Penjelasan Ilmiah Limbah Ayam Bisa Picu Teror Api di Rumah Fia

Round-Up

Penjelasan Ilmiah Limbah Ayam Bisa Picu Teror Api di Rumah Fia

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 05 Jun 2026 06:40 WIB
Garis polisi melintang di rumah warga Seyegan yang mengalami kebakaran berulang selama dua hari terakhir, Minggu (24/5/2026).
Lokasi rumah Mutfia di Seyegan Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan/detikJogja
Jogja -

Dua pekan sudah rumah Mutfia di Seyegan, Sleman diteror api misterius hingga mengundang para peneliti untuk mengungkap misteri itu. Terbaru, tim Universitas Gajah Mada (UGM) membuat kesimpulan sementara kebakaran berulang bersumber dari limbah ayam.

Bagaimana Penjelasan Ilmiahnya?

Ketua tim Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi, menjelaskan berdasarkan hasil observasi dan investigasi tersebut, tim sementara menyimpulkan bahwa keluarnya api berhubungan dengan keberadaan gas hidrogen.

Diketahui, keluarga Fia menjalankan bisnis pemotongan ayam di area tersebut. Proses fermentasi limbah organik itulah yang diduga kuat menimbulkan hidrogen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Selain itu, material limbah ayam seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam yang kaya fosfat bisa membentuk gas fosfin (PH3). Gas fosfin disebut lebih mudah terbakar dalam suhu kamar.

"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Meski demikian, hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," ujarnya.

Diketahui, barang-barang di rumah Fia, terbakar secara misterius selamadua pekan terakhir ini. Kondisi itu bisa terjadi hingga 9 kali sehari. Gegana hingga akademisi turun tangan untuk menanganinya.

Infografis Teror Api di Sleman Dipicu Limbah AyamInfografis Teror Api di Sleman Dipicu Limbah Ayam (Infografis diolah dari NotebookLM)

Lakukan Beberapa Kali Observasi

Alva menjelaskan kesimpulan itu didapat dari beberapa kali observasi oleh tim lintas disiplin ilmu di FT UGM. Tim mulai mengobservasi pada Sabtu (30/5).

Saat itu tim melakukan pengukuran menggunakan kamera termal, tetapi tidak menunjukkan adanya anomali suhu yang signifikan.

"Kamera termal yang dibawa tim UGM mengindikasikan adanya anomali suhu pada lokasi munculnya api, namun tidak signifikan, hanya berkisar sampai 29⁰C. Artinya suhu di area rumah dan sekitarnya masih berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," kata Alva.

Selanjutnya pada Senin (1/6) tim melakukan pengukuran gas dan menemukan anomali gas hidrohen (H2) yang terbaca cukup tinggi.

"Pada lokasi kamar mandi yang sempat keluar api, terbaca sampai 0,11. Pada waktu yang sama, terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen yang sangat tinggi, sampai 0,40," jelasnya.

Observasi kembali dilakukan pada Rabu (3/6) dengan tim melakukan pengukuran gas dengan alat lain dan tim lain yang dipimpin Prof Sarto dan Prof Chandra dari Teknik Kimia. Hasilnya tidak terdeteksi adanya gas yang mudah terbakar selain gas hidrogen.

Tim menilai perlu mengetahui sumber gas dan ada dua kandidat sumber gas. Yaitu limbah cair atau gas tanah.

Oleh karena itu, hari ini atau Kamis (4/6) tim akan memastikan keberadaan gas dalam tanah. Caranya dengan melakukan penggalian dangkal di beberapa titik dan mengukur keberadaan gas.

"Sementara untuk kandidat sumber dari limbah cairan sedang dalam tahap analisis laboratorium," ujarnya.

Rekomendasi Tim UGM

Untuk saat ini, Tim PKPE FT UGM merekomendasikan agar sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya. Pasang blower dan atau kipas angin, untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api.

Kemudian, mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah.

"Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen," pungkasnya.

Kesimpulan Belum Solid

Terpisah, anggota tim peneliti PKPE FT UGM Dr Sarju Winardi menjelaskan bahwa kesimpulan itu belum solid. Sebab selama ini belum ditemukan kasus serupa di tempat usaha pemotongan ayam lain.

"Kenapa ada kasus khusus di tempatnya Bu Fia atau Pak Agus bisa menghasilkan itu. Bahwa faktanya 16 tahun pembuangan itu (tidak dibuka) tapi ada kabar juga itu sering dibersihkan," ujarnya.

"Kami belum memiliki jawaban komprehensif kenapa limbah pemotongan ayam di tempat ini katakanlah menghasilkan hidrogen dibanding misalkan tempat pemotongan ayam di tempat lain," lanjutnya.

Sarju menjelaskan, hidrogen dapat terbentuk secara alami seperti ditemukan dalam bekas pembuangan sampah organik. Bisa juga karena adanya pembuangan limbah.

"Dari fakta kami melihat yang cukup memungkinkan kan karena pembuangan limbah ini. Ini asumsi ya," tegasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kala Purbaya Ditanya 2 Anak SMA soal Ekonomi RI"
[Gambas:Video 20detik]
(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads