20 Negara Asia Pasifik Kumpul di Jogja Bahas Standar Alat Ukur International

20 Negara Asia Pasifik Kumpul di Jogja Bahas Standar Alat Ukur International

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 16 Jul 2026 19:59 WIB
Asia Pacific Metrology Programme Mid-Year Meetings (APMP MYM) Mid-Year Meeting 2026 di Jogja, Kamis (16/7/2026).
Asia Pacific Metrology Programme Mid-Year Meetings (APMP MYM) Mid-Year Meeting 2026 di Jogja, Kamis (16/7/2026). Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja
Jogja -

20 perwakilan negara kawasan Asia Pasifik berkumpul di Jogja untuk membahas standar alat ukur yang disepakati secara internasional. Seluruh alat ukur dan alat kalibrasi berbagai bidang disepakati termasuk ukuran bidang medis hingga industri.

Adalah Asia Pacific Metrology Programme Mid-Year Meetings (APMP MYM) Mid-Year Meeting 2026, gelaran bikinan Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang dihelat 13-17 Juli 2026 di Yogyakarta.

Forum ini mempertemukan berbagai National Metrology Institute (NMI) dan pemangku kepentingan dari kawasan Asia Pasifik ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi teknis, menyelaraskan sistem pengukuran, serta membangun saling pengakuan atas kemampuan metrologi antarnegara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang hadir pada kegiatan kali ini ada sekitar 20 negara-negara di kawasan Asia Pasifik," terang Deputi Bidang SNSU BSN, Kristianto Widiwardono di APMP MYM Mid-Year Meeting 2026 di Jogja, Kamis (16/7/2026).

"APMP merupakan kerja sama antara badan metrologi nasional di masing-masing negara Asia Pasifik untuk memastikan sistem pengukuran yang digunakan benar-benar akurat," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Tertelusur yang dimaksud Kristianto, yakni alat pengukur dapat dikalibrasi menggunakan alat yang lebih presisi. Alat yang lebih presisi itu kemudian juga dikalibrasi lagi dengan alat yang lebih presisi berikutnya, hingga pada akhirnya secara nasional dikalibrasi di BSN menggunakan alat yang paling presisi di Indonesia.

"Namun, untuk memastikan bahwa standar yang dilakukan di BSN juga setara dengan negara lain, dilakukan uji banding antarlaboratorium di kawasan Asia Pasifik. Karena itulah APMP dibentuk," ujarnya.

Kristianto mencontohkan alat timbang di pasar. Agar yakin alat pengukur tersebut benar dan akurat, maka perlu dikalibrasi. Alat yang digunakan untuk kalibrasi itu juga nantinya harus dikalibrasi lagi.

Sehingga proses kalibrasi dilakukan secara berulang hingga menggunakan alat yang paling presisi secara nasional di BSN. Setelah itu, BSN melakukan uji banding dengan badan metrologi setara di negara lain.

"Jadi seluruh alat ukur, baik timbangan, termometer, maupun alat ukur lainnya, harus dipastikan akurat. Misalnya, jika termometer seharusnya menunjukkan suhu 36 derajat tetapi terbaca 38 derajat, maka diagnosis bisa menjadi salah. Karena itu hasil pengukurannya harus benar," paparnya.

APMP Chairperson, Gregory Goh menambahkan Metrologi atau pengukuran sangat penting bagi seluruh perekonomian apalagi di tengah berbagai disrupsi geopolitik saat ini.

"Akan selalu ada kolaborasi dalam bidang pengukuran, terutama pengukuran yang penting bagi perekonomian. Sebagai contoh adalah baterai. Setelah baterai digunakan dan akan digunakan kembali, siapa yang dapat memastikan bahwa kapasitasnya masih 85 persen atau tinggal 60 persen?," ujar Goh.

"Produsen mungkin mengatakan kapasitasnya masih 60 persen, tetapi tidak ada yang benar-benar mengetahui apakah angka tersebut memang benar, kecuali jika dilakukan pengukuran dan pengujian yang tepat," pungkasnya.



(apl/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads