Remaja Bantul Sembunyi di Plafon Saat Mau Dibawa ke Balai Rehab, Ini Ceritanya

Remaja Bantul Sembunyi di Plafon Saat Mau Dibawa ke Balai Rehab, Ini Ceritanya

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Jumat, 10 Jul 2026 17:49 WIB
Momen CS (15) sembunyi di plafon rumah saat mau dibawa ke balai rehabilitasi anak di Magelang.
Momen bocah 15 tahun sembunyi di plafon rumah saat mau dibawa ke balai rehabilitasi anak di Magelang. Foto: Tangkapan layar video Dukuh Bibis
Bantul -

Video evakuasi seorang bocah laki-laki di Bibis, Timbulharjo, Sewon, Bantul menuai perhatian. Dinarasikan bocah itu bersembunyi di plafon saat hendak dibawa ke balai rehabilitasi anak di Magelang. Seperti apa ceritanya?

Video bocah itu diunggah akun Instagram @irvan_mohammed. Irvan merupakan Dukuh Bibis.

"Tindak pidana yang dilakukan anak tidak selalu harus berurusan dengan hukum. Inilah yang dilakukan Pedukuhan Bibis, Timbuharjo, Sewon Bantul yang mengirim salah satu warganya ke Lembaga Rehabilitasi Sentra Antasena Magelang. Evakuasi cukup dramatis karena anak ini bersembunyi di atas loteng (plafon) rumah," kata akun Instagram @irvan_mohammed seperti dilihat detikJogja, Jumat (10/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lurah, Dukuh, Satgas PPA Babhinkamtibmas, dan Jaga Warga setempat harus memanjat dan mengeluarkan berbagai bujuk rayu agar anak yang sudah putus sekolah sejak kelas 5 SD itu mau turun. Semua ini dilakukan untuk menyelamatkan masa depan anak. Doa terbaik nggih, semoga anaknya berubah lebih baik," lanjut akun tersebut.

ADVERTISEMENT

Konfirmasi detikJogja

Lurah Timbulharjo, Anif Arkham Haibar, membenarkan kejadian tersebut. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (8/7/2026) pukul 07.30 WIB.

"Betul, hari Rabu itu dari Kalurahan sampai Bhabinkamtibmas melakukan penjemputan terhadap seorang anak untuk dibawa ke Sentra Antasena Magelang," kata Anif kepada detikJogja di Timbulharjo, Sewon, Bantul, sore ini.

Anif menyebut bocah dalam video itu berusia 15 tahun. Bocah itu putus sekolah sejak kelas 5 SD dan ulahnya bikin resah warga sekitar.

"Dulu anak itu sekolah di SD sampai kelas 5, karena ketahuan mencuri uang dan akhirnya keluar. Nah, di rumah ternyata anak itu sering mencuri uang milik tetangganya," ucapnya.

Sejak putus sekolah, anak pertama dari dua bersaudara itu sehari-hari tinggal bersama kakek dan neneknya. Mengingat kedua orang tuanya bekerja, di mana sang ayah merupakan pekerja bangunan dan sang ibu berdagang di pasar.

"Jadi anak itu ketemu orang tuanya hanya saat sore hari, orang tuanya juga sudah meminta anak itu untuk sekolah tapi tidak mau," ujarnya.

Anif mengatakan, uang hasil curian bocah itu mencapai jutaan rupiah.

"Anaknya suka memelihara burung, buat kandang, ternyata uangnya dari hasil mencuri. Karena berulang kali akhirnya warga lapor ke Pak RT, Dukuh dan sampai ke Kalurahan," katanya.

Aksi bocah itu pun sering kepergok warga. Namun, karena banyak yang sayang, bocah itu pun disarankan dimasukkan ke Sentra Antasena Magelang yang merupakan Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang memerlukan perlindungan khusus.

"Anak itu kerap mencuri dan ketahuan warga, tapi tidak ada yang melaporkan dan selesai secara kekeluargaan. Warga itu ngeman (sayang) dia, dan ingin agar saat sudah berumur nanti tidak melakukan tindakan kriminal," katanya.

Pihak RT, Dukuh dan Kalurahan sudah berulang kali memberikan arahan kepada bocah itu dan memintanya agar mau bersekolah lagi. Namun bocah itu tetap ngeyel, apalagi orang tuanya sudah kewalahan dengan perilaku anak tersebut.

"Karena sering mencuri, kami konsultasi ke Dinsos dan akhirnya ada solusi kalau dibawa ke lapas anak di Wonosari atau dibina di Sentra Antasena Magelang. Nah, setelah koordinasi dengan orang tuanya, akhirnya sepakat agar anaknya dibawa ke Magelang," ujarnya.

Keluarga akhirnya mengurus pendaftaran terkait pembinaan bocah itu di Sentra Antasena Magelang.

"Waktu itu anaknya oke, tapi saat hari Rabu itu kok tiba-tiba tidak mau, dan malah sembunyi di atas plafon," ucapnya.

Kepergok Sembunyi di Plafon

Oleh karena itu, perangkat desa dan petugas pun mendatangi rumah bocah itu dalam rangka menjemputnya ke Antasena Magelang. Namun, bocah itu tidak terlihat di rumah dan ditemukan bersembunyi di plafon rumah.

"Saya ke sana jam 07.30 WIB ternyata dia sudah manjat lemari dan sembunyi di atas plafon rumah. Lalu saya membujuk anak itu, tapi tidak mau turun," ujar Anif.

Lebih lanjut, secara bergantian petugas naik ke atas plafon untuk membujuk bocah itu agar mau turun. Sekitar setengah jam kemudian, bocah itu akhirnya mau turun dari atas plafon.

"Akhirnya mau turun setelah dibujuk kalau di Sentra Antasena Magelang hobimu bisa tersalurkan. Tapi dia tetap tidak mau dibawa ke Magelang," ujarnya.

Akhirnya Anif kembali membujuk bocah itu dan mengajaknya berbincang. Selama perbincangan, Anif menyarankan agar bocah itu tidak mempersulit penjemputan karena semua demi kebaikannya. Apalagi, kedua orang tua bocah itu sudah pasrah dalam menghadapi kelakuan anaknya.

"Terus saya bilang kalau tidak mau, nanti kalau kepergok masyarakat lagi bisa dimassa. Karena selama ini masyarakat tidak pernah sampai menangani (main hakim sendiri) anak itu, tapi semua kan ada batasnya," ucapnya.

Setelah perbincangan tersebut, ternyata bocah itu tetap tidak mau berangkat ke Magelang. Namun, akhirnya petugas tetap membawanya ke Magelang.

"Tapi ya tetap tidak mau juga di meski sudah dibujuk sedemikian rupa, karena itu akhirnya anak itu tetap dijemput untuk dibawa ke Sentra Antasena Magelang. Bukan apa-apa, semua demi kebaikan anak itu," katanya.



(ams/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads