Sumur Kering, Warga Duwet Gunungkidul Ngangsu Air Keruh buat Minum

Sumur Kering, Warga Duwet Gunungkidul Ngangsu Air Keruh buat Minum

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 23 Jul 2026 19:10 WIB
Warga Duwet, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, mengambil air dari sumber mata air kali Wonosari saat kemarau, Kamis (23/7/2026).
Warga Duwet, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, mengambil air dari sumber mata air kali Wonosari saat kemarau, Kamis (23/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Kemarau berdampak pada mengeringnya sumur di Duwet, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul. Warga pun harus ngangsu atau mengambil air dari sumber mata air Kali Wonosari. Air yang sekilas tampak keruh itu nantinya diendapkan hingga jernih untuk kebutuhan sehari-hari.

Diketahui, wilayah Duwet tidak teraliri air PDAM dan jika beli air per tangki harus mengantre sepekan. Pantauan detikJogja, warga mengangsu air dari sumber itu menggunakan jeriken hingga galon.

Di sumber itu, air tampak mengalir dari bambu yang terpasang di sela bebatuan. Alirannya terbilang kecil, namun air itu tidak pernah berhenti mengalir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga Duwet, Wahyu (34) mengaku sudah bolak-balik untuk ngangsu dari mata air kali Wonosari.

"Biasanya saya tiga sampai empat kali ngangsu air ke sini, ini saya pakai dua jeriken yang 30 liter. Airnya untuk kebutuhan sehari-hari," kata di kepada wartawan di lokasi, Kamis (23/7/2026) sore.

ADVERTISEMENT
Warga Duwet, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, mengambil air dari sumber mata air kali Wonosari saat kemarau, Kamis (23/7/2026).Warga Duwet, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, mengambil air dari sumber mata air kali Wonosari saat kemarau, Kamis (23/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Wahyu melanjutkan, kegiatan ngangsu di sumber itu hanya berlangsung saat kemarau. Mengingat saat musim kemarau sumur-sumur kering.

"Ngangsu air dari sini hanya saat kemarau saja, dan itu sudah berlangsung sejak kakek nenek saya. Tapi ya tidak apa-apa, darpada beli air per tangki itu harganya Rp 150 ribu," ujarnya.

Warga Duwet lainnya, Wiwin (30) mengaku hari ini sudah mondar-mandir sebanyak empat kali menggunakan dua jeriken dan satu galon air.

"Ngangsu itu pagi jam lima sampai tujuh, lalu sore jam tiga sampai setengah enam dan kalau butuh sekali ya sampai malam juga," ucapnya.

Air tersebut Wiwin gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mengingat saat musim kemarau sumurnya kering dan di Duwet belum teraliri air PDAM.

"Airnya buat minum, masak dan mandi, tapi hanya saat kemarau saja. Kalau musim hujan tidak, karena punya tampungan bak untuk air hujan," katanya.

"Kalau mau beli air tangki ngantre dulu seminggu, terus dikirimnya seminggu kemudian. Belum lagi harganya Rp 150 ribu per tangki kapasitas 5.000 liter. Jadi ya mending pakai air ini saja," imbuhnya

Wiwin berharap aliran PDAM sampai di Duwet. Sedangkan Ngatino (45), warga Duwet lainnya juga tiap hari mengangsu air di sumber mata air kali Wonosari.

"Saya sudah beli air per tangki itu dua kali. Jadi gini, air tangki itu saya pakai untuk cuci pakaian dan mandi. Kalau untuk masak dan air minum ambil dari mata air sini," ujarnya.

Menurut Ngatino, kualitas air dari sumber ini lebih bagus ketimbang air yang dia beli per tangki.

"Air yang beli per tangki itu berkapur. Air yang di sini bagus, memang keruh tapi setelah mengendap jadi jernih," ucapnya.

Ngatino menambahkan, pernah ada bantuan sumur bor dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Akan tetapi saat ini sudah tidak berfungsi.

"Pernah ada bantuan sumur bor dari Kemenhan tapi sudah tidak mengalir, padahal pas awal-awal itu airnya mengalir bagus. Ya semoga ke depannya air PDAM bisa sampai sini," pungkas dia.



(dil/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads