejadian itu, lanjut Rohmi, Dinas Kesehatan Sleman pun menindaklanjuti dengan menyebarkan angket google form guna mendeteksi adanya siswa lain yang terdampak. Tracking dilakukan tak hanya di SD tersebut, namun juga di sekolah lain yang menerima MBG dari SPPG yang sama.
Hasilnya, terdapat 28 orang lagi yang mengalami gejala keracunan. Rinciannya 25 siswa dan satu guru di SD Nyaen, serta dua siswa TK Keluarga. Namun 28 itu menurutnya hanya mengalami gejala ringan.
"Hasil tracking yang pakai Google Form itu, memang bergejala ringan tapi tetap sekolah. Kemudian yang satu itu TK Keluarga, masih di wilayah sekitaran situ juga dan cuma dua siswa, tapi itu juga ringan tetap bersekolah. Yang satu tendik (tenaga pendidik) kalau informasi tadi iya (tendik SD Nyaen)," papar Rohmi.
Tak berhenti di situ, kata Rohmi, hasil tracking via google form itu juga mendeteksi adanya siswa di dua SMA di wilayah tersebut yang juga mengalami gejala keracunan, yakni SMA Negeri 2 Sleman dan YPKK. Namun jumlah siswa bergejala hingga kini masih dalam proses pendataan.
"Bergejala ringan dan tidak rawat jalan maupun rawat inap, dalam pantauan lah. Kami minta ke Puskesmas untuk memantau perkembangan, termasuk yang di YPKK. Tapi ini kan kita juga masih terus mengolah data yang Google Form," papar Rohmi.
"Jadi itu kan Google Form-nya itu diedarkan kemarin ya. Nah yang siang tadi, sore saya belum memantau itu, ternyata masih ada tambahan beberapa yang masuk ngisi ke Google Form," sambungnya.
SPPG Disetop
Rohmi bilang, selain melakukan tracking, Dinkes Sleman juga bergerak memeriksa sampel MBG yang dikonsumsi siswa serta memeriksa lokasi SPPG-nya. Selain itu, SPPG itu juga dihentikan sementara operasionalnya hingga proses pemeriksaan usai.
"Sampelnya sudah dicek kok. Jadi Dinkes sudah mendatangi SPPG-nya, kemudian cek sanitasi dan sebagainya, termasuk sampelnya kemudian dicek juga. Kita tunggu saja," ungkap Rohmi.
"Kalau SPLG-nya itu disetop hari ini, hari ini informasinya SPPG-nya setop. Sambil menunggu, pengecekan berkaitan sampel juga, apakah kemudian nanti ada indikasi atau nggak," imbuhnya.
Lebih lanjut Rohmi menjelaskan, kejadian keracunan ini baru pertama kali terjadi di wilayahnya. Menurutnya, terdapat 10 SPPG di Kapanewon Sleman dan masing-masing memiliki Korwil.
Sehingga informasi kejadian bisa dengan cepat tertangani.
"Kalau selama saya di sini ya baru ini, baru sekali ini. Di lingkup Kapanewon itu ada kurang lebih 10 SPPG sih, biasanya juga saling komunikasi ketika ada hal, kan ini salah satunya infonya dari korwilnya SPPG yang Kapanewon. Jadi terinfo bahwa ada kejadian seperti ini," ujar Rohmi.
"Jadi mereka juga tidak menyembunyikan fakta bahwa ada kejadian kan gitu. Kemudian info ke kita termasuk kronologisnya dan sebagainya. Sehingga harapannya cepat tertangani dan harapannya juga tidak terulang," pungkasnya.
