2 Pekan Diteror Api, Keluarga Fia Pertimbangkan Relokasi

2 Pekan Diteror Api, Keluarga Fia Pertimbangkan Relokasi

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Kamis, 04 Jun 2026 20:27 WIB
Pertemuan di Kantor Kapanewon Seyegan antara peneliti dari UGM, UPN, BPPTKG, serta instansi terkait lainnya membahas soal fenomena api misterius di rumah Mutfiana, Kamis (4/6/2026).
Pertemuan di Kantor Kapanewon Seyegan antara peneliti dari UGM, UPN, BPPTKG, serta instansi terkait lainnya membahas soal fenomena api misterius di rumah Mutfiana, Kamis (4/6/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Sleman -

Kebakaran berulang di rumah Mutfia atau Fia warga Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, masih belum usai meski sudah berlangsung selama 13 hari. Usaha pemotongan ayam milik keluarganya terdampak dan saat ini muncul opsi untuk direlokasi sementara.

Mutfia mengatakan, sampai hari ini sudah hampir seratus kali kejadian benda tiba-tiba terbakar di rumahnya. Ia mengaku dengan kejadian ini mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta.

"(Sampai saat ini) 97 kali kejadian. (Nilai kerugian) Kalau lima hari yang lalu Rp 40-an juta, kalau sampai saat ini ya belum tahu," kata Fia ditemui wartawan usai pertemuan dengan Pemkab Sleman dan alademisi dan instansi terkait di Kantor Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyampaikan, dengan belum berakhirnya fenomena ini kemudian muncul saran agar dilakukan relokasi sementara. Relokasi tersebut agar usaha pemotongan ayam milik keluarganya bisa berjalan. Sehingga ekonomi keluarga bisa kembali berputar.

"Tapi dari ibu tadi memberikan saran untuk relokasi, membuat usaha baru yang memungkinkan untuk ada mata pencaharian," ujarnya.

Rencananya, ruko yang saat ini menjadi lokasi pengungsian yang akan dijadikan sebagai tempat tinggal dan usaha sementara.

"Relokasi mungkin tetap ke ruko ya. Kalau ke tempat lain kita harus bangun usaha dari nol," ujarnya.

"Karena kalau terlalu jauh juga iya, pelanggan dan konsumen pasti pergi gitu," lanjutnya.

Ia berharap penelitian ini dapat mengungkap penyebab fenomena ini dan menghentikannya.

"Yang penting ini sudah berhenti, sudah aman. Memang kalau misalnya dibutuhkan untuk penelitian nggih monggo," katanya.

Temuan Peneliti UGM

Sementara itu, investigasi masih terus dilakukan oleh ahli dari UGM, UPN, dan BPPTKG. Untuk sementara ini, tim peneliti yang tergabung dalam Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM menemukan bukti adanya gas hidrogen yang berasosiasi dengan kemunculan api.

Anggota tim peneliti PKPE FT UGM Dr Sarju Winardi mengatakan tim memiliki asumsi bahwa gas tersebut berasal dari limbah organik. Asumsi itu tak lepas dari usaha pemotongan ayam milik keluarga Fia.

Hanya saja, Sarju menyebut kejadian ini sebagai kasus khusus. Sebab, selama ini belum ditemukan kasus kemunculan api secara tiba-tiba dan berulang di tempat usaha pemotongan ayam lain.

"Kenapa ada kasus khusus di tempatnya Bu Fia atau Pak Agus bisa menghasilkan itu. Bahwa faktanya 16 tahun pembuangan itu (tidak dibuka) tapi ada kabar juga itu sering dibersihkan," ujarnya.

"Kami belum memiliki jawaban komprehensif kenapa limbah pemotongan ayam di tempat ini katakanlah menghasilkan hidrogen dibanding misalkan tempat pemotongan ayam di tempat lain," lanjutnya.

Sarju menjelaskan, hidrogen dapat terbentuk secara alami seperti ditemukan dalam bekas pembuangan sampah organik. Bisa juga karena adanya pembuangan limbah.

"Dari fakta kami melihat yang cukup memungkinkan kan karena pembuangan limbah ini. Ini asumsi ya," tegasnya.

Oleh karena itu tim UGM masih terus melakukan investigasi untuk menemukan sumber hidrogen di rumah Fia.

Untuk saat ini, Tim PKPE FT UGM merekomendasikan agar sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya. Pasang blower dan atau kipas angin, untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api.

Kemudian, mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah.

Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Sleman, Makwan, menyebut akan menindaklanjuti rekomendasi dari akademisi.

"Saya kira rekomendasi ini akan kita laksanakan terutama dengan yang punya rumah terutama menyangkut soal penataan ruang," kata Makwan.




(afn/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads