Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Turi Sleman. Ini merupakan kasus kedua di Sleman yang terjadi dalam sepekan.
"Kejadian sekitar 7.30 WIB dan makan makanan pagi tadi," jelas Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Pemkab Sleman, Khamidah Yuliati, kepada detikJogja lewat pesan singkat, Senin (7/9/2026).
Dalam laporan awal, disebut ada 47 orang menjadi korban keracunan. Sebanyak 45 orang dirawat di puskesmas dan 2 lainnya dirawat di RS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang mendapat perawatan di puskesmas 45 orang dan di RS dua orang, sementara itu yang bisa kami sampaikan," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, menyebut keracunan terjadi di SMPN 3 Turi, SD Muhammadiyah Balerante, dan SMK Muhammadiyah.
"Disusul berbarengan SD Balerante, kemudian SMK Muhammadiyah. Yang terakhir saya pulang tadi 24 orang di SMPN, di antaranya satu guru," ungkap Mustadi saat dimintai konfirmasi detikJogja siang ini.
"Itu data tadi sementara ya, kemungkinan bisa berkembang. Kemudian gejalanya ya mual, muntah," imbuh Mustadi.
Sebelumnya Terjadi di Pandowoharjo
Diketahui, kasus keracunan MBG juga terjadi di Sleman pada Selasa (1/9). Sejumlah siswa TK, SD, hingga SMA di wilayah Nyaen, Pandowoharjo, Sleman dilaporan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG sehari sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, memaparkan ada 229 orang yang melapor mengalami gejala keracunan makanan.
"Update terkait KLB kerpang (keracunan pangan) di wilayah Kapanewon dan Puskesmas Sleman, berdasarkan data sementara, telah dilakukan pendataan terhadap 1.110 responden dan ditemukan 229 orang dengan keluhan kesehatan," ujarnya saat dihubungi, Kamis (3/9).
"Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah sakit perut dan diare," sambung Yuli.
Meski begitu, Yuli masih belum merinci data tersebut, termasuk data per sekolah. Namun ia memastikan tidak ada siswa bergejala yang sampai dirawat inap di fasilitas kesehatan.
Yuli menambahkan, pemeriksaan sampel makanan masih terus dilakukan untuk mengetahui penyebab keracunan. Terhadap para siswa bergejala juga terus dilakukan pemantauan dan penanganan.
"Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sedang melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap dugaan keracunan makanan di wilayah kerja Puskesmas Sleman," terangnya.
"Penyebab masih proses pemeriksaan laboratorium dan analisis epidemiologi lanjutan masih berlangsung," pungkas Yuli.
