SPPG di Jetis Bantul Ditutup Sementara Buntut Puluhan Murid Keracunan MBG

SPPG di Jetis Bantul Ditutup Sementara Buntut Puluhan Murid Keracunan MBG

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 16 Apr 2026 14:01 WIB
Suasana SMPN 3 Jetis, Bantul, Rabu (15/4/2026).
Suasana SMPN 3 Jetis, Bantul, Rabu (15/4/2026). Foto: dok detikJogja
Bantul -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menyebut satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang menyediakan makan bergizi gratis (MBG) berujung puluhan murid SMPN 3 Jetis diduga keracunan telah tutup sementara. SPPG itu tidak beroperasi hingga waktu yang belum ditentukan.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji mengatakan, bahwa Pemkab memang berharap SPPG tersebut tidak beroperasi terlebih dahulu. Semua itu sembari menunggu penyebab dugaan keracunan itu terungkap.

"Dan sejak kemarin (Rabu 15 April 2026) SPPG-nya mulai tidak beroperasi sementara," katanya saat dihubungi detikJogja, Kamis (16/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait hingga kapan SPPG tersebut tidak beroperasi, Hermawan mengaku belum mengetahuinya. Mengingat kewenangan menutup dan membuka SPPG ada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN).

"Kalau tidak beroperasi sampai kapan itu BGN yang menentukan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Diberitakan sebelumnya, SMPN 3 Jetis, Bantul mengaku sudah tidak menerima kiriman makan bergizi gratis (MBG) pascapuluhan muridnya mengalami gejala keracunan. Saat ini sebagian besar muridnya sudah masuk dan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

"Sejak kemarin kami setop. Kejadian hari Senin (14/4/2026) dan hari Selasa kami setop, karena Senin pagi sekitar jam 8 suasana sudah tidak begitu kondusif, anak-anak banyak yang izin ke toilet," kata Kepala SMPN 3 Jetis, Widodo kepada wartawan di Jetis, Bantul, Rabu (15/4/2026).

Sedangkan dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), Widodo menyebut menghentikan pendistribusian MBG hari ini. Widodo juga mengungkapkan tidak mengetahui hingga kapan penghentian distribusi tersebut.

"Kalau SPPG-nya tidak melakukan pendistribusian MBG mulai hari Rabu (15/6/2026) hingga waktu yang belum dapat ditentukan dari pihak SPPG," ujarnya.

Terkait kondisi murid-muridnya, Widodo mengaku sebagian besar telah mengikuti KBM. Di mana hingga saat ini total murid yang mengalami gejala keracunan mencapai 75 orang.

"Yang kemarin ke Puskesmas itu masih kami izinkan di rumah untuk memulihkan stamina dan psikisnya. Untuk yang tidak ke Puskesmas kami imbau untuk masuk mengikuti KBM," ucapnya.

Selain murid, Widodo mengaku ada puluhan guru yang mengalami gejala keracunan. Pasalnya guru-guru itu ikut menyantap MBG.

"Untuk Guru itu terdampak sekitar 30 orang. Tapi sekarang mereka sudah sehat semua dan melaksanakan tugasnya kembali," katanya.

Menyoal penyebab gejala keracunan, Widodo menduga dari salah satu menu MBG. Namun, untuk memastikannya Widodo mengaku masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan tersebut.

"Dari teman-teman itu yang kemarin mendistribusikan ke anak-anak secara langsung itu sepertinya diduga ayamnya," ucapnya.



(afn/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads